Artikel Terbaru Artikel Terbaru

Inilah Faktor & Tahapan Perkembangan Emosi Anak Usia Dini

Morinaga Platinum ♦ 18 Februari 2022

Tahapan perkembangan emosi anak sejak usia dini juga wajib diperhatikan, tidak hanya soal fisik dan intelektual. Sebab, perasaan juga memegang peranan penting dalam tumbuh kembang Si Kecil. Lalu, apa saja faktor yang mempengaruhi, serta tahapan-tahapan berdasarkan usia, dan contoh-contohnya? Untuk mendapatkan jawabannya, simak artikel ini sampai habis, ya!

Apa itu Perkembangan Emosi?

Kata emosi berasal dari Bahasa Inggris yaitu emoticon yang bermakna perasaan hati manusia. Dalam arti umum, perkembangan emosi adalah perubahan kualitas perasaan hati manusia yang bisa dipengaruhi oleh banyak hal mulai dari usia, lingkungan hingga kondisi mental.

Biasanya perkembangan emosi pada anak usia dini diiringi dengan perkembangan sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain. Seiring bertambahnya usia, perkembangan emosi Si Kecil akan semakin berkualitas sesuai dengan pencarian jati diri. 

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Anak

Reaksi Si Kecil pada segala sesuatu yang terjadi setiap hari akan mempengaruhi perkembangan emosi mereka secara alami. Si Kecil akan berkembang dengan mengetahui apa yang terjadi pada diri sendiri, reaksi orang lain, lingkungan sekitar hingga mengembangkan emosi dalam diri sendiri. Tentu perlu bimbingan dan pendidikan dari orang tua agar Si Kecil bisa meningkatkan perkembangan emosi ke arah yang lebih positif. 

Tidak heran bila ada anak yang mengalami gangguan kesehatan mental karena faktor lingkungan, karakter orang tua dan berbagai hal negatif yang ia alami sejak usia dini. 

Nah, demi menjaga perkembangan emosi Si Kecil agar bisa berkembang lebih baik, sebaiknya Bunda mengetahui beberapa faktor perkembangan emosi anak sesuai rentang usia mereka sebagai berikut:

1. Kesiapan Mental 

Kesiapan mental setiap anak berbeda sesuai dengan usia masing-masing, tetapi anak usia dini sekitar 2-7 tahun akan mengalami tahap perkembangan kognitif seperti egosentrisme cukup kuat, gagasan dan imajinasi baik, pemikiran intuitif yang merangsang tindakan langsung, belum bisa berpikir rasional yang memicu tingkat kenakalan pada usia 4-5 tahun, sikap agresif, dan tantrum.

2. Proses Pembelajaran

Orang tua harus selalu memantau dan mendidik anak sesuai dengan kronologis usia. Keseimbangan emosi bisa mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak lebih matang. Tentu orang tua harus memahami apa yang terjadi dan tidak semata-mata langsung memarahi anak saja. Anak usia dini memang acap kali mengalami tantrum, letupan kemarahan tidak terkendali, menjerit, melempar barang, memukul, berguling, dan lain-lain. Hal ini sangat wajar terjadi.

Bila Si Kecil sudah melakukan tindakan yang terlalu agresif, mengeluarkan kata kasar atau sengaja melanggar perintah dan larangan orang tua, maka langkah terbaik adalah mencoba mengajak Si Kecil berbicara baik-baik. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti tanpa intonasi nada tinggi, serta jangan lupa untuk memberikan contoh konkrit. Pada tahap belajar ini, orang tua perlu mendukung metode trial dan error, meniru, identifikasi, mengkondisikan perilaku dengan lingkungan sekitar, dan berlatih memberi reaksi. 

3. Intelegensi

Anak-anak memiliki tingkat intelegensi yang berbeda sehingga berpengaruh dalam perkembangan emosi sejak usia dini. Jadi, Bunda tidak perlu khawatir jika Si Kecil mengalami tahapan perkembangan emosi yang berbeda dari teman sebayanya.

4. Jenis Kelamin 

Perlu diketahui, perkembangan emosi anak perempuan bisa lebih cepat dibandingkan anak laki-laki. Hal ini sedikit banyak dipicu oleh faktor hormonal, perbedaan peran, dan lingkungan sosial. 

5. Status Ekonomi dan Kondisi Fisik

Perlu dukungan dan peran orang tua yang lebih besar untuk menumbuhkan motivasi serta semangat pada anak yang terlahir dalam kondisi ekonomi kurang memadai atau faktor fisik yang kurang sempurna. Pasalnya, perkembangan emosi anak dengan status ekonomi dan kondisi fisik baik bisa lebih maksimal dibandingkan dengan anak yang mengalami masalah status ekonomi atau faktor ketidakpercayaan pada kondisi fisik tertentu.

6. Pola Asuh 

Pola asuh orang tua atau lingkungan mempengaruhi perkembangan emosi Si Kecil sejak usia dini. Pada orang tua yang memiliki karakter tipe keras, biasanya anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sama, begitu pula dengan tipe pengasuhan lainnya. Setiap orang tua tentu memiliki pertimbangan sendiri dalam mendidik buah hatinya, tetapi Bunda juga harus memperhatikan pola asuh demokratis dan harmonis agar Si Kecil memiliki kecerdasan emosi yang baik. 

Tahapan Perkembangan Emosi Anak Berdasarkan Usia

Berikut contoh tahapan perkembangan emosi anak usia dini yang perlu Bunda cermati.

1. Usia 12 Bulan

Dalam kondisi normal, pada usia 12 bulan umumnya Si Kecil sudah menunjukkan tanda-tanda ketertarikan untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Hal tersebut ditandai usahanya untuk bisa berjalan, semakin komunikatif dengan cara meniru, menunjuk-nunjuk, mencari perhatian, serta belajar protes ketika ada hal yang tidak ia sukai.

2. Usia 18 Bulan

Pada usia 18 bulan, Si Kecil melalui tahap perkembangan emosi dengan menunjukkan perubahan perilaku yang berkebalikan dalam waktu singkat. Si Kecil bisa saja tiba-tiba menjadi sangat agresif, padahal beberapa waktu sebelumnya masih bermain dengan tenang. Namun, Bunda tidak perlu khawatir, inilah cara Si Kecil dalam mengekspresikan perasaan dan mulai belajar untuk mengendalikannya. 

3. Usia 2 Tahun

Kunci dalam memahami perasaan Si Kecil adalah komunikasi yang sehat. Menginjak usia 2 tahun, kelihaian Bunda dalam memahami keinginan serta respon Si Kecil akan banyak diuji, karena pada usia ini biasanya anak akan memiliki sifat agresif serta sering menolak atau berkata tidak. Kuncinya Bunda harus tetap sabar, jangan terpancing emosi.

4. Usia 3-4 Tahun

Pada usia ini, Si Kecil sudah mulai menemukan kenyamanan pada dirinya, aktivitasnya pun sudah semakin beragam karena ia semakin senang bermain dengan teman sebaya. Kendati demikian, Si Kecil masih sering bersikap agresif seperti suka merebut mainan dari temannya.

5. Usia Pra Sekolah

Menginjak usia pra sekolah atau pada usia sekitar 5 tahun, peran orang tua semakin dibutuhkan agar Si Kecil lebih termotivasi untuk belajar. Bunda bisa mengajarkan sedikit demi sedikit terkait pentingnya menaati aturan, bersabar ketika menunggu giliran, hingga berbagi dengan teman.

6. Usia 6 Tahun

Pada fase ini emosi Si Kecil akan semakin matang. Ia akan lebih mudah memahami perasaan yang didapatkan dari orang lain, walaupun di sisi lain perasaannya terkadang juga semakin mudah berubah. 

7. Usia 7-8 Tahun

Seiring bertambahnya usia, emosi Si Kecil semakin stabil. Pada tahap ini, fokus dan perhatian mereka biasanya lebih banyak ke hal-hal eksternal, sehingga Bunda harus siap-siap pusing menuruti setiap keinginan Si Kecil. Terlepas dari itu, pada usia ini Si Kecil juga mulai mengenal empati, rasa bangga, dan malu yang akan semakin matang seiring bertambahnya usia.

8. Usia 9-12 Tahun

Si Kecil akan belajar banyak terkait cara beradaptasi dengan kelompok serta kemampuan sosial pada rentang usia ini. Aktivitasnya yang lebih dominan di sekolah tentu sedikit banyak akan mencerminkan kepribadiannya. Sebagai orang tua, penting bagi Bunda untuk mengenalkan norma atau aturan di masyarakat agar Si Kecil memiliki keterampilan sosial emosional yang baik.

Contoh Perkembangan Emosi Anak 

Contoh perkembangan emosi anak bisa Bunda lihat dari tingkah laku Si Kecil yang awalnya pemalu menjadi lebih berani. Mulai suka bercerita pada orang tua, memiliki rahasia dan berbagi dengan teman sebaya, hingga bisa mengambil keputusan sendiri.

Tentu ada masalah yang kerap dialami Si Kecil selama tahap tumbuh kembang emosi tersebut, seperti mengalami kesulitan belajar, gangguan kecemasan, merasa kurang percaya diri, perilaku yang berubah, dan lain-lain. Bunda harus membantu anak mengendalikan emosi di mana pun berada, ya!

1. Lingkungan Sekolah

Setiap anak memiliki perkembangan emosi yang berbeda, sehingga perlu pengawasan orang dewasa untuk mengoptimalkannya. Pada anak yang menjadi peserta didik di sekolah, peran orang tua digantikan guru selama berada di lingkungan sekolah untuk meningkatkan perkembangan emosi, sosial dan moral mereka. Pada tahapan ini, Si Kecil akan belajar tentang lingkungan sosial, lingkar pertemanan, perkembangan kesadaran pada identitas diri, dan lain-lain.

Selama proses kegiatan belajar mengajar di sekolah, guru akan membantu Si Kecil memiliki perkembangan dalam berbagai aspek lewat metode pendidikan, ceramah, realisasi langsung, pendidikan karakter, sikap dan moral yang baik. Tentu apa yang diajarkan guru harus kembali Bunda tekankan di rumah agar Si Kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang unggul dan positif.

2. Sosial Emosional

Dikutip dari Children’s Therapy and Family Resource Centre, perkembangan emosional anak merupakan salah satu tahap tumbuh kembang untuk bisa mengendalikan emosinya sendiri dan juga untuk berinteraksi dengan orang lain.

Adapun contoh perkembangan sosial emosional anak sendiri meliputi sebagai berikut ini:

  • Mampu membangun hubungan positif dengan orang lain
  • Memahami perasaan dan kebutuhan orang lain
  • Bisa berinteraksi dengan orang lain secara baik
  • Fasih dalam memahami, mengatur serta berekspresi sesuai dengan perasaan pribadi

Tidak bisa dipungkiri, interaksi dengan orang lain sangat mempengaruhi perkembangan sosial emosional Si Kecil, sehingga Bunda harus menjadi rekan yang baik agar Si Kecil mau untuk belajar beradaptasi, memberikan reaksi dan bersikap baik.

Tidak lupa, berikan contoh nyata yang positif agar perkembangan emosi Si Kecil bisa lebih maksimal dan tidak menjadi pribadi yang tertutup atau kurang bergaul dengan teman dan lingkungan sekitar. Semoga bermanfaat ya, Bun!

Lihat Artikel Lainnya