Artikel Terbaru Artikel Terbaru

Perbedaan Muntah dan Gumoh pada Bayi serta Cara Mengatasinya

Morinaga Platinum ♦ 7 Februari 2022

Pada umumnya, gumoh sering terjadi pada Si Kecil. Biasanya, Si Kecil akan mengeluarkan cairan berwarna putih kental dari mulutnya setelah ia minum ASI. Namun, apa itu gumoh pada bayi? Apakah gumoh merupakan suatu hal yang normal? Apa bedanya gumoh dengan muntah? Mari simak lebih lanjut!

Apa itu Gumoh pada Bayi?

Gumoh merupakan aliran balik isi lambung ke dalam kerongkongan dan dikeluarkan melalui mulut yang berlangsung secara involunter (gerakan dari tubuh yang tidak dapat dikendalikan). Gumoh menjadi hal normal yang sering dialami bayi dan menjadi salah satu keluhan yang acapkali disampaikan banyak orang tua ketika sedang berkunjung ke dokter.

Melansir IDAI, sebanyak 80% bayi sehat yang memasuki umur 1 bulan mengalami regurgitasi (campuran antara getah perut dan terkadang makanan yang belum dicerna kembali ke kerongkongan dan masuk ke mulut) paling sedikit 1 kali setiap harinya. Regurgitasi akan meningkat sebesar 40-50% saat bayi berumur 6 bulan, dan ketika bayi sudah berusia 12 bulan akan mengalami penurunan sebanyak 3-5%.

Sekitar 25% orang tua dari bayi yang mengalami regurgitasi tersebut menganggap bahwa regurgitasi sebagai suatu masalah. Isi dari cairan lambung yang masuk ke dalam kerongkongan dapat berupa air liur, makanan atau minuman, asam lambung, pankreas, dan empedu.

Dalam kondisi normal, asam yang terdapat di kerongkongan kemudian dibersihkan melalui gerakan peristaltik (gerakan meremas-remas pada dinding kerongkongan) dari kerongkongan dan produksi air liur yang ditelan setiap saat oleh bayi. Umumnya gumoh jarang ditemukan pada bayi yang berumur di atas 1 tahun. 

Selain itu, gumoh juga tidak menyakitkan bagi Si Kecil dan bahkan kebanyakan bayi tidak menyadarinya. Selama Si Kecil tetap sehat dan berat badannya bertambah, Bunda tidak perlu khawatir karena ini adalah bagian dari proses tumbuh kembangnya.

Tapi, gumoh yang terus berlanjut dengan volume banyak dan frekuensi yang sering dapat meningkatkan paparan asam lambung pada dinding kerongkongan, sehingga merusak dinding kerongkongan atau dalam kondisi medis dikenal dengan esofagitis. 

Umumnya, gejala nyeri akan muncul dikarenakan dinding kerongkongan terpapar asam lambung berlebihan dan dalam waktu yang lama. Biasanya Si Kecil akan mulai gelisah, menangis, dan terkadang sampai menjerit. Selain itu, Si Kecil juga sering menunjukan sikap mengkakukan punggungnya pada saat makan maupun sesudahnya. 

Apabila terjadi peradangan pada lapisan kerongkongan, mungkin akan dijumpai darah pada isi muntahan, nyeri atau gangguan menelan, dan darah pada tinjanya. Gangguan yang berlangsung terus menerus dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan. Gagal tumbuh terjadi bila jumlah masukan nutrisi lebih sedikit dibanding jumlah yang keluar.

Penyebab Gumoh pada Bayi

Ketika sedang menyusu, ASI yang dihisap oleh Si Kecil akan masuk melalui bagian belakang tenggorokannya dan turun ke kerongkongan. Kemudian, cincin otot yang menghubungkan kerongkongan dan perut akan terbuka.

Kemudian, ASI akan mengalir melalui kerongkongan dan menuju ke perut. Pada saat yang sama pula, cincin yang disebut sfingter esofagus bagian bawah akan menutup kembali.

Akan tetapi, dalam beberapa kasus cincin tersebut tidak menutup sehingga ASI dapat naik kembali ke kerongkongan hingga mulut bayi. Hal inilah yang menyebabkan gumoh pada bayi. Selain itu, sendawa, makan terlalu banyak, dan menelan terlalu banyak udara juga menyebabkan terjadinya gumoh.

Gumoh pada bayi juga dapat disebut sebagai refluks. Kondisi ini biasa terjadi di awal kelahiran, dan akan berhenti ketika Si Kecil berusia 1 tahun. Gumoh menjadi hal yang sangat wajar dialami bayi, karena perutnya yang sangat kecil.

Perbedaan Gumoh dan Muntah pada Bayi

Meskipun gumoh adalah hal yang normal, tetapi banyak orang tua yang khawatir dan sulit membedakan antara gumoh dan muntah.

Dilansir dari klikdokter, gumoh dapat keluar dengan sendirinya, sehingga tidak ada usaha dan kontraksi otot perut. Sedangkan muntah, ada usaha dari bayi sehingga ia mungkin akan mengeluarkan suara 'uek' dan otot perut Si Kecil juga ikut berkontraksi.

Biasanya muntah ditandai dengan banyaknya jumlah cairan yang dikeluarkan kembali melalui mulut. Selain itu, biasanya bayi juga menunjukkan tanda-tanda kesusahan saat muntah seperti tangisan atau gerak tubuh yang menggambarkan kesakitan. Muntah pada bayi dapat disertai dengan demam atau penurunan nafsu makan.

Dilansir dari IDAI, muntah bisa menjadi tanda atau indikasi terkena penyakit refluks atau gastroesophageal reflux disease, usus tersumbat, infeksi pada telinga, infeksi pada usus, infeksi paru, peradang otak, dan alergi terhadap protein.

Apabila refluks dari isi lambung memicu adanya gejala atau komplikasi, maka dinamakan sebagai gastroesophageal reflux (GERD). Dalam hal ini, gumoh atau muntah berkaitan dengan penurunan berat badan, sering rewel, menangis tanpa henti, menolak makanan, dan gangguan napas kronik pada Si Kecil. Oleh sebab itu, kondisi ini sangat diperlukan pemeriksaan lanjutan dan penanganan dokter.

Cara Mengatasi Gumoh pada Bayi

Meskipun gumoh adalah hal yang wajar terjadi pada bayi, ternyata gumoh pada bayi juga dapat diatasi loh, Bun. Berikut adalah caranya:

Posisikan Tubuh Si Kecil Agar Tetap Tegak Sesudah Makan

Bunda perlu untuk memposisikan tubuh Si Kecil agar tetap tegak selama kurang lebih 30 menit, tujuannya supaya makanan atau ASI yang baru dikonsumsinya tidak keluar dari lambung. Apabila Bunda lelah dan ingin membuat Si Kecil berbaring, maka Bunda perlu menyusun beberapa bantal untuk menyangga tubuh Si Kecil agar tetap tegak.

Hindari Tekanan pada Perut Bayi

Memastikan tidak ada tekanan di bagian perut bayi, minimal diberi waktu selama 30 menit sesudah makan agar tidak gumoh. Tekanan ini juga termasuk pemakaian celana atau popok yang sangat ketat. Pasalnya celana atau popok yang ketat dapat menekan perut Si Kecil, sehingga gumoh pada bayi dapat terjadi.

Bantu Si Kecil Bersendawa

Setelah menyusu, usahakan untuk membuat Si Kecil bersendawa agar udara yang terlanjur masuk dapat keluar kembali. Untuk membantu Si Kecil bersendawa, Bunda dapat menyandarkan tubuhnya ke dada agar posisinya tegak, tetapi pastikan perut Si Kecil tidak tertekan ya, Bun.

Perhatikan Lubang Dot

Apabila bayi menyusu dengan botol, Bunda perlu memastikan lubang pada dot. Lubang yang  besar akan mengakibatkan Si Kecil menyusu lebih dari kebutuhannya dan berisiko tersedak. Sementara itu, lubang dot yang terlalu kecil juga dapat mempersulit bayi ketika menyusu dan menelan banyak udara. Maka, Bunda perlu memastikan agar lubang dot tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil, ya.

Menyusui di Ruangan yang Tenang

Bunda perlu mencari tempat yang tenang dan terbebas dari gangguan, sehingga Si Kecil dapat menyusu dengan nyaman. Ruangan yang ramai bisa membuat Si Kecil panik saat sedang menyusu. Akibatnya, ketika menyusu dalam keadaan panik, bayi akan banyak menelan udara bersama susu yang masuk. Hal ini tentu saja dapat menyebabkan gumoh pada bayi setelah menyusu.

 

Demikianlah penjelasan tentang gumoh pada bayi, perbedaannya dengan muntah dan cara mengatasinya. Semoga artikel ini bermanfaat ya, Bun!

Lihat Artikel Lainnya