Kiat Tangani Si Kecil yang Terlalu Aktif

Oleh: Morinaga Platinum

Si Kecil tidak bisa diam? Ayah dan Bunda tidak sendiri. Cukup banyak orangtua yang kewalahan menghadapi Si Kecil yang terlalu aktif. Ia selalu ingin melakukan aktivitas, misalnya berlari, melompat, bermain, atau mengeksplor rumah hingga berantakan. Tentunya ini membuat Ayah dan Bunda juga lingkungannya merasa repot. Tingkah polah yang terlalu aktif ini juga sering membuat repot saat sedang berada di luar rumah.

Ayah dan Bunda perlu memahami bahwa Si Kecil yang aktif bukan berarti ia memiliki kondisi attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Anak dengan ADHD memiliki gejala perilaku hiperaktif dan cenderung impulsif yang disertai dengan kurangnya konsentrasi. Oleh karena itu, anak dengan ADHD sering mengalami gangguan belajar karena sulit fokus.

Anak yang aktif memiliki kecerdasan kinestetis yang tinggi, sehingga cenderung tidak bisa diam tetapi masih dapat fokus saat sedang belajar. Dengan kata lain, tingkah aktif bukanlah suatu kondisi khusus. Namun, memang Ayah dan Bunda harus mengetahui cara mengasuh dan mendidik Si Kecil terlalu aktif dengan tepat.

Setiap anak adalah individu yang memiliki sifat dan perilaku berbeda. Dalam mengasuh dan mendidik Si Kecil, Ayah dan Bunda harus bisa menyesuaikan diri dengan gaya belajarnya. Satu anak tidak boleh disamakan atau dibandingkan dengan anak yang lainnya, apalagi mengenai proses belajar dan gaya belajarnya.

Gaya belajar adalah cara individu menyerap informasi. Memahami gaya belajar Si Kecil dapat membantu Ayah dan Bunda menstimulasi kecerdasannya agar optimal. Gaya belajar yang ada antara lain gaya  belajar visual (penglihatan), gaya belajar auditorik (pendengaran), dan gaya belajar dengan kinestetis (gerakan).

Tiap individu dikaruniai ketiga gaya belajar tersebut (nature). Namun, perkembangan masing-masing gaya belajar ini dipengaruhi oleh pengalaman juga stimulasi dari lingkungan (nurture), sehingga ada gaya belajar yang berkembang lebih dominan.

Si Kecil yang aktif cenderung lebih cocok dengan gaya belajar kinestetis. Gaya belajar kinestetis mengharuskannya lebih banyak bergerak, serta berinteraksi dengan obyek pembelajaran. Ayah dan Bunda perlu mencari berbagai aktivitas positif yang bisa dilakukan Si Kecil. Misalnya jika Bunda sedang memasak, libatkan Si Kecil untuk mengerjakan pekerjaan yang mudah, sehingga ia tidak mengganggu aktivitas yang sedang dilakukan Bunda. Untuk aktivitas luar ruang, pilih aktivitas yang dapat memenuhi keinginan Si Kecil untuk bergerak, seperti bermain di taman atau berenang.

Untuk belajar, Si Kecil dengan gaya belajar kinestetis lebih suka belajar dengan mempraktikkan langsung hal-hal yang dipelajarinya. Ayah dan Bunda bisa menggunakan alat peraga atau ajarkan Si Kecil dengan langsung mempraktikkannya. Misalnya saat anak sedang belajar matematika, gunakan mainan-mainan berbentuk angka.

Hal yang tidak kalah penting lagi adalah gaya pengasuhan Ayah dan Bunda. Ada empat jenis pola asuh yaitu authoritarian (otoriter), authoritative (demokratis), uninvolved (tidak terlibat), dan indulgent (permisif). Keempat pola asuh tersebut dapat diterapkan secara bergantian sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Ketika Si Kecil sedang mendekati bahaya, pola asuh authoritarian bisa diterapkan. Ini merupakan cara yang efektif untuk menerapkan pola asuh kepada Si Kecil.

Perlu diingat oleh Ayah dan Bunda dalam mengasuh Si Kecil yang kinestetis adalah hindari memarahi atau menghukumnya karena ia tidak bisa diam. Ini akan memengaruhi kondisi mentalnya. Sebaiknya berikan pengertian kapan Si Kecil harus diam, seperti saat di kelas, di bioskop atau di tempat umum lainnya agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain.

Dengan pola asuh dan gaya belajar yang tepat, Si Kecil yang terlalu aktif akan tumbuh menjadi anak yang cerdas di masa mendatang.

Milestone Lainnya