Kenali ADHD pada Anak dan Penanganannya

Oleh: Morinaga Platinum

16 Oktober 2020

Bun, apakah pernah dengar istilah ADHD? Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau yang biasa disingkat ADHD adalah gangguan saraf yang menyebabkan gangguan perilaku dan sering terjadi pada anak-anak. Biasanya gangguan perilaku ini ditandai dengan perilaku hiperaktif, impulsif, dan susah fokus.

Gejala ADHD pada anak-anak umumnya muncul sebelum usia 12 tahun. Tapi dalam beberapa kasus, gejala ADHD dapat terlihat sejak usia 3 tahun. Gejala ADHD biasanya akan terlihat semakin mencolok seiring bertambahnya usia Si Kecil, khususnya ketika ia mulai masuk sekolah atau di awal masa pubertas. Namun tak jarang, gejala ADHD baru muncul ketika seseorang sudah dewasa.

ADHD adalah gangguan perilaku yang sangat umum terjadi pada anak-anak. Walaupun gejala ADHD biasanya muncul pada masa anak-anak, gejala yang ditimbulkan bisa menetap hingga masa remaja dan dewasa. Biasanya gejala ADHD lebih umum dijumpai pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

ADHD memiliki tiga tipe, yaitu:

  • Dominan Hiperaktif-Impulsif

Anak dengan ADHD yang lebih dominan hiperaktif-impulsif biasanya memiliki masalah hiperaktivitas dan perilaku impulsif. Anak dalam kondisinya ini biasanya tidak bisa diam, terlalu banyak bicara, sering gelisah dengan mengetukan tangan atau kaki, kesulitan menunggu giliran saat mengantri, dan sering melakukan interupsi terhadap orang lain.

  • Dominan Inatensi

Anak dengan ADHD dengan tipe dominan inatensi biasanya tidak dapat memperhatikan dengan baik. Biasanya anak dengan ADHD tipe ini sulit untuk mendengarkan percakapan orang lain dan juga sulit menerima arahan orangtua atau guru di sekolahnya.

  • Kombinasi Hiperaktif-Impulsif dan Inatensi

Anak dengan ADHD ini biasanya memiliki kombinasi gejala ADHD yang paling umum yaitu hiperaktif, impulsif, dan tidak memperhatikan.

Baca juga: Kiat Tangani Si Kecil yang Terlalu Aktif

Gejala ADHD

Gejala ADHD bisa jadi berbeda pada setiap anak dan dapat berubah dari waktu ke waktu tergantung dengan usia. Pada anak dengan ADHD, hiperaktif-impulsif adalah gejala yang paling dominan. Ketika mereka mulai memasuki usia sekolah, biasanya gejala kekurangan perhatian dan sulit memperhatikan akan lebih menonjol sehingga menyebabkan anak perlu penanganan ekstra dalam proses belajar. Namun secara umum, biasanya gejala ADHD pada anak meliputi:

  1. Sulit fokus

Anak-anak dengan ADHD sangat kesulitan untuk memusatkan perhatian dan mempertahankan konsentrasi pada suatu hal. Hal ini biasanya akan menganggu anak dalam proses belajar dan juga mengganggu prestasinya di sekolah. Anak dengan ADHD juga sering terlihat seperti tidak mendengarkan pembicaraan atau arahan, bahkan ketika diajak berbicara langsung.

  1. Hiperaktif

Salah satu ciri ADHD yang paling mudah diidentifikasi adalah hiperaktif. Biasanya anak dengan ADHD akan sulit untuk duduk tenang atau menunggu giliran. Anak dengan ADHD juga cenderung terburu-buru dalam melakukan segala hal sehingga mudah melakukan kesalahan. Hal ini dapat membuat anak dengan ADHD menjadi lebih mudah cedera karena mereka cenderung tidak bisa diam dan ceroboh.

  1. Impulsif

Anak-anak dengan ADHD seringkali bertindak impulsif atau sering melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang. Hal membuat mereka sering melakukan sesuatu tanpa izin sehingga dapat membahayakan dirinya dan orang lain. Tak jarang, anak ADHD sering menganggu aktivitas yang dilakukan orang lain.

  1. Pelupa

Gejala lain dari ADHD adalah pelupa. Sering lupa memang wajar dialami oleh anak-anak, namun pada anak yang mengalami ADHD, mereka akan mudah sekali lupa hampir pada setiap saat. Biasanya anak ADHD sering lupa dengan PR, tugas sekolah bahkan dengan barang-barang atau mainan yang dimilikinya.

  1. Sering melamun

Walaupun anak dengan ADHD sering ditandai dengan gejala hiperaktif, pada kondisi tertentu anak dengan ADHD justru menjadi lebih pendiam dan sering menghindari teman-temannya. Iaakan cenderung lebih suka melamun dan mengabaikan semua hal yang terjadi di sekelilingnya.

Penyebab ADHD

Walaupun penyebab ADHD belum diketahui secara pasti, namun beberapa penelitian menunjukkan risiko ADHD pada anak dapat meningkat akibat beberapa faktor berikut ini:

  • Faktor genetik dari orangtua atau saudara dengan ADHD atau gangguan mental lain.
  • Kelahiran prematur atau lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu.
  • Kelainan pada struktur atau fungsi otak.
  • Kerusakan otak sewaktu dalam kandungan
  • Ibu menggunakan NAPZA (Narkotika, Psikoropika, dan Zat adiktif), mengonsumsi minuman berakohol, atau merokok selama masa kehamilan.
  • Ibu mengalami stres sewaktu hamil.

Baca juga: Dampak Depresi Pada Janin Saat Bunda Hamil

Penanganan ADHD

Jika Si Kecil menunjukan gejala-gejala ADHD, sebaiknya Bunda melakukan pengamatan lebih lanjut terlebih dahulu. Tak hanya mengamatinya di rumah, Bunda juga bisa meminta laporan pengamatan dari guru Si Kecil di sekolah. Setelah itu, tunjukkan laporan pengamatan ini pada dokter anak atau psikolog untuk ditangani lebih lanjut.

Untuk membantu dokter menentukan diagnosis, Si Kecil perlu menjalani beberapa tes kesehatan, seperti tes penglihatan dan pendengaran. Selain itu, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan, perilaku, dan aktivitas anak melalui sesi tanya jawab dengan orangtua.  Jika diperlukan, dokter anak atau psikolog mungkin akan merekomendasikan anak untuk diperiksakan ke dokter spesialis atau psikiater.

Walaupun tidak dapat disembuhkan sepenuhnya,gejala ADHD dapat diredakan dengan perawatan dan dukungan orangtua serta orang-orang terdekat Si Kecil. Perawatan ADHD biasanya meliputi pemberian obat, terapi perilaku, dan bimbingan pada orangtua.

Milestone Lainnya