Diare pada Anak? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Secara Tepat

Morinaga Platinum ♦ 3 Agustus 2021

Sebagai orang tua tentu akan merasa khawatir jika Si Kecil mengalami diare. Lantas, apa sih cara tepat yang harus dilakukan oleh Bunda untuk mengatasinya?

Sebelum membahas lebih lanjut, apa sih yang dimaksud dengan diare pada anak? Diare adalah kondisi penyakit yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi buang air besar atau BAB Si Kecil menjadi 3 kali atau lebih dalam sehari dan dengan tinja yang lebih cair.

Menurut penelitian yang dikemukakan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2015, terdapat sekitar 525.000 anak balita meninggal setiap tahunnya akibat diare. Meskipun data yang diungkapkan terdengar cukup menghebohkan, Bunda tak perlu khawatir jika mengetahui langkah penanggulangan diare dengan tepat. Dengan begitu, diare dapat segera teratasi dan tidak menimbulkan resiko yang lebih besar.

Penyebab Diare pada Anak

Jenis penyebab diare pada anak memang ada banyak macamnya. Secara etimologi, penyebab dari penyakit atau gangguan kesehatan berupa diare pada anak menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) bisa terjadi akibat infeksi virus, bakteri, dan parasit.

Dilansir dari laman resmi Rumah Sakit Pondok Indah, rotavirus merupakan penyebab utama diare infeksi pada anak sebesar 60 hingga 70%. Sementara, sekitar 10 hingga 20% penyebab lainnya adalah bakteri, dan kurang dari 10% adalah parasit.

Faktor yang menjadi pemicu utama diare pada anak adalah kebersihan lingkungan, sanitasi, hingga higienitas pengolahan makanan yang buruk. 

Selain itu, diare pada anak juga bisa tercetus karena alergi, keracunan makanan, gangguan penyerapan makanan, serta efek samping obat.

Gejala Diare pada Anak

Dibandingkan orang dewasa, anak-anak cenderung lebih rentan mengalami dehidrasi. Apalagi saat diare tidak ditangani, hal ini bisa menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi berat dapat menimbulkan penurunan kesadaran, kejang, kerusakan otak, bahkan kematian pada anak. Berikut ini adalah gejala atau tanda-tanda diare pada anak yang perlu diwaspadai oleh orang tua.

  1. Intensitas buang air besar (BAB) yang lebih sering
  2. Mencret atau feses yang tidak padat, cenderung encer
  3. Tubuh menjadi lemas
  4. Wajah tampak pucat
  5. Mata cekung
  6. Mengalami rasa haus secara terus menerus
  7. Mulut dan bibir menjadi kering
  8. Tubuh terasa dingin
  9. Jumlah urine sedikit atau berubah warna menjadi kuning pekat kecokelatan
  10. Saat menangis, air mata hanya sedikit atau tidak ada sama sekali
  11. Terus-menerus mengantuk

Gejala-gejala diare pada Si Kecil tadi juga bisa disertai dengan perut kembung, mual, muntah, demam, nyeri perut, dan lemas. Saat diare, tubuh anak akan kehilangan cairan dan elektrolit dengan sangat cepat. Hal ini disebabkan oleh sulitnya saluran cerna untuk menyerap cairan dan elektrolit.

Cara Mengatasi Diare di Rumah

Lantas, bagaimana cara mengatasi diare pada anak di rumah, sebelum perlu membawanya ke dokter? Berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa orang tua lakukan.

1. Pastikan Kebutuhan Cairan Anak Tercukupi

Salah satu cara mengatasi diare pada anak bayi berusia 1 tahun atau lebih di tahap awal adalah dengan memastikan kebutuhan cairannya tercukupi. Sementara jika usia Si Kecil masih di bawah 6 bulan, Bunda bisa memberikan ASI setiap kali ia muntah atau diare.

Cairan Rehidrasi Oral (CRO) sangat disarankan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),  dimana cairan tersebut juga dikenal dengan nama oralit. Oralit adalah salah satu obat diare yang mengandung air dan elektrolit, dimana cairan tersebut dapat mencegah dan mengatasi dehidrasi saat Si Kecil sedang mengalami diare.

2. Perhatikan Makanan yang Mudah Dicerna Bagi Si Kecil

Jika Si Kecil yang sudah diberi MPASI, pastikan asupan nutrisi dari makanan cukup. Namun, pastikan makanan yang diberikan memiliki tekstur lembut agar mudah dicerna, seperti nasi putih lembut, pisang, serta berbagai rebusan daging, ayam, atau ikan.

Hindari memberikan makanan berserat atau jus buah yang justru akan dapat memperparah diare.  Jangan berikan makanan yang pedas, makanan olahan, makanan siap saji, maupun sayur-sayuran yang mengandung gas, seperti brokoli, sayuran hijau, paprika, jagung, dan kacang polong.

Pilih produk susu yang tepat dan cocok bagi Si Kecil karena pemilihan susu yang tidak sesuai akan memperlambat penyembuhan diare bagi anak.

3. Beri Obat Sesuai dengan Saran Dokter

Hindari pemberian obat bagi Si Kecil tanpa rekomendasi & konsultasi dari dokter terlebih dahulu. Hal tersebut mengingat sebagian besar diare pada anak disebabkan oleh virus, maka obat-obatan berbasis antibiotik sebenarnya tidak perlu diberikan.

Antibiotik hanya akan perlu diberikan jika diare tersebut disebabkan oleh bakteri. Namun, sebenarnya, diare akibat infeksi virus dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu beberapa hari. Di samping itu, pemberian antibiotika yang tidak tepat justru akan memperpanjang keadaan diare akibat disregulasi mikroflora usus. 

Dilansir artikel Langkah Pertama Mengatasi Anak Diare yang dirilis Klikdokter, Bunda sebaiknya makanan berlemak tinggi, karena lebih sulit diserap dan bisa bikin keluhan semakin buruk. Makanan yang disarankan untuk Si Kecil saat diare adalah nasi, kentang, roti, gandum, daging tanpa lemak dan yoghurt

Meski upaya untuk mengatasi diare pada anak telah dilakukan, tetap konsultasikan pada dokter sembari memantau kondisi Si Kecil selama masa diare hingga masuk ke fase pasca pemulihan.

4. Selalu Pantau Kondisi Kesehatan Si Kecil

Jika gejala diare pada anak semakin berat atau terdapat gejala lainnya, seperti sesak napas, BAB berdarah, kejang, atau pingsan, orang tua wajib mewaspadainya. Segera bawa Si Kecil ke rumah sakit atau klinik terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Orang tua perlu memantau perkembangan kesehatan Si Kecil selama ia menderita diare. Ketika terdapat tanda-tanda seperti wajah terlihat pucat, mata terlihat cekung, demam tinggi, timbul ruam pada tubuh, atau diare pada anak lebih dari tiga hari, maka sesegera mungkin untuk membawanya ke dokter.

IDAI menyatakan bahwa pengamatan klinis merupakan langkah awal yang amat penting dalam penanganan diare pada anak, terutama untuk memantau tingkat dehidrasi yang dialami oleh Si Kecil. Kondisi dehidrasi berat akibat diare pada anak juga akan menyebabkan gejala berupa napas yang cepat dan dalam, lemas, kesadaran menurun, denyut nadi cepat, serta kekenyalan kulit sangat menurun. 

Nah, Bunda perlu tahu bahwa jika diare pada anak telah sampai pada tahap ini, Si Kecil harus disegerakan untuk mendapatkan cairan rehidrasi atau penanganan intensif.

Pencegahan Diare pada Anak

Orang tua perlu melakukan langkah-langkah pencegahan yang efektif agar Si Kecil tidak mengalami diare. Nah, berikut ini adalah cara pencegahan diare pada anak yang dapat dilakukan.

  1. Selalu jaga kebersihan lingkungan, terutama sumber air minum.
  2. Pastikan air dan makanan yang dikonsumsi bersih dan matang.
  3. Biasakan anak untuk rajin mencuci tangan, seperti sebelum dan sesudah makan, setelah buang air kecil atau buang air besar, serta setelah memegang benda kotor.
  4. Berikan air susu ibu atau ASI pada anak berusia kurang dari 2 tahun untuk meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuhnya.
  5. Pastikan anak mendapat asupan makanan yang bergizi dan bermanfaat untuk pencernaannya.
  6. Berikan anak vaksin rotavirus untuk mencegah penyakit gastroenteritis.

Itulah panduan lengkap seputar diare pada anak yang wajib diketahui oleh para orang tua. Kini Bunda, tidak perlu panik lagi apabila Si Kecil tiba-tiba mengalami diare. Satu hal yang pasti, dengan memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup, tentunya diare yang dialami Si Kecil bisa lebih cepat ditangani sedini mungkin.

Seperti yang telah dibahas sebelum, diare pada anak memang bisa juga disebabkan oleh hal-hal lain. Apabila penyebabnya berupa alergi atau penyakit tertentu, sebaiknya langsung konsultasikan kepada dokter mengenai cara pencegahan yang paling sesuai dengan kondisi Si Kecil.

Lihat Artikel Lainnya