Cara Menyimpan ASI Perah dengan Benar dan Menghangatkannya

Oleh: Morinaga Platinum

15 Oktober 2021

Bagi Bunda menyusui yang beraktivitas di luar rumah, memerah air susu ibu atau ASI dipilih sebagai langkah agar asupan gizi Si Kecil di rumah tetap terpenuhi. Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk mengetahui cara menyimpan ASI perah dengan tepat dan benar.

Ada beberapa pilihan tempat untuk menyimpan ASI perah agar tetap awet, misalnya botol kaca, botol plastik dengan label non-toxic atau bebas bahan berbahaya, hingga kemasan plastik khusus untuk ASI.

Di samping itu, cara penyimpanan air susu ibu yang sudah diperah pun juga harus mengikuti panduan yang tepat agar ASI tidak rusak dan aman untuk dikonsumsi bayi. Lantas, bagaimana sih cara tepat untuk menyimpannya? Yuk, simak tips berikut ini.

1. Gunakan Botol atau Plastik Khusus ASI

Agar kualitas ASI yang disimpan tidak terpengaruh, Bunda wajib menghindari penyimpanan ASI perah dalam kemasan botol atau plastik yang biasa digunakan untuk keperluan umum.

Oleh karena itu, pilihlah botol berbahan kaca maupun plastik khusus yang sudah terjamin kualitasnya dan bebas dari bahan-bahan berbahaya atau bahan bebas bisphenol A (BPA).

2. Selalu Jaga Kebersihan Kemasan dan Tangan

Sebelum menyimpan ASI di dalam botol atau kemasan yang akan didinginkan atau dibekukan, cara menyimpan ASI perah yang perlu Bunda perhatikan adalah dengan memastikan kebersihannya.

Nah, Bunda juga perlu mencuci bersih botol dan mengeringkannya. Bunda pun dapat melakukan sterilisasi dengan menggunakan alat sterilisasi elektrik atau UV sterilizer. Pastikan Bunda telah melakukan pengecekan keamanan dan ketahanan kemasan pada label, terutama ketika melakukan sterilisasi botol yang terbuat dari bahan kaca yang lebih berisiko untuk pecah.

Selain dengan alat, Bunda juga dapat mensterilkan botol secara manual dengan merebus botol dan bagian pompa ASI yang bersentuhan dengan kulit di dalam air panas yang mendidih selama sekitar 5 hingga 10 menit.

ASI dapat diperah menggunakan tangan maupun dengan bantuan alat. Alat perah ASI pun ada yang manual dan juga elektrik. Jadi, selain mengetahui cara memompa ASI yang benar dan menjaga kebersihan alat, pastikan juga tangan Bunda sudah dicuci dengan sabun sebelum memerah atau memegang botol dan kemasan susu.

3. Pastikan Cara Penyimpanannya Sudah Benar

Cara menyimpan ASI yang benar setelah dipompa adalah dengan memasukkan langsung botol tersebut  ke dalam freezer. Pastikan pula bahwa isi pada botol atau plastik kemasan tidak terlalu penuh.

Cara menyimpan ASI dapat dilakukan di botol dot yang tepat, dimana Bunda dapat menyisakan ruang sekitar 2,5 cm dari tutup botol karena ASI perah cenderung mengembang dalam keadaan membeku. Kemudian, segera dinginkan ASI dalam kurang dari satu jam setelah dipompa dari payudara.

Namun, untuk ASI perah yang tidak ingin langsung dibekukan, tempatkan lagi kemasan plastik penampung ASI perah ke dalam kontainer atau kotak kemasan lain. Pasalnya, kemasan plastik lebih berisiko mengalami kebocoran.

Jangan tuang ASI ke dalam cetakan batu es atau ice cube dan menaruhnya ke dalam freezer. Sebab, tempat tersebut memiliki rongga terbuka yang memungkinkan bakteri masuk dan merusak kualitas ASI.

4. Cantumkan Waktu Perah dan Penyimpanan

Setelah ASI sudah berhasil diperah, Bunda juga jangan sampai lupa untuk memberikan label yang berisi tanggal hingga jam ASI tersebut diperah, baik pada botol maupun plastik kemasannya.

Pemberian tanggal pemerahan ASI wajib dicantumkan untuk memastikan bahwa ASI yang akan dipakai adalah ASI yang lebih lama.

5. Pastikan ASI yang Disimpan adalah ASI Segar

Untuk menjaga kualitas ASI yang diberikan, salah satu cara menyimpan ASI yang wajib Bunda lakukan adalah dengan tidak menyimpan sisa ASI yang sudah dikonsumsi untuk pemberian berikutnya.

Selain itu, pastikan juga untuk tidak mencampurkan ASI yang telah dibekukan dengan ASI yang masih baru pada wadah penyimpanan.

6. Bagi ASI dalam Porsi Sedikit atau Sekali Minum

Bagi ASI ke dalam jumlah yang lebih sedikit. Dengan begitu, Bunda dapat menghangatkan ASI ketika akan diberikan dalam ukuran satu porsi dalam sekali minum. Sebab, susu yang tidak habis harus langsung dibuang karena tidak baik untuk disimpan kembali.

7. Usahakan Miliki Kulkas Khusus Penyimpanan ASI

Tentu saja tidak semua memiliki kulkas khusus untuk menyimpan ASI. Namun, ada baiknya Bunda mengusahakan untuk memisahkan penyimpanan ASI dengan kulkas biasa.

Pasalnya, menumpuk ASI secara bersamaan dengan bahan makanan lain di dalam kulkas lebih rentan terpapar oleh bakteri. Misalnya, ketika ASI disimpan secara bersamaan dengan daging segar yang juga sedang dibekukan di dalam freezer.

Meski ASI yang dipompa sudah steril, higienitasnya pun menjadi diragukan karena ditempatkan secara berdekatan dengan benda-benda lainnya yang belum terjamin kebersihannya.

8. Perhatikan Waktu Penyimpanan

Cara menyimpan ASI perah dapat ditentukan berdasarkan kegunaannya. Jika ASI yang telah diperah akan digunakan dalam waktu dekat, Bunda lebih baik memasukkannya ke dalam lemari pendingin biasa yang tidak akan membuat beku.

Keawetan ASI perah dapat disimpan dalam jangka waktu hitungan jam hingga bulan, tergantung dari suhu penempatannya. Beberapa prinsip penyimpanan ASI yang harus Bunda ketahui adalah sebagai berikut:

  • ASI perah dapat bertahan hingga 6 jam jika dibiarkan pada suhu ruangan, asalkan cara menyimpan ASI tanpa kulkas ini dilakukan pada temperatur sekitar 25 derajat Celcius
  • ASI perah dapat bertahan hingga 24 jam jika disimpan di dalam kotak pendingin yang ditambah kantong es atau ice pack untuk mengurangi risiko kerusakan penyimpanan ASIP saat mati listrik
  • ASI perah dapat bertahan hingga 5 hari apabila disimpan pada kulkas bagian lemari pendingin dengan suhu minimal 4 derajat Celcius
  • ASI perah dapat bertahan hingga 6 bulan jika disimpan beku di dalam freezer dengan suhu -18 derajat Celcius atau lebih rendah lagi

Perlu diketahui, proses pembekuan ASI perah dapat saja menghilangkan beberapa zat yang penting untuk menghalau infeksi pada bayi.

Makin lama penyimpanan ASI tersebut, entah dengan didinginkan atau dibekukan, makin tinggi pula kemungkinan hilangnya kandungan vitamin C pada ASI. Walaupun begitu, ASI perah yang sudah dibekukan tetap memiliki nilai gizi yang jauh lebih baik ketimbang susu formula.

Ketahui Juga Cara Mencairkan ASI Perah dengan Baik

Lalu, bagaimana sih cara menyajikan asi perah beku dengan benar? Berikut adalah beberapa hal yang dapat Bunda lakukan:

1. Cek Label Tanggal dan Dahulukan Stok Lama

Sebelum mengeluarkan ASI, cek dulu tanggal pada label wadah ASI. Pastikan Bunda menggunakan ASI yang sudah terlebih dulu disimpan.

2. Gunakan Alat Penghangat ASI Elektrik

Salah satu cara untuk mencairkan ASI perah yang dibekukan adalah dengan menggunakan penghangat ASI elektrik. Alat ini bisa digunakan secara portable, baik di rumah atau di dalam mobil.

3. Gunakan Panci atau Mangkuk Berisi Air Hangat

ASI tidak harus dihangatkan. Beberapa ibu memberikannya dalam keadaan dingin.

Namun, ibu juga dapat menerapkan cara terbaik untuk menghangatkan ASI yang dingin, yakni dengan menghangatkan wadah ASI dalam bak berisi air hangat atau air dalam panci yang telah dipanaskan selama beberapa menit. Jangan menghangatkan ASI dengan api kompor secara langsung.

4. Tempatkan Kemasan di Bawah Air Mengalir

Jika dibutuhkan segera, tempatkan kemasan di bawah air mengalir dengan suhu sedang, kemudian lanjutkan dengan air hangat. Aduk dan utar kontainer ASI agar tidak mengendap dan bagian yang mengandung krim pada bagian atas dapat tercampur secara merata. Jangan mengocok ASI karena dapat merusak komponen penting di dalamnya.

Periksa suhu ASI yang sudah sesuai atau belum untuk Si Kecil dengan meneteskannya ke pergelangan tangan. Jika suhu sudah sesuai, Bunda dapat sesegera mungkin untuk memberikan ASI perah tersebut dengan dot pada Si Kecil.

5. Jangan Langsung Dikeluarkan dalam Suhu Ruang

ASI yang telah dibekukan sebaiknya tidak langsung dikeluarkan dalam suhu ruang. Letakkan terlebih dahulu di ruang pendingin pada kulkas, kemudian hangatkan sebagaimana cara di atas untuk meningkatkan suhunya secara perlahan.

6. Hindari Penggunaan Microwave

Hindari menghangatkan atau mencairkan ASI dingin maupun beku dengan microwave. Pasalnya, piranti ini dapat memunculkan bintik-bintik pada botol ASI akibat suhu panas yang kemungkinan membahayakan Si Kecil.

Selain itu, perubahan suhu atau temperatur yang terlalu cepat pada ASI perah juga dapat menghilangkan kandungan antibodi yang dibutuhkan oleh bayi.

7. Segera Beri ASI yang Sudah Dicairkan

Cara memberikan ASI perah yang sudah dihangatkan adalah dengan langsung memberikannya dalam kurun waktu 24 jam. Bunda dapat secara langsung menuangkannya ke dalam botol dot untuk diberikan pada Si Kecil.

Pastikan juga ibu tidak membekukan ulang ASI perah yang sudah dihangatkan.

Memang, ASI yang diberikan dengan menyusui bayi secara langsung memiliki kandungan nutrisi terbaik dan gizi lebih tinggi dibandingkan ASI perah. Akan tetapi, ada kalanya berbagai situasi dan kondisi pun tidak memungkinkan bagi Bunda untuk selalu memberi ASI secara langsung, kini tak perlu takut untuk mencukupi kebutuhan gizi Si Kecil.

Morinaga Platinum MoriCare Triple Bifidus dapat menjadi alternatif yang dapat Bunda berikan kepada Si Kecil. Susu pertumbuhan ini dilengkapi dengan probiotik Triple Bifidus, dimana mengandung 3 bakteri baik yakni Bifidobacterium Longum BB536 untuk meningkatkan penyerapan nutrisi dan mencegah infeksi saluran napas, Bifidobacterium Breve M-16V untuk mencegah diare dan mencegah infeksi pada saluran cerna serta Bifidobacterium Infantis M-63 yang berfungsi untuk mengurangi gejala alergi dan membantu penyerapan nutrisi.

Nah, itulah cara menyimpan dan menghangatkan ASI perah dengan benar. Beberapa hal di atas perlu Bunda ketahui karena ASI merupakan asupan nutrisi terbaik bagi bayi. Dengan menyimpan ASI perah secara benar, Bunda dapat memberikan ASI tersebut secara lebih fleksibel. Tentunya, hal-hal tersebut akan sangat cocok bagi Bunda yang memiliki pekerjaan atau aktivitas di luar rumah.

Milestone Lainnya