Benarkah Baby Walker Membantu Bayi Lebih Cepat Berjalan?

Morinaga Platinum ♦ 20 Desember 2021

Perkembangan buah hati tentu menjadi perhatian utama orangtua. Oleh karenanya, orangtua biasanya menyediakan berbagai peralatan untuk mendukung pertumbuhan Si Kecil. Salah satu alat yang kerap dijumpai adalah baby walker. 

Apa Itu Baby Walker?

Baby walker adalah alat yang digunakan untuk membantu bayi belajar berjalan. Bentuknya bulat, memiliki kursi, dan dilengkapi roda untuk membantu bayi belajar berjalan. 

Menurut jurnal berjudul The Effect of Baby Walker on Child Development: A Systematic Review yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics, baby walker dikenal sebagai alat hiburan bagi bayi berusia 4-12 bulan. Alat ini pun meluas dan digunakan oleh orangtua di seluruh dunia. Penggunaan baby walker juga didasarkan pada budaya dan kepentingan pribadi orangtua. Para orangtua mengira mereka menemukan jawaban untuk membuat bayi tetap aktif sambil memberikan waktu istirahat ekstra bagi orangtua. Tak sedikit pula orangtua yang percaya bahwa alat ini mampu membantu buah hati untuk segera berjalan. 

Tapi, terlepas dari popularitas baby walker, ada banyak kekhawatiran penggunaan alat ini pada bayi. Hal ini karena, kecelakaan demi kecelakaan terjadi saat bayi menggunakannya. Salah satu masalahnya adalah faktor kelalaian orangtua yang memberikan kebebasan bayi untuk menjelajahi lingkungannya dengan mudah. Kecelakaan yang terjadi antara lain jatuh dari tangga, luka bakar, terkena cairan panas, dan lainnya. 

 

Mengapa Baby Walker Dianggap Berbahaya?

Mengutip laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penggunaan baby walker pada awalnya bertujuan untuk memacu gerak motorik dan membantunya agar cepat berjalan. Namun dalam perkembangannya, baby walker berpotensi membahayakan Si Kecil. 

Ini karena, baby walker dibuat dari bahan yang keras dan beroda. Bayi yang ditempatkan pada baby walker dapat berjalan ke segala arah. Tanpa pengawasan orangtua, bayi berisiko mengalami kecelakaan. 

Sebuah studi berjudul Infant Walker–Related Injuries in the United States yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics pada 2018 lalu menyebutkan, baby walker telah mengakibatkan ratusan ribu kasus kecelakaan pada bayi. Penyebab utamanya adalah karena jatuh dari tangga. Hal ini mengakibatkan pada peneliti akhirnya mendukung pelarangan terhadap penggunaan baby walker pada bayi. 

“Anak-anak yang menaiki baby walker dapat bergerak melintasi lantai dengan kecepatan hingga empat kaki per detik. Pada usia itu, mereka belum memiliki nalar akan rasa bahaya. Mereka penasaran, tetapi mereka tidak mengenali adanya bahaya,” menurut Gary A. Smith, salah satu peneliti sekaligus Direktur Center for Injury Research and Policy di Nationwide Children Hospital.

 

Risiko Cedera dalam Penggunaan Baby Walker

Ada beberapa risiko cedera yang bisa dialami bayi yang menggunakan baby walker tanpa pengawasan yang tepat, antara lain: luka kepala/otak, patah tulang, hingga luka bakar. Luka-luka tersebut dapat terjadi sewaktu:

  • Baby walker jatuh dari tangga
  • Baby walker terjungkal pada permukaan yang tidak rata
  • Bayi mencapai alat yang berbahaya
  • Bayi mencapai lemari atau tempat penyimpanan yang berisi bahan kimia
  • Bayi mencapai meja yang berisi minuman panas, air mendidih, atau seterika
  • Bayi menggapai barang-barang berbahaya, misalnya gunting, pisau, atau barang pecah-belah
  • Bayi mencapai ember atau baskom air berukuran besar

 

Belum Ada Penelitian yang Menyebutkan Baby Walker Dapat Membantu Bayi Lebih Cepat Berjalan

Menurut jurnal berjudul The Effect of Baby Walker on Child Development: A Systematic Review yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics, belum ada penelitian atau peneliti yang menyebutkan bahwa baby walker dapat membantu bayi untuk lebih cepat berjalan. Ini karena, belajar berjalan bukan hanya sekadar menggerakkan kaki, namun bagaimana menyeimbangkan tubuh dan melangkahkan kaki tanpa menggunakan alat bantu. Ketika Si Kecil dimasukkan ke dalam alat bantu, ia tidak akan belajar untuk menyeimbangkan tubuh dan melangkahkan kakinya. 

Bayi yang terbiasa ‘berjalan’ dengan baby walker, biasanya menggunakan ujung-ujung jari untuk menggerakkan alat. Tentunya, kebiasaan ini pun mengakibatkan otot Si Kecil tegang dan membiasakannya berjalan dengan ujung jari, alih-alih kedua telapak kakinya. 

Bayi juga tidak bisa mempelajari cara untuk menyeimbangkan cara berjalan, sebab baby walker menghalangi pandangan bayi pada kakinya. Padahal, penglihatan adalah salah satu faktor penting ketika Si Kecil belajar untuk menggerakkan kakinya. 

Bayi yang terbiasa menggunakan baby walker terbiasa menjelajah ruangan dengan bantuan alat, sehingga malah mengurangi keinginan Si Kecil untuk berjalan. Akibatnya, alat ini membuat bayi  malas untuk berjalan dengan usahanya sendiri.

Alat ini memang bisa menguatkan kedua tungkai bawah bayi, namun tungkai atas atau bagian paha dan pinggul tidak terlatih. Padahal, tungkai atas dan pinggul merupakan anggota tubuh yang sangat penting saat berjalan. Dengan kata lain, penggunaan baby walker malah menguatkan otot yang salah. 

 

Manfaat Belajar Berjalan tanpa Baby Walker

Tanpa baby walker, Si Kecil tetap bisa belajar berjalan. Bahkan, ada manfaat jika Si Kecil belajar berdiri dan berjalan tanpa menggunakan baby walker:

  • Si Kecil bisa belajar duduk dan merangkak terlebih dahulu
  • Si Kecil bisa menjelajah lingkungannya dengan aman dan sesuai dengan perkembangannya
  • Si Kecil belajar pergerakan dengan baik, misalnya dari duduk ke berlutut dan sebaliknya
  • Si Kecil bisa belajar berdiri dari posisi berlutut dan sebaliknya
  • Si Kecil bisa belajar berdiri di mana saja tanpa memerlukan alat bantu
  • Si Kecil belajar keseimbangan tubuh dan bagaimana melangkahkan kakinya
  • Si Kecil dapat melihat kakinya dengan baik

 

Opsi Alat yang Lebih Aman

Tujuan awal diciptakannya baby walker adalah untuk membantu bayi belajar berjalan. Namun karena banyaknya risiko dan kecelakaan yang terjadi, kini ada alternatif alat lain yang bisa Bunda coba. 

Bouncer

Bunda kini bisa mencoba alternatif berupa bouncer. Alat ini merupakan mainan dengan dudukan yang bisa membuat Si Kecil duduk, berayun, dan berputar. Bouncer juga dilengkapi dengan meja dengan bentuk yang menyerupai dengan baby walker. Perbedaannya, jika baby walker memiliki roda yang bisa membuat bayi menjelajahi lingkungannya, bouncer tidak. 

Alat ini disebut dapat mengembangkan otot bagian dalam kaki, paha, dan pinggul bayi. Bouncer bisa digunakan untuk bayi usia 4-8 bulan. Pada usia-usia ini, Si Kecil sedang aktif-aktifnya menendang ke segala arah, sehingga bouncer dapat digunakan untuk melatih gerakan Si Kecil. 

Push Walker

Alternatif lainnya adalah dengan menggunakan push walker. Dilansir dari laman BriskyBaby, push walker memungkinkan Si Kecil mendapatkan kebebasan dan rasa percaya diri untuk bergerak dengan leluasa. Push walker juga sangat membantu Si Kecil agar cepat berjalan karena dengan alat bantu tersebut akan membuatnya mendapatkan kebebasan dalam menjelajahi dunia di sekitar mereka, tentunya dengan aman dan nyaman.

Pada dasarnya, alat ini dapat meningkatkan keterampilan motorik bayi. Si Kecil yang menggunakan mainan dorong ini akan belajar membangun kekuatan, keseimbangan, dan kepercayaan diri. Dengan demikian, keterampilan motoriknya pun berkembang secara alami saat ia bergerak. 

Tingginya risiko penggunaan baby walker membuat IDAI merekomendasikan agar bayi bermain di lantai. Biarkan Si Kecil mengeksplorasi lantai sesuka hatinya. Posisi tersebut jauh lebih aman daripada duduk di baby walker. Dengan demikian, Si Kecil bisa mengeksplorasi lingkungan sekitar sesuai dengan perkembangannya. 

Selain itu, Bunda bisa merangsang gerakan kaki Si Kecil dengan cara menitahnya. Cara ini lebih aman untuk menstimulasi gerakan berjalan bayi sekaligus mempererat bonding Si Kecil dengan orangtuanya. Namun yang tak kalah penting adalah aspek pengawasan. Jangan lupa untuk selalu memberikan perhatian kepada Si Kecil selama ia mengeksplorasi lingkungannya. 

Bunda pun perlu melengkapi kebutuhan nutrisinya agar tumbuh kembangnya kian optimal. Salah satu caranya dengan memberikan asupan nutrisi melalui susu pertumbuhan Morinaga Platinum MoriCare Triple Bifidus. Morinaga Platinum mendukung sinergi nutrisi antara faktor Kecerdasan Multitalenta, Pertahanan Tubuh Ganda dan faktor Tumbuh Kembang Optimal mendukung Si Kecil menjadi Generasi Platinum yang Multitalenta.

Lihat Artikel Lainnya