Bayi Kuning Saat Lahir, Normal atau Berbahaya?

Oleh: Morinaga

2 Juli 2020

Saat Si Kecil pertama kali lahir ke dunia adalah salah satu momen paling menggembirakan dan mengharukan yang dirasakan oleh orangtua. Tangisan kencangnya dan rona kemerahan dari pipi Si Kecil membuatnya terlihat lebih menggemaskan. Tidak jarang Ayah dan Bunda langsung berebutan mencari kemiripan yang ada pada Si Kecil, bukan? Dari mata, hidung, kelebatan rambut, hingga warna kulitnya. Namun, tahukah Bunda jika warna kulit Si Kecil bisa berubah dari ke hari?

Umumnya warna kulit Si Kecil tampak merah gelap atau ungu sesaat setelah ia lahir. Kemudian, ketika bayi mulai bernapas, warna kulitnya perlahan-lahan akan berubah menjadi warna terang. Bayi yang baru lahir memiliki kulit tipis sehingga membuat pembuluh darah yang berada di bawah kulitnya dapat terlihat jelas dan kandungan pigmen yang dimilikinya juga masih terbilang sedikit. Seiring bertambahnya usia, kulit bayi juga akan menebal dan warna akan menyesuaikan dengan aslinya. Namun, Bunda juga bisa saja menemui kondisi dimana warna kulit Si Kecil berubah menjadi kekuningan, lho. Entah itu terjadi saat ia lahir ataupun beberapa hari setelah ia lahir. Apakah hal ini normal atau berbahaya?

 Baca juga: Perawatan yang Tepat untuk Bayi yang Baru Lahir

Ikterus neonatus

Dalam istilah kedokteran, kondisi bayi kuning disebut sebagai ikterus neonatus atau yang dikenal juga sebagai penyakit kuning. Pada bayi yang baru lahir, penyakit kuning (ikterus neonatus) kerap terjadi dan bukan sesuatu hal yang membahayakan. Hal ini biasa terjadi disebabkan oleh meningkatnya kadar bilirubin dalam darah sehingga melebihi normal. Akibatnya, kulit dan bagian putih mata (sklera) Si Kecil menjadi kuning.

Apa yang menyebabkan Si Kecil menderita sakit kuning (ikterus neonatus)?

Penyebab utamanya disebabkan oleh penumpukan zat bilirubin di dalam aliran darah. Bilirubin ini sendiri merupakan hasil buangan dari metabolisme sel darah merah. Ketika Si Kecil dalam kandungan, plasenta berfungsi untuk menghilangkan zat ini dari tubuh Si Kecil. Lalu setelah bayi lahir, organ hatilah yang akan mengambil alih tugas tersebut. Namun, hal ini tidak dapat terjadi secara instan. Karena hati Si Kecil masih belum berkembang sempurna sehingga membutuhkan waktu untuk melakukan fungsinya secara efisien. Inilah yang menyebabkan tingkat bilirubin menjadi agak lebih tinggi saat bayi baru lahir. Kondisi ini disebut sebagai penyakit kuning fisiologis (ikterus fisiologis) dan hal tersebut normal terjadi pada Si Kecil.

Namun selain itu, ada lagi penyebab lain Si Kecil dapat mengalami kondisi bayi kuning (ikterus neonatus) yaitu:

  • Ketidakcocokan golongan darah (ketidakcocokan rhesus) antara Bunda dan Si Kecil.
  • Bentuk sel darah abnormal (seperti anemia sel sabit).
  • Pendarahan internal.
  • Infeksi virus atau bakteri.
  • Kerusakan hati.
  • Kekurangan enzim tertentu.
  • Sel darah merah bayi yang tidak normal.
  • Terlahir prematur.
  • Terdapat masalah pada sistem pencernaan bayi.

 Baca juga: Lahir Prematur, Inilah Penyebab dan Risiko Janin Lahir 7 Bulan

Bagaimana cara membedakan kondisi bayi kuning normal dan berbahaya?

Untuk membedakan mana kondisi bayi kuning normal dan berbahaya dapat dilihat dari gejala-gejalanya sebagai berikut:

Bayi kuning normal (ikterus fisiologis):

 

Penyakit kuning (ikterus patologis):

  • Tetap terlihat kuning setelah satu minggu dan warna kuning menyebar hingga ke lengan atau kaki.
  • Lesu dan lemas
  • Tidak ingin menyusu.
  • Memiliki lengan dan tangkai yang “keplek” (floppy arms and legs).
  • Demam (suhu di atas 38 derajat celcius atau lebih)
  •  

Jika beberapa gejala-gejala di atas terjadi ada Si Kecil, maka Bunda sebaiknya segera membawanya ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Penanganan Ikterus Neonatus

Penanganan awal yang dapat dilakukan adalah dengan mengukur kadar bilirubin yang ada dalam darah Si Kecil. Tingkat bilirubin akan menentukan pengobatan apa yang paling tepat untuk diberikan. Pada kondisi bayi yang baru lahir, kadar normal bilirubin seharusnya di bawah 5mg/dL. Berikut kadar bilirubin yang tinggi sesuai dengan usia Si Kecil:

  • Lebih dari 10 mg/dL pada usia kurang dari 1 hari.
  • Lebih dari 15 mg/dL pada bayi usia 1-2 hari.
  • Lebih dari 18 mg/dL pada bayi usia 2-3 hari.
  • Lebih dari 20 mg/dL pada bayi usia lebih dari 3 hari.

Adapun beberapa penanganan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Terapi sinar (fototerapi).
  • Transfusi imonuglobulin.
  • Transfusi pergantian darah.

Untuk kasus ikterus bayi ringan, Si Kecil tidak memerlukan terapi khusus atau tindakan medis. Karena kondisi ini dapat sembuh dan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 2-3 minggu. Namun jika sudah masuk dalam kondisi ikterus sedang atau berat, perlu mendapatkan penanganan intensif dari rumah sakit.

Bagaimana cara pencegahannya?

Bunda dapat mencegah kenaikan bilirubin pada Si Kecil dengan cara memberikan asupan nutrisi yang cukup. Pastikan ASI yang diterima Si Kecil sebanyak 8-12 kali dalam 24 jam. Ini untuk membantu Si Kecil mengeluarkan bilirubin pada tubuhnya melalui urin dan tinja. Selain itu, menjemur bayi di bawah matahari pagi juga membantu mencegah terjadinya penyakit kuning (ikterus neonatus). Lakukan dengan berbagai posisi yang berbeda-beda agar kulit Si Kecil terkena sinar matahari secara merata. Waktu terbaik untuk menjemur Si Kecil antara jam 7 hingga 9 pagi. Perlu diingat, jangan sampai mata Si Kecil menatap langsung ke matahari karena hal ini dapat merusak matanya.

 Baca juga: Keajaiban Asi untuk Bunda dan Si Kecil

Milestone Lainnya