Tantrum Pada Anak: Fase, Penyebab Contoh & Cara Mengatasinya

Morinaga Platinum ♦ 21 Sepember 2021

Bunda, pernah mendengar istilah tantrum? Sepertinya istilah ini tidak asing ya bagi orang tua khususnya Ibu. Ketika anak masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, pasti ada saat dimana anak juga melalui fase tantrum. Fase tantrum pada anak merupakan suatu kondisi dimana Si Kecil mengalami kemarahan hingga mengamuk yang dapat disebabkan oleh banyak hal diantaranya lapar, lelah, ataupun tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya seperti mainan maupun camilan. 

Oleh karena itulah, Bunda perlu untuk mengetahui fase-fase tantrum yang dialami Si Kecil sehingga tahu bagaimana cara mengatasinya dengan baik. Yuk simak ulasan berikut ini dengan seksama.

 

Fase Tantrum Si Kecil

Fase tantrum pada anak merupakan salah satu tahapan perkembangan yang harus mereka lewati sehingga Bunda tidak perlu khawatir jika Si Kecil mengalami fase ini. Sederhananya, tantrum adalah kondisi yang biasa atau lumrah terjadi pada anak yang dalam masa pertumbuhan. Lalu, apa saja tahapan yang akan mereka lalui?

Penyangkalan

Fase tantrum yang pertama yang akan dilalui seorang anak adalah fase penyangkalan atau penolakan. Seperti namanya, Si Kecil akan mengawali fase ini dengan menyangkal permintaan atau perintah dari orang tua setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Tak jarang Si Kecil bahkan mengabaikan perkataan orang tua dengan berlari meninggalkan orang tua.

Kemarahan

Setelah menyangkal, tahapan berikutnya muncullah rasa marah. Pada tahap inilah Si Kecil akan melakukan hal yang mereka inginkan seperti melempar barang, berteriak, memukul, hingga kadang anak tantrum akan menangis kencang juga berguling-guling di lantai untuk mengungkapkan rasa emosi yang mereka alami.

Tawar-menawar

Setelah melalui fase kemarahannya, Jika anak sudah bisa fasih berbicara, biasanya Si Kecil akan melakukan tawar-menawar dengan orang tua. Jika Si Kecil tidak mendapatkan persetujuan untuk membeli barang atau sesuatu yang diinginkan, biasanya Si Kecil akan melakukan tawar menawar hingga berhasil mendapatkannya. Misalnya, "Kalau aku sudah mandi apa aku boleh main keluar?" Bila Bunda tetap melarangnya, maka Si Kecil akan menawar dan mencoba berbagai cara supaya Bunda memberikan izin.

Depresi

Fase tantrum berikutnya adalah depresi. Dari sekian banyak fase yang ada depresi menjadi satu-satunya fase yang paling menantang bagi orang tua. Fase ini umumnya diungkapkan dengan cara menangis, tapi jangan salah tangisan ini adalah tangisan palsu Si Kecil. Biasanya Si Kecil akan berpura-pura sedih dan menangis keras ketika proses tawar menawar yang dilakukannya tidak berhasil. 

Saat dihadapkan dengan hal yang demikian, umumnya orang tua akan merasa bersalah hingga akhirnya memenuhi permintaan Si Kecil. Bila Bunda mendapati hal yang demikian, Bunda bisa mengatasinya dengan memberikan pengertian hingga memeluk Si Kecil.

Menerima

Tahapan terakhir dari fase tantrum adalah penerimaan. Setelah kesedihan dilewati, anak tantrum biasanya akan jauh lebih tenang sehingga Bunda sebagai orang tua dapat memberikan pemahaman mengapa keinginan mereka tidak Bunda kabulkan. Pada fase ini anak akan lebih mudah mengerti sehingga dapat menerima keputusan yang Bunda buat.

 

Cara Mengatasi Fase Tantrum

Ada banyak cara mengatasi tantrum pada anak yang bisa Bunda terapkan. Bunda dapat memilih cara yang sesuai dengan fase tantrum yang sedang dilalui Si Kecil sehingga tepat sasaran. Beberapa cara yang bisa Bunda terapkan ketika mengatasi fase tantrum Si Kecil adalah sebagai berikut:

Cari Tahu Penyebabnya

Banyak hal yang bisa menjadi penyebab anak berada dalam fase tantrum. Jika tujuan Si Kecil untuk mencari perhatian, Bunda bisa mengabaikannya. Namun, jika anak tantrum karena lapar ataupun kelelahan, Bunda bisa memberikan mereka camilan atau mengajaknya beristirahat bersama.

Perhatikan Tingkah dan Tangis

Setelah mencari tahu penyebabnya, Bunda juga perlu memperhatikan tingkah dan tangis Si Kecil. Dari situ, Bunda bisa memahami apakah Si Kecil benar-benar menangis atau hanya manipulatif karena ingin mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, Bunda tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Tetap Bersikap Tenang

Ketika Si Kecil dalam fase tantrum, hal pertama yang harus Bunda lakukan adalah tetap tenang. Jangan sampai Bunda membalas teriakan atau bahkan memaksa mereka untuk berhenti mengamuk karena hal tersebut justru akan membuat Si Kecil semakin menjadi-jadi dan melanjutkan aksinya. Jika Si Kecil susah untuk ditenangkan, Bunda bisa membawa Si Kecil ke tempat yang sepi dan tenang sehingga mereka bisa menenangkan diri.

Memberikan Pengertian

Cara selanjutnya untuk mengatasi anak tantrum adalah dengan memberikan mereka pengertian bahwa tidak memberikan apa yang mereka mau bukan berarti Bunda sebagai orang tua tidak menyayangi mereka. Bunda juga bisa memberikan alasan mengapa hal tersebut tidak mendapat persetujuan sehingga Si Kecil tahu betul maksud pelarangan yang Bunda lakukan.

Hindari Mengumbar Janji

Ketika memberikan pemahaman, jangan sampai Bunda mengumbar janji kepada Si Kecil. Mengapa? karena umumnya anak kecil akan mengingat dan menagih janji yang diberikan kepada mereka. Jika Ayah dan Bunda bisa menepati janji tersebut tentu tidak masalah, semua akan baik-baik saja. Tapi jika Ayah dan Bunda melanggar janji tersebut, pada kesempatan berikutnya Si Kecil tidak akan percaya lagi dengan apa yang Ayah dan Bunda janjikan karena Bunda sudah mengikarinya. Jadi, hindari ya Bunda.

Buat Kesepakatan

Daripad mengumbar janji, akan lebih baik bila Bunda menggunakan cara lain untuk menenangkan Si Kecil saat mengalami tantrum. Cara lain yang bisa Bunda gunakan untuk menghindari mengumbar janji misalnya membuat kesepakatan dengan Si Kecil. Dari sini, Bunda dapat mengingatkan Si Kecil ketika ia melanggar kesepakatan yang sudah disepakati sebelumnya sehingga dapat membantu mereka untuk lebih tenang.

Ajarkan Kedisiplinan

Hal penting lainnya setelah melakukan kesepakatan adalah dengan mengajarkan mereka kedisiplinan. Disiplin yang dimaksud di sini juga dapat berupa memberikan mereka ruang ketenangan atau time out. Misalkan saja, jika Si Kecil mulai melempar dan merusak barang-barang, Bunda bisa memintanya masuk kamar untuk menenangkan diri dan jangan keluar sampai mereka sudah tenang nantinya.

Setelah mengenali fase tantrumnya, Bunda bisa mencoba berbagai macam cara yang sudah dijelaskan sebelumnya. Selain itu, ketika sedang menghadapi anak yang sedang berada di fase tantrum diperlukan pula ketegasan, ketenangan dan juga konsistensi dari Ayah dan Bunda.

Konsistensi biasanya menjadi masalah utama ketika anak berada di rumah dan luar rumah baik saat bersama orang tua saja maupun dengan keluarga besar seperti kakek, nenek, hingga sepupu. Bunda sebagai orang tua perlu meminta dukungan kepada anggota keluarga yang lain agar dapat mengerti dan mendukung tindakan yang Bunda lakukan ketika mengatasi fase tantrum Si Kecil . Siap menerapkannya? Selamat mencoba ya Bunda dan semoga berhasil.

Lihat Artikel Lainnya