Stres Pada Si Kecil: Mungkinkah Terjadi?

Oleh: Morinaga Platinum

Stres adalah respons normal terhadap beragam keadaan yang harus dihadapi. Stres merupakan reaksi fisik and psikologi yang normal terhadap banyaknya tuntutan yang selalu berubah. Tuntutan biasanya datang dari luar individu seperti keluarga, teman, pekerjaan, atau sekolah. Stres adalah reaksi normal ketika seorang individu merasa kewalahan. Karena itulah stres dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak.  

Sebenarnya apa saja yang menyebabkan stres pada Si Kecil? Dengan semakin pesatnya perkembangan zaman, semakin banyak pula tuntutan yang dialami oleh Si Kecil. Sumber stres dapat berasal dari segi akademis, seperti pelajaran sekolah yang sulit dan banyak atau sederetan kegiatan ekstrakurikuler yang harus dilakukan sepulang sekolah.

Selain itu, apabila Bunda dan Ayah terlalu menuntut Si Kecil untuk menjadi sesuai keinginan, hal tersebut juga dapat memicu stres. Segi pergaulan pun memegang peranan. Apabila Si Kecil sulit bergaul dan kurang populer di kalangan teman-temannya, hal tersebut bisa menjadi beban tersendiri. Perbedaan status sosial ekonomi juga dapat membuat Si Kecil minder jika ia berada di lingkungan yang tidak sesuai dengan keadaannya.

Faktor lainnya adalah masalah dalam keluarga. Fungsi keluarga yang seyogyanya memberikan kedamaian, perlindungan, dan kebahagiaan akan terganggu jika ada ketidakharmonisan antar orangtua, antara sesama anggota keluarga, atau ketika mengalami kehilangan anggota keluarga karena kematian atau perceraian.

Tanda Atau Gejala Stres Pada Si Kecil

Mengenali gelala stres pada Si Kecil memang tidak selalu mudah, perubahan perilaku jangka pendek—seperti perubahan suasana hati, perubahan pola tidur atau mengompol—bisa menjadi indikator. Ada juga yang mengalami gejala pada fisik mereka seperti sakit kepala atau sakit perut. Atau mungkin mengalami sulit konsentrasi saat belajar atau menyelesaikan tugas sekolah serta lebih senang menyendiri. 

Gejala yang sering muncul pada anak-anak berusia di bawah usia sekolah antara lain mengisap jempol, memilin-milin rambut, atau mengorek hidung. Seorang anak yang stres memiliki kecenderungan untuk berbohong, menentang orang dewasa, bereaksi berlebihan terhadap masalah kecil, atau nilai akademis berubah drastis.

Menangani Stres Pada Si Kecil

Bagaimana Bunda bisa membantu Si Kecil menangani stres? Dengan memastikan ia mendapatkan istirahat cukup, nutrisi seimbang, dan juga dukungan mental. Luangkan waktu lebih untuk berinteraksi dengan Si Kecil. Ajak ia melakukan aktivitas menyenangkan.

Membantu Si Kecil menangani stres berarti Bunda dan ia harus bisa berkomunikasi mengenai penyebab stres. Bersama-sama bisa mendiskusikan alternatif solusi untuk mengatasi stres. Misalnya mengurangi kegiatan ekstrakulikuler, menyusun rencana olahraga, atau menulis diari.

Bunda juga dapat mencegah terjadinya stres dengan mengantisipasi situasi yang berpotensi mencetus stres. Misalnya, menjelaskan pada Si Kecil mengenai jadwal ujian sekolah dan berdiskusi mengenai rencana belajar sehingga ia tidak akan merasa kewalahan.

Ingat, Bunda, stres sampai batas tertentu adalah reaksi normal. Biarkan Si Kecil mengetahui bahwa merasa marah, takut, kesepian, atau cemas adalah hal yang biasa terjadi sehari-hari. Camkan pada Si Kecil bahwa Bunda dan Ayah yakin mereka bisa menangani situasi apa pun dengan baik.

Namun, apabila Bunda dan Ayah mencurigai tingkat stres Si Kecil tidak lagi wajar, bawa ia berkonsultasi dengan psikiater anak. Dokter dapat melakukan berbagai terapi untuk membantunya, seperti konseling, terapi kognitif dan perilaku, terapi keluarga, dan lain-lain. Jika diperlukan, dokter juga dapat memberikan obat untuk Si  Kecil.

Milestone Lainnya