Psikologi Perkembangan Anak: Teori, Faktor dan Tahapannya

Oleh: Morinaga Platinum

8 September 2021

Seiring dengan berkembangnya fisik seorang anak, tahukah Bunda bahwa sisi psikologi Si Kecil juga berubah? Menyaksikan perkembangan fisik dan psikologi Si Kecil adalah salah satu hal yang penting bagi orang tua ya Bun.

Kendati begitu, belum banyak orang tua yang terbiasa dengan literasi terkait psikologi perkembangan Si Kecil. Sehingga, seringkali Bunda merasa kebingungan jika perilaku Si Kecil tampak tidak lazim.

Apa itu Psikologi Perkembangan Anak?

Menurut  Sigmund Freud, pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi. Psikologi perkembangan anak merupakan salah satu dari sekian banyak cabang psikologi yang penting untuk orang tua ketahui. Tidak heran, cabang psikologi ini menjadi cabang yang paling banyak dipelajari. Secara khusus, psikologi perkembangan anak mempelajari tentang pikiran dan perilaku anak.

Pikiran dan perilaku anak ini terdiri atas prenatal hingga remaja. Dengan begitu, psikologi perkembangan anak tidak hanya membahas tentang perkembangan fisik anak, tapi juga mental, emosional, dan sosial mereka.

Seringkali, anak dipandang sebagai orang dewasa dalam tubuh yang lebih kecil. Padahal, menurut seorang filsuf dan ilmuwan Jean Piaget, anak-anak sebenarnya memiliki cara berpikir yang berbeda dengan orang dewasa.

Tahapan Perkembangan Psikologi Anak

Perkembangan psikologi anak terbagi ke dalam beberapa proses. Masing-masing proses atau fase mewakili perkembangan psikologi yang mereka alami. Tidak heran, beberapa anak mengalami kesulitan berkembang dari sisi psikologi dalam prosesnya. Lantas, apa saja tahapan perkembangan psikologi anak?

Bayi (Lahir – 2 Tahun)

Untuk pertama kalinya, mengurus bayi adalah pengalaman yang sangat menyenangkan sekaligus menantang bagi orang tua. Umur 0 hingga dua tahun pada bayi, menjadi waktu yang tepat untuk mengembangkan ikatan batin yang akan bertahan seumur hidup. 

Dalam fase ini, orang tua memiliki peran penting untuk membantu anak agar dapat memiliki hubungan yang positif dengan orang lain. Pasalnya, tahap ini bayi memiliki perilaku yang unik dan orang tua mesti terbiasa untuk memahami, menghormati, mendukung, dan kemampuan mereka.

Batita (18 bulan – 3 Tahun)

Balita umur 18 bulan hingga 3 Tahun dianggap sebagai langkah pertama atau fase baru dalam perkembangan hidupnya. Sehingga, pada tahap ini mereka mulai menjelajahi lingkungan sekitarnya.

Balita mulai belajar berbagai nama objek yang membuatnya tertarik, banyak bertanya, dan berani berkata “tidak”. Tantangan utama pada proses ini ialah menghadapi ‘regulasi emosional’ atau perilaku yang sulit dikendalikan.

Kendati begitu, orang tua dapat membantu agar balita lebih mudah mengatur emosinya. Pasalnya, meski secara alami balita sudah bisa berkata “tidak”, balita juga harus diajarkan cara menerima kata “tidak” dari orang lain.

Prasekolah (3-6 Tahun)

Pada tahap prasekolah, umumnya anak terbiasa dengan kebiasaan untuk bermain. Sehingga, di tahap ini orang tua mesti memastikan bahwa semua jenis permainan yang dimiliki oleh anak dapat mendorong perkembangan bahasa, sosialisasi, dan kreativitas anak.

Tidak hanya itu, pada tahap pra sekolah anak-anak juga mesti berinteraksi secara terstruktur dengan teman sebayanya. Meski begitu, anak di tahap prasekolah juga harus memiliki mental yang siap untuk berkompetisi di lingkungan sosial. 

Dalam hal ini, orang tua berperan sebagai ‘pelatih’ yang memberikan dukungan dan bimbingan. Selain itu, orang tua juga berperan sebagai ‘guru’ untuk membimbing mereka dalam menguasai pembelajaran dasar dan mendorong diskusi aktif tentang konsep ataupun keterampilan baru.

Usia sekolah (6-12 Tahun)

Pada usia sekolah, orang tua akan menyaksikan Si Kecil mengeksplor aktivitas baru dan mendapatkan prestasi. Tidak sedikit orang tua yang mengakui bahwa tahap ini juga termasuk tahap yang menyenangkan untuk disaksikan. 

Kendati begitu, anak-anak di usia sekolah lazimnya membutuhkan pengawasan lebih banyak dari biasanya. Pasalnya, dalam tahap ini Si Kecil sedang bersiap untuk menghadapi kehidupan yang lebih mandiri.

Oleh karena itu, Si Kecil mulai belajar membuat pilihan yang baik dan melatih sikap disiplin. Sehingga, orang tua bisa memberikan beberapa tugas dan mengajarkan tentang sikap sosial yang baik.

Setelah memberikan tugas, tidak lupa orang tua mengucapkan pujian dan dukungan tentang tugas yang telah diselesaikannya. Ketika Si Kecil melakukan kesalahan, biarkan mereka belajar dari risiko yang telah diambil.

Faktor Eksternal Psikologi Perkembangan Anak

Setidaknya terdapat tiga hal yang menjadi faktor eksternal psikologi perkembangan anak. Berikut penjelasannya.

Konteks Budaya

Dilansir dari Verywellmind, budaya tempat Si Kecil hidup menjadi salah satu faktor yang membentuk seperangkat nilai, kebiasaan, asumsi bersama, dan cara hidup yang dapat mempengaruhi perkembangan anak sepanjang hidupnya. 

Budaya akan memainkan peran dalam menentukan cara anak-anak dan orang tua berhubungan, jenis pendidikan diterima, dan jenis pengasuhan anak yang diberikan.

Konteks Sosial

Faktor konteks sosial yaitu terletak pada hubungan dengan teman sebaya dan orang dewasa yang dapat berpengaruh pada cara anak berpikir, belajar, dan berkembang. Sehingga, keluarga, sekolah, dan teman sebaya merupakan bagian penting dari konteks sosial

Konteks Sosial Ekonomi

Selain dua faktor tersebut, konteks sosial ekonomi juga memainkan peran penting dalam perkembangan anak. Adanya faktor ini didasarkan pada sejumlah aspek yang berbeda termasuk biaya pendidikan yang dimiliki, besaran pendapatan yang diperoleh, dan pekerjaan yang dimiliki.

Umumnya, anak-anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga dengan status sosial ekonomi tinggi cenderung memiliki akses yang lebih besar terhadap peluang. Sementara mereka yang berasal dari lingkungan keluarga dengan status sosial ekonomi rendah memiliki akses yang lebih sedikit ke hal-hal seperti perawatan kesehatan, nutrisi berkualitas, dan pendidikan.

Dengan perbedaan sosial ekonomi ini, anak yang tumbuh di lingkungan dengan status sosial rendah cenderung memiliki masalah terhadap percaya diri yang kurang, minder, dan susah bersosialisasi.

Teori Psikologi Perkembangan Anak

Terdapat tiga teori yang berkaitan dengan psikologi perkembangan anak. Berikut penjelasannya.

Teori Perkembangan Psikososial Erikson

Menurut Erikson, teori psikososial berfokus pada perkembangan di seluruh rentang hidup. Pada setiap tahap, anak-anak dan orang dewasa menghadapi krisis perkembangan yang menjadi titik balik utama.

Teori Kognitif Piaget

Menurut Piaget, teori kognitif berkaitan dengan perkembangan proses berpikir seseorang. Proses ini memengaruhi cara anak memahami dan berinteraksi dengan dunia.Teori kognitif Jean Piaget berupaya untuk menggambarkan dan menjelaskan perkembangan proses berpikir dan keadaan mental. Piaget juga memaparkan teori perkembangan kognitif untuk menjelaskan langkah-langkah dan urutan perkembangan intelektual anak.

Tahap Sensorimotor

Periode ini terjadi antara kelahiran hingga usia dua tahun, dimana pengetahuan bayi tentang dunia masih terbatas pada sensori dan aktivitas motoriknya. Perilaku terbatas pada respons motorik ini, sederhana  dan disebabkan oleh rangsangan sensorik.

Tahap Pra-Operasional

Periode antara usia dua hingga enam tahun ketika seorang anak belajar menggunakan bahasa. Pada tahap ini, logika anak-anak masih belum terbentuk, sehingga anak-anak belum mampu memanipulasi informasi dan mengambil sudut pandang orang lain.

Tahap Operasional Konkret

Tahap ini ada di periode antara usia tujuh hingga 11 tahun, ketika anak-anak memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang operasi mental. Anak-anak mulai berpikir logis tentang peristiwa-peristiwa konkret, tapi mengalami kesulitan memahami konsep-konsep abstrak atau hipotesis.

Tahap Operasional Formal

Tahap ini ada di antara usia 12 sampai dewasa, yaitu ketika anak mengembangkan kemampuan untuk berpikir tentang konsep-konsep abstrak. Keterampilan ini seperti pemikiran logis, penalaran deduktif, dan perencanaan sistematis.

Demikianlah teori psikologi perkembangan anak yang perlu Bunda ketahui. Sebagai orang tua, diharapkan Bunda dapat memahami tentang perkembangan Si Kecil. Dengan pengetahuan yang cukup Bunda lebih mudah memberikan respon terhadap tingkah laku Si Kecil selama masa perkembangan.

Milestone Lainnya