Artikel Terbaru Artikel Terbaru

Posisi Menyusui Bayi yang Benar, Simak Penjelasan Lengkapnya!

Morinaga Platinum ♦ 18 Januari 2022

Air susu ibu (ASI) menjadi faktor penting dalam pertumbuhan bayi. ASI mengandung antibodi, steril, dan aman dari pencemaran kuman.

Biasanya produksi ASI akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. Pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan hingga usia anak menginjak enam bulan, yang kemudian diteruskan hingga dua tahun bersamaan dengan menambahkan nutrisi lainnya.

Kendati begitu, beberapa dari ibu menyusui mungkin mengalami kesulitan dalam memberikan ASI kepada Si Kecil. Untuk itu, dapat melakukan sejumlah tips agar bisa menyusui dengan benar. Apa saja?

Tips menyusui

Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), beberapa hal yang dapat diperhatikan untuk menyusui antara lain persiapan, cara, hingga lama menyusui.

  • Persiapan menyusui

Persiapan menyongsong kelahiran bayi dapat dilakukan dengan perawatan payudara sejak kehamilan ke 7-8. Payudara yang terawat akan memproduksi ASI yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi. 

Salah satu cara yang dapat Bunda lakukan untuk merawat payudara agar dapat memproduksi ASI yang berkualitas adalah dengan mengompres, memijat payudara,  dan membersihkan puting secara rutin.

  • Cara menyusui

Bunda perlu mengetahui bahwa posisi yang tepat membuat Bunda merasa nyaman selama menyusui. Salah satu contoh yang dapat Bunda lakukan adalah dengan memposisikan perut si Kecil menempel di perut Anda. Sehingga, ia tidak harus memutar kepalanya untuk minum susu. Kemudian arahkan puting Anda ke hidung, bukan ke mulutnya, sehingga ia akan mengangkat kepalanya ke atas dan membuka mulutnya.

  • Lama menyusui

Di hari-hari awal kelahiran sang buah hati, biasanya ASI belum keluar. Karena itu, umumnya,  bayi cukup disusui selama 5 menit saja. Tujuannya untuk merangsang produksi ASI dan membiasakan puting susu dihisap oleh bayi. 

Setelah produksi ASI cukup, bayi dapat menyusu selama 10-15 menit dan jumlah ASI yang terhisap bayi pada 5 menit pertama adalah ± 112 ml, 5 menit kedua 64 ml dan 5 menit terakhir hanya ± 15 ml. 

Pada prinsipnya menyusui bayi adalah tanpa jadwal (on demand) karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Pada awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tidak teratur, tetapi selanjutnya akan memiliki pola tertentu yang dilakukan dengan frekuensi 2-3 jam sekali, sehingga sedikitnya dilakukan 7 kali menyusui dalam sehari setelah 1-2 minggu kemudian.

Cara menyusui dengan baik dan benar

Dituliskan dalam laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kegagalan menyusui biasanya dikarenakan salah posisi dan pelekatan bayi ke payudara.

Kesalahan ini bisa membuat puting ibu menjadi lecet, sehingga ibu menjadi segan untuk menyusui. Tak hanya itu, hal tersebut juga berdampak pada berkurangnya produksi ASI, yang pada akhirnya membuat bayi malas untuk menyusu.

Lantas, bagaimana cara menyusui dengan benar? Ya, menyusui dapat dilakukan dengan posisi duduk atau berbaring. Bunda dapat menyesuaikannya dan mengutamakan kenyamanan. 

Sebelum menyusui, pastikan telah mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir. Kemudian perah sedikit ASI dan oleskan ke puting dan areola sekitarnya. Ini berguna sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu.

Posisi duduk

Ibu dapat duduk dengan santai dan kaki tidak boleh menggantung. Posisikan bayi dengan benar. Pegang bayi dengan satu lengan dan letakkan kepalanya dekat dengan lengkungan siku ibu, bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu.

Bunda harus memastikan perut bayi menempel ke tubuh ibu dan mulut bayi berada di depan puting ibu. Lengan bayi yang terletak di bawah dapat merangkul tubuh ibu dan jangan berada di antara tubuh ibu dan bayi, sedangkan lengan yang atas boleh dipegang ibu atau diletakkan di atas dada ibu.

Pastikan telinga dan lengan yang di bagian atas berada dalam satu garis lurus. Setelah bibir bayi terbuka lebar, segera dekatkan kepala bayi ke puting ibu, dan masukkan areola ke dalam mulut bayi.

Bunda perlu memperhatikan peletakan dan memastikannya sudah dalam kondisi yang benar. Dirilis dari laman IDAI, berikut ini ciri pelekatan yang benar:

  • Dagu menempel ke payudara ibu
  • Mulut terbuka lebar
  • Sebagian besar areola terutama yang berada di bawah, masuk ke dalam mulut bayi
  • Bibir bayi terlipat keluar
  • Pipi bayi tidak boleh kempot/cekung (pipi jadi cekung tanda menghisap terlalu dalam)
  • Tidak boleh terdengar bunyi decak, hanya boleh terdengar bunyi menelan
  • Ibu tidak kesakitan dan bayi merasa tenang

Posisi Berbaring

Posisi ini dilakukan dengan cara berbaring menyamping dan meletakkan bantal untuk menyangga kepala Bunda.

Dekatkan kepala Si Kecil dengan payudara agar bisa membuka mulut lebar-lebar. Jika perlu, Bunda dapat menyangga kepala dengan satu tangan dan meletakkan guling kecil di belakang punggung anak agar lebih nyaman.

Pastikan posisi telinga, bahu, dan pinggul anak dalam kondisi sejajar dan tidak tertekuk. Usahakan kaki bayi menyentuh tubuh ibu. Bunda bisa menekuk kaki dan menempatkan bantal di antara kedua lutut.

Cara Menyusui Bayi Ketika Tidur

Sementara itu, mungkin Bunda akan mengalami saat di mana harus tetap menyusui tapi bayi sedang tidur. Bayi baru lahir rata-rata harus disusui antara 8-12 kali dalam satu hari atau setiap 2-3 jam sekali. Lantas, bagaimana cara yang tepat menyusui bayi saat sedang tidur?

Jika bayi sedang tidur saat waktunya menyusu, Bunda harus membangunkannya secara perlahan. Tunggu hingga terlihat tanda-tanda Si Kecil bangun seperti mata bergerak atau terdengar suara rengekan.

Rengkuh bayi, usap lembut tubuhnya dan ajak berbicara hingga terbangun. Bila perlu, Bunda dapat menggunakan kesempatan ini untuk mengganti popok atau memijat tubuhnya perlahan sampai benar-benar terbangun dari tidurnya.

Bayi yang terlalu mengantuk biasanya sering tertidur selama menyusu. Jika ini terjadi, Bunda perlu mengubah posisi menyusu dengan lembut. Gerakan ini akan mendorong bayi terbangun dan kembali menyusu.

Perlu diperhatikan, jangan biasakan mengajak Si Kecil bermain di malam hari. Bunda harus ingat bahwa menyusui malam hari bisa dilakukan hanya jika bayi terbangun dan menangis. 

Cara ini dapat membantu mengajarkan bayi sedari dini untuk terlelap sepanjang malam, membuat Bunda dapat beristirahat dengan lebih panjang dan tenang. Selain harus menyusui saat bayi sedang tidur, hal yang tak jarang ditemui 

Gumoh: Gelagat Salah Posisi Menyusui

Gumoh (spitting up atau gastroesophageal reflux) merupakan keluarnya sebagian susu saat atau setelah bayi menyusu. Gumoh normal terjadi setelah makan dan sering ditemui pada bayi sampai usia 1 tahun. Volume susu yang mengalir keluar dari mulut bervariasi, biasanya 1-2 sendok makan, sedangkan periodenya berlangsung kurang dari 3 menit.

Gumoh disebabkan oleh ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil. Hingga usia 4 bulan, lambung bayi hanya dapat menampung susu dalam jumlah kecil setiap kali minum. Volume susu yang terlalu banyak akan menyebabkan gumoh.

Penyebab lainnya, katup lambung bayi belum dapat menutup dengan erat sehingga susu yang sudah berada di dalam lambung dapat mengalir kembali ke mulut, apabila volume susu terlalu besar atau jika bayi langsung berbaring setelah minum.

Tidak hanya karena minum susu terlalu banyak, biasanya gumoh terjadi saat bersendawa dan menelan banyak udara. Bayi dapat menelan banyak udara apabila minum terlalu cepat atau saat menangis.

Gumoh hanya perlu dibersihkan dengan kain bersih untuk mencegah iritasi kulit dan tidak memerlukan pengobatan khusus.

Adapun kebiasaan gumoh akan berkurang dan menghilang saat bayi mencapai usia 18-24 bulan, sebab di usia ini ukuran lambung lebih besar dan katup lambung lebih kuat.

Gumoh sering ditemui pada bayi tapi jarang menyebabkan komplikasi seperti radang saluran cerna (esofagitis). Namun jika Si Kecil mengalami gumoh yang disertai gangguan napas (tersedak atau batuk), volume gumoh lebih dari 2 sendok, bahkan berat badan sulit naik, maka Bunda dapat membawa bayi berobat ke dokter anak.

Posisi Menyusui Bayi yang Tepat untuk Menghindari Gumoh

Untuk mencegah gumoh, Bunda dapat memposisikan bayi dengan tegak selama 30 menit setelah minum susu. Pastikan tidak ada yang menekan bagian perut bayi dan sendawakan bayi.

Jangan pernah memaksakan bayi untuk minum susu lebih banyak dari yang diinginkan. Sebagai antisipasi agar frekuensi gumoh tidak berlebihan, perhatikan cara-cara mencegahnya, yaitu:

  • Posisikan tubuh bayi tetap tegak setelah makan

Saat bayi selesai makan, posisikan tubuhnya tetap tegak selama setengah jam atau lebih, untuk membuat makanan atau susu yang baru dikonsumsi tetap berada di bawah. Jika bayi harus berbaring, letakkan beberapa bantal untuk menopang tubuhnya sehingga badannya tetap tegak.

  • Hindari tekanan pada perut bayi

Pastikan tidak ada tekanan pada perut bayi setidaknya selama 30 menit setelah makan. Usahakan untuk menghindari pemakaian celana dan popok yang terlalu ketat. 

  • Bantu bayi untuk bersendawa

Bunda dapat membuat bayi bersendawa agar udara yang terlanjur masuk dapat keluar, dengan cara mengambil jeda di tengah waktu minum susu atau setelah selesai minum susu. Sandarkan tubuh bayi ke dada agar posisinya tegak, tetapi jangan sampai perutnya tertekan.

  • Perhatikan lubang pada dot

Jika bayi minum susu menggunakan botol atau dot, gunakan dot dengan lubang yang pas. Lubang yang terlalu besar bisa menyebabkan bayi tersedak karena aliran susu terlalu cepat, sedangkan ukuran lubang dot yang terlalu kecil akan membuat bayi kesulitan mengisap susu dan malah menghisap udara.

  • Menyusui di ruangan yang tenang

Usahakan untuk selalu menyusui di ruangan tertutup yang tenang dan bebas dari gangguan apa pun. Bayi yang menyusu dalam keadaan panik akan cenderung menelan udara berbarengan dengan susu yang masuk dan berpotensi mengalami gumoh setelahnya.

Menyusui bisa menjadi salah satu pengalaman menantang dan bermanfaat yang dialami Bunda. Saat sudah mulai terbiasa menyusui Si Kecil, Bunda dapat mencoba sejumlah variasi posisi. Bereksperimen dengan berbagai jenis posisi yang memungkinkan Si Kecil menyusu dengan sukses dan tetap membuat Bunda merasa nyaman. Pada akhirnya, Bunda dan Si Kecil akan segera menyadari bahwa menyusui merupakan cara yang santai dan bagus untuk menjalin ikatan.

Lihat Artikel Lainnya