Artikel Terbaru Artikel Terbaru

6 Cara Menghadapi Si Kecil yang Picky Eater, Pastikan Bunda Tahu!

Morinaga Platinum ♦ 9 Maret 2022

Memilih-milih makanan, salah satu kebiasaan anak yang sering dikeluhkan orangtua, dan mungkin Bunda salah satu yang mengalaminya. Biasanya kebiasaan memilih-milih makanan terjadi saat Si Kecil berusia 1-3 tahun (batita). Umumnya, kebiasaan memilih makanan atau menolak jenis makanan tertentu bisa dikategorikan sebagai tindakan food preference. Menurut laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), food preference mempunyai cakupan yang luas, mulai dari picky eater hingga selective eater.

Lalu, apa beda picky eater dengan selective eater?

  • Picky eater

Picky eater yaitu anak mau mengkonsumsi berbagai jenis makanan baik yang sudah maupun belum dikenali, tapi menolak mengkonsumsi dalam jumlah yang cukup. Selain karena jumlah makanan yang dikonsumsi tak cukup, picky eater juga terkait erat dengan bagaimana respon Si Kecil pada rasa serta tekstur makanan. Kabar yang sedikit melegakan adalah walaupun cenderung pilih-pilih makanan, picky eater tetap mau makan, minimal, satu jenis makanan dari masing-masing kelompok karbohidrat, protein, sayur, buah, serta susu. Sebagai contoh mudahnya, walau Si Kecil menolak mengonsumsi nasi, tapi ia masih mau-mau saja makan makan roti atau mie.

  • Selective eater

Selective eater merupakan kategori anak yang menolak segala macam makanan di kelompok makanan tertentu. Contohnya, anak benar-benar tidak mau mengkonsumsi karbohidrat, baik nasi, roti, maupun mie. Kebiasaan picky eater masih menjadi fase normal dalam perkembangan seorang anak, tapi tidak untuk selective eater. Selective eater akan mengakibatkan anak berisiko mengalami defisiensi mikronutrien atau makronutrien tertentu.

Penyebab food preference

Setiap orang memiliki selera dan preferensi yang unik, termasuk Si Kecil. Kesalahpahaman yang umum terjadi adalah makan merupakan hal yang mudah dilakukan siapa saja. Namun, makan sebenarnya adalah keterampilan yang dipelajari dan cukup kompleks. Saat lahir, bayi memiliki refleks (mengakar, menghisap, menelan) untuk makan.

Sayangnya, pada usia 6 bulan, refleks ini menghilang dan makan menjadi aktivitas mandiri. Saat itulah, saat Si Kecil mengalami pengalaman buruk atau gangguan sewaktu makan, maka hal itu akan mempengaruhi perkembangan keterampilan makannya. Pengalaman buruk atau gangguan sewaktu makan yang dialami Si Kecil mencakup:

  • Trauma waktu makan karena hal eksternal, seperti dipaksa makan atau kesalahan saat menyuap.
  • Kesulitan internal selama makan, seperti refluks kronis, tersedak, atau kesulitan menelan.
  • Adanya alergi/sensitivitas yang tidak teridentifikasi.
  • Adanya kelemahan motorik di area oral Si Kecil sehingga mempengaruhi koordinasi lidah, rahang, dan gigi.
  • Adanya gangguan pemrosesan sensorik yang dapat mempengaruhi penerimaan dan pengelolaan varietas rasa, tekstur, dan konsistensi.

Food preferences tidak hadir begitu saja tanpa penyebab. Semua faktor dan masalah potensial harus diidentifikasi. Tujuannya untuk jadi bahan pertimbangan dan perencanaan perawatan yang optimal agar bisa memenuhi kebutuhan tubuh Si Kecil. Berkonsultasi dengan dokter adalah cara terbaik untuk menghadapi kondisi food preferences.

Cara menghadapi picky eater

Sebagai orangtua, saat menghadapi anak yang sulit makan atau sering memilih makanan, sebaiknya tidak semakin memaksa maupun marah-marah. Berikut beberapa cara menghadapi picky eater pada Si Kecil:

1. Menu bervariasi

Kebiasaan makan orangtua akan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan anak. Karena itu, Bunda bisa memberikan menu yang bervariasi sesuai dengan apa yang orangtua makan. Tunjukkan menu yang dimakan Bunda dan orang dewasa, lalu biarkan Si Kecil memilih makanan yang ia inginkan. Tentu saja, Bunda perlu memberi batasan mana makanan orang dewasa yang bisa dikonsumsi Si Kecil dan mana yang tidak. Hal ini bertujuan agar anak bisa memilih makanan yang disukai, sehingga anak juga tidak merasa jenuh.

Kadang juga, saat orang tua sangat ketat tentang makanan yang bisa/tidak bisa dimakan Si Kecil, atau menuntut terkait apa/bagaimana Si Kecil makan, maka kecenderungannya Si Kecil jadi pemilih makanan.

Sebagai contoh kasus, saat Si Kecil tampak menolak makanan, Bunda cenderung ingin Si Kecil makan makanan sehat atau berkalori tinggi dan menuntut untuk dihabiskan. Hal ini kemudian bertentangan dengan kemauan Si Kecil. Sehingga terjadi interaksi yang cenderung negatif antara Bunda dan Si Kecil. Betapapun bermaksud baik, interaksi semacam itu berpotensi memperburuk keadaan dan jadi traumatik bagi Si Kecil.

Baca Juga: Tips Sukses Mengajarkan Toilet Training Pada Si Kecil

2. Membatasi cemilan

Tidak perlu terlalu berlebihan, sajikan makanan dalam porsi kecil. Orangtua juga harus mengurangi kudapan atau cemilan diantara jam makan. Pembatasan porsi cemilan diharapkan dapat menjaga nafsu makan anak.

3. Terjangkau anak

Biasanya, jika anak disuruh makan sesuatu, maka akan langsung menolak. Tetapi, jika anak memegang kendali, Si Kecil cenderung lebih tertarik. Sehingga sebaiknya sajikan makanan di meja yang terjangkau oleh anak. Membiarkan anak makan sendiri juga dapat membuat Si Kecil bereksplorasi terhadap makanan dan mengasah kemandirian, juga kemampuan motoriknya.

4. Tidak mudah menyerah

Apabila Bunda mencoba memberikan makanan baru, jangan langsung putus asa jika anak menolak. Melansir dari situs IDAI, untuk mengenalkan makanan baru, Si Kecil harus dipaparkan makanan tersebut sebanyak 10-15 kali dalam sehari. Bunda juga dapat mempercantik tampilan makanan, sebab mayoritas batita belajar mengenali makanan yang disukai melalui penglihatannya. Selain itu, juga dapat melibatkan anak saat memasak makanan.

5. Memberi contoh

Orangtua dapat memberikan contoh makan yang menyenangkan. Jika melihat orang lain makan makanan serupa, Si Kecil akan lebih tertarik untuk mencoba. Pada banyak kasus, Bunda sebaiknya memang mencontohkan makan makanan sehat ke Si Kecil. Dengan begitu, Si Kecil secara perlahan melihat, meniru, dan mengadaptasi apa yang Bunda lakukan.

6. Tetap tenang

Ayah dan Bunda harus tetap tenang dan tidak panik bahkan marah-marah saat anak menolak makanan tertentu. Bunda sebaiknya tidak menuruti kemauan Si Kecil berganti-ganti menu makanan. Alasannya, karena bisa jadi Si Kecil sedang mencoba menentang dominasi orang tua saja. Salah satu trik menghadapi Si Kecil yang sulit makan adalah tidak memberikan pujian saat makanan dihabiskan. Sebaliknya juga, Bunda juga tidak perlu memberi ancaman, memarahi, menghukum, membujuk, atau menyebut Si Kecil nakal bila ia tidak menghabiskan makanannya maupun saat makanannya tidak disentuh sama sekali. 

Makanan untuk Anak Picky Eater

Perlu diingat bahwa orangtua bertugas memastikan asupan karbohidrat, protein, dan vitamin yang dibutuhkan Si Kecil tetap terpenuhi. Bunda bisa mencoba berbagai menu masakan baru atau melakukan variasi-variasi agar kembali meningkatkan nafsu makan Si Kecil. Beberapa makanan yang dapat dicoba sebagai berikut:

  • Sup atau soto ayam

Sup atau soto ayam menjadi salah satu makanan yang disukai anak-anak. Bunda dapat mencoba menambahkan bihun sebagai pelengkap karbohidrat, dengan meminimalkan atau tanpa penyedap rasa.

  • Roti bakar telur mata sapi

Roti merupakan karbohidrat, sementara telur ceplok menjadi proteinnya. Si kecil yang susah makan dapat dicoba untuk memberikan roti panggang dengan telur ceplok di tengahnya.

  • Spageti

Spageti menjadi variasi karbohidrat agar anak tak merasa jenuh terus menerus memakan nasi. Bunda dapat menambahkan tomat sebagai bahan dasar saus, yang akan memberikan banyak vitamin seperti vitamin A, C, K, kalium, dan folat, berfungsi sebagai antioksidan.

  • Yogurt buah

Yogurt mempunyai banyak nutrisi, seperti protein, lemak, karbohidrat, probiotik, vitamin dan mineral. Makanan pencuci mulut yang mempunyai rasa asam segar ini juga bermanfaat untuk pencernaan Si Kecil.

Vitamin untuk anak picky eater

Anak yang mengalami picky eater cenderung lebih mungkin mengalami defisit vitamin D. Selain didapatkan tubuh saat sinar matahari mengenai kulit, vitamin D juga dapat bersumber dari makanan, seperti ikan salmon, ikan tuna, udang, dan jamur. Sehingga, anak picky eater cenderung semakin berisiko mengalami kekurangan vitamin ini.

Dampak kekurangan vitamin D dapat membuat gangguan perkembangan tulang dan meningkatkan risiko patah tulang. Selain berfungsi untuk kesehatan tulang, vitamin D juga bermanfaat untuk perkembangan otot dan fungsi kekebalan tubuh. Kebutuhan vitamin D pada anak bergantung pada usianya. Perlu diingat, prinsip kehati-hatian sangat dibutuhkan dalam memberikan vitamin D. Oleh sebab itu, Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terkait.

Bagaimana pun juga, Si Kecil juga mulai mengembangkan preferensi makanan dalam siklus dan proses yang berubah-ubah sepanjang waktu. Bisa jadi, suatu hari nanti makanan favorit Si Kecil dicampakkan begitu saja dan diganti dengan makanan yang dulunya tidak ia suka.

Bisa juga selama berminggu-minggu, mereka mungkin makan 1 atau 2 makanan pilihan dan tidak berganti-ganti. Karena itu, cobalah untuk tidak frustasi dengan perilaku picky eater khas Si Kecil ini. Sediakan saja pilihan makanan sehat dan ketahuilah bahwa, seiring berjalannya waktu, nafsu makan dan perilaku makan Si Kecil akan meningkat.

Lihat Artikel Lainnya