Merawat Bayi Baru Lahir, Apa Saja yang Perlu Diperhatikan?

Morinaga Platinum ♦ 28 Desember 2021

Kehadiran si buah hati di tengah keluarga menjadi hal yang membahagiakan. Tapi tak jarang, pasangan orangtua baru mengalami kekhawatiran dalam mengasuh bayi baru lahir.

Merawat bayi baru lahir memang susah-susah gampang. Orangtua dapat merencanakan dan mempelajari cara mengasuh, termasuk pengetahuan dasar mengenai perawatan bayi baru lahir. 

Apa yang harus dilakukan pertama kali saat Si Kecil lahir? 

Saat keluar dari rahim, bayi yang berada dalam kondisi sehat dan tidak memerlukan pertolongan khusus akan mendapat perawatan standar dari tenaga medis, seperti mengeringkan tubuh bayi dan memotong tali pusatnya. 

Bunda yang tidak mengalami masalah kesehatan tertentu dapat melakukan kontak skin-to-skin atau kulit ke kulit dengan bayi. Ini dilakukan dengan cara meletakkan bayi di atas perut atau dada ibu. 

Di dalam rahim ibu, bayi berada di suhu lingkungan yang optimal antara 36,5-37,5 derajat celcius, sesuai dengan suhu tubuh ibunya. Sesaat setelah dilahirkan, bayi akan berada di suhu yang lebih rendah dari suhu tubuh ibunya sehingga berisiko terjadi hipotermia atau suhu tubuh rendah.

Hipotermia dapat menyebabkan berbagai gejala kesehatan seperti hipoglikemia (gula darah rendah), gangguan pernapasan, lemas atau gelisah, kejang, dan sesak napas.

Untuk menghindari terjadinya hipotermia, dilakukan kontak antara kulit ibu dan bayi dengan meletakkannya di dada ibu atau yang dikenal dengan perawatan metode kanguru. Metode ini sangat baik untuk menghangatkan bayi secara alamiah, sebab suhu kulit ibu akan menghangatkan bayi lebih cepat dan menjaga suhunya tetap stabil.

Mata bayi akan diletakkan sejajar dengan puting susu ibu. Ibu dianjurkan menyentuh dan menyangga ringan bagian bokong bayi, lalu biarkan Si Kecil mencari puting ibu dengan sendirinya.

Jika setelah satu jam belum terjadi proses menyusui dini, bantu bayi dengan mendekatkannya ke puting ibu dan diberikan waktu untuk melanjutkan kembali proses tersebut selama setengah sampai satu jam.

Dalam proses ini, akan lebih baik jika ibu dapat didampingi oleh suami atau keluarga.

Proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Inisiasi menyusui dini (IMD) dapat mengurangi angka kematian bayi dan membantu mensukseskan pemberian ASI eksklusif. Melakukan IMD dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi karena akan mendapatkan ASI pertama atau kolostrum yang mengandung zat-zat kekebalan tubuh.

Tak perlu cemas jika selama proses IMD bayi belum sampai melakukan kegiatan menyusui yang sesungguhnya, dikarenakan proses ini sendiri telah meningkatkan peluang keberhasilan menyusui.

Pada situasi tertentu, bila bayi tidak bugar atau kondisi setelah dilahirkan belum stabil, terkadang IMD tidak dapat dilakukan karena bayi harus segera mendapatkan perawatan lebih lanjut. Apabila hal ini terjadi, ibu dapat sukses menyusui dengan memerah ASI selama bayi belum dapat menyusu secara langsung.

Rawat gabung

Rawat gabung yaitu perawatan bayi dalam kamar yang sama dengan ibu. Rawat gabung bermanfaat mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif karena bayi dapat menyusu langsung kapanpun dan ibu akan mudah mengenali tanda-tanda lapar pada bayi.

Pemberian ASI dapat mencegah terjadinya payudara bengkak, mengurangi risiko kuning pada bayi, mencegah penurunan berat badan yang berlebihan, bayi lebih tenang, mengurangi risiko infeksi, meminimalisir depresi pada ibu pasca persalinan, dan meningkatkan rasa percaya diri ibu untuk merawat bayi.

Waktu tidur bayi

Melansir laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi dapat tidur sampai 20 jam dalam sehari, yang terpecah dalam periode-periode tidur dari 20 menit hingga 4 jam.

 

Agar Si Kecil tetap nyaman, usahakan membuat kamar tidur bersuhu sejuk yakni suhu yang tidak terlalu dingin atau terlalu panas, serta memperoleh cahaya dan ventilasi yang cukup.

Bunda dapat memperhatikan alas yang digunakan untuk Si Kecil dengan menggunakan alas yang rata, tidak terlalu lembut, serta jauhkan benda-benda yang dapat menutupi kepala bayi.

Saat bayi tidur, disarankan untuk memposisikannya secara terlentang. Ini dapat mencegah terjadinya sindrom kematian bayi secara mendadak atau sudden infant death syndrome (SIDS). 

Perawatan tali pusat

Biarkan tali pusat terbuka dan mengering dengan sendirinya, tak perlu dikompres dengan kasa yang mengandung cairan antiseptik. Bayi yang tali pusatnya belum puput, upayakan agar tidak dalam kondisi basah dan tetap menjaga kebersihannya. 

Tali pusat tidak perlu dibersihkan menggunakan sabun maupun cairan lainnya, cukup biarkan terbuka tanpa ditutup dengan kasa kering. Bunda juga tidak perlu memberikan minyak, bedak, maupun jamu-jamuan pada tali pusat, karena akan membuatnya basah dan lembab.

Ketika memakaikan popok, usahakan agar tali pusat tidak tertutup popok agar tidak terkena atau tercemar air seni dan tinja, serta menghindari terjadinya infeksi.

Akan tetapi apabila tali pusat kotor, segera cuci bersih menggunakan air dan sabun, kemudian keringkan dengan kain bersih. Pastikan tangan dalam keadaan bersih ketika ingin merawat tali pusat Si Kecil.

Biarkan tali pusat terlepas sendiri. Saat ditemui tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak pada pusat atau kulit disekitarnya, berbau busuk, maupun terlihat bernanah, segera kontrol ke dokter terdekat.

Memandikan bayi

Saat lahir, bayi belum perlu dimandikan karena masih mempunyai lapisan pelindung yang terlihat seperti lemak berwarna keputihan. Ini berfungsi menjaga suhu bayi. 

Setelah 6 jam kelahiran, bayi dapat dilap dengan air hangat dan sebelum tali pusat lepas, bayi dapat dimandikan dengan kain lap atau spon.Jika tali pusat sudah lepas, bayi bisa dimandikan dengan dimasukkan ke air hangat dan jangan sampai kepala bayi terendam. Sebaiknya usahakan untuk tidak memandikan terlalu pagi maupun terlalu sore. Bunda dapat memakai sabun dan sampo khusus bayi.

Saat melakukan perawatan kulit bayi, minimalisir penggunaan zat-zat yang berkontak dengan kulit karena kulit bayi masih sangat sensitif.

Memilih pakaian bayi

Bunda dapat memilihkan pakaian berbahan lembut, menyerap air, dan tidak kaku. Bayi hanya perlu memakai atasan dan popok atau celana. Jika cuaca dingin, dapat dipakaikan selimut dan topi.

Sebaiknya tidak perlu terus menerus menggunakan sarung tangan maupun kaos kaki karena terdapat indera peraba yang menjadi salah satu media bagi bayi dapat belajar.

Membedong dapat membatasi gerak bayi dan sebisa mungkin hindari pemakaian gurita karena bayi lebih banyak bernapas menggunakan otot-otot perut.

Pola buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK)

Normalnya, bayi akan BAK dalam 24 jam pertama dan BAB paling telat dalam 48 jam pertama. Jika ini tidak terjadi, maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah itu, bayi akan BAK sebanyak 5-6 kali per hari dan BAB 3-4 kali per hari. BAK yang baik berwarna jernih tidak berwarna pekat, sedangkan warna BAB akan berubah dari hitam pekat menjadi hijau dan akhirnya berwarna kekuningan di usia 5 hari. Jika tidak terjadi perubahan warna BAB, maka harus dilakukan evaluasi kecukupan asupan ASI. 

Bunda tidak perlu khawatir jika menemukan darah pada kemaluan bayi perempuan saat awal-awal kelahiran. Keadaan ini masih dianggap normal karena bayi terpengaruh oleh hormon ibu.

Membersihkan kemaluan bayi

Untuk membersihkan kemaluan bayi, lakukan dari bagian depan ke belakang dengan menggunakan kapas yang sudah dibasahi air bersih atau handuk basah. Jangan membersihkan dari bagian bawah anus ke kemaluan.

Mengenali isyarat lapar

Bayi yang lapar akan menunjukkan beberapa tanda, seperti memasukkan tangan ke dalam mulut, menggenggam tangan, mengeluarkan suara mengecap-ngecap.

Jangan tunggu bayi menangis baru menyusuinya. Berikan ASI sesuai kemauan bayi dan sebaiknya tidak dijadwal. Normalnya, bayi akan menyusu selama 5-30 menit dan jika di luar itu lakukan evaluasi proses menyusui.

Jika ibu terpisah dengan bayi, lakukan pemerahan ASI dan berikan menggunakan sendok atau cangkir, agar saat ibu sudah kembali bersama bayi maka bayi tetap bisa menyusu dengan ibu.

Membersihkan mata, telinga, dan hidung bayi

Mata bayi dapat dibersihkan dengan kapas bersih yang dibasahi dengan air hangat, mulai dari hidung ke luar. Apabila menemukan tanda-tanda infeksi pada mata seperti merah, bengkak, atau mengeluarkan nanah, segera bawa bayi ke dokter.

Sementara itu, kotoran telinga tidak perlu dibersihkan secara rutin dengan mengorek liang telinga karena akan keluar sendiri ketika sudah cukup besar dan lunak saat bayi menangis. Adapun lubang hidung bayi juga tidak perlu dibersihkan secara khusus, cukup mengelapnya saat mandi.

Setelah membaca ulasan singkat di atas mengenai perawatan bayi yang baru lahir, Bunda dapat mengerti dan memperhatikan hal-hal yang dapat dilakukan dalam merawat Si Kecil. Selamat menjalani momen-momen bahagia menjadi orangtua!

Lihat Artikel Lainnya