Langkah Tepat Membiasakan Anak agar Mau Menyikat Giginya

Morinaga Platinum ♦ 20 Desember 2021

Membiasakan anak untuk menyikat gigi sejak kecil menjadi salah satu hal yang harus diajarkan. Mengapa? Sebab, menyikat gigi merupakan cara paling mudah untuk menjaga kesehatan mulut dan mencegah risiko kerusakan gigi, khususnya pada anak.

Fase Perkembangan Gigi Anak

Sebelum mengetahui cara menyikat gigi yang benar, Bunda perlu mengetahui fase perkembangan gigi anak terlebih dahulu. Secara umum, anak akan melewati 3 fase gigi.

Menurut laman  Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), fase pertama adalah fase gigi sulung yang dimulai saat pertama kali tumbuh gigi (usia 8-14 bulan). Fase ini berakhir saat mulai ada gigi tetap yang tumbuh (5-6 tahun). Pada fase pertama ini, rongga mulut anak yang normal hanya terdiri dari 20 buah gigi sulung dengan rincian, 10 gigi di rahang atas dan 10 lainnya di rahang bawah. 

Fase kedua adalah fase campuran gigi sulung dan gigi tetap. Tahap ini dimulai ketika gigi tetap mulai tumbuh (5-6 tahun) hingga semua gigi sulung anak tanggal (12 tahun). Nah, ketika semua gigi sulung anak tanggal, maka pertumbuhan gigi anak akan memasuki fase terakhir atau fase gigi tetap.


Cara Menyikat Gigi Anak

Proses pembersihan gigi sebenarnya sudah mulai dilakukan sejak bayi secara alami sejak Si Kecil mengonsumsi ASI. Selain memanfaatkan ASI, Bunda pun perlu menanamkan kebiasaan membersihkan gigi sejak dini. Ada beberapa tahapan yang bisa Bunda terapkan untuk Si Kecil, yakni:

Pembersihan Gusi pada Bayi

Sebagai awalan, Bunda dapat melakukan pembersihan pada gusi sebelum gigi Si Kecil mulai tumbuh. Biasanya, saat gigi bayi mulai tumbuh akan terlihat gusi yang menonjol (bulging)

Bunda bisa membersihkan gusi Si Kecil menggunakan kain kasa steril secara lembut selama minimal 2-3 kali sehari. Lakukan teknik ini secara rutin atau setelah Bunda selesai menyusui. Pembersihan bulging juga bisa dilakukan menggunakan sikat dengan bulu yang lembut. 

Cara ini perlu dilakukan untuk menghilangkan bakteri penyebab munculnya plak di rongga mulut sekaligus membiasakan Si Kecil agar terbiasa dibersihkan rongga mulutnya. Selain itu, pembersihan gusi juga dilakukan untuk mengurangi sensitivitas Si Kecil ketika sikat gigi masuk ke rongga mulutnya nanti. 

Cara Menyikat Gigi Anak 1-3 Tahun

Setelah gigi susu Si Kecil tumbuh, Bunda bisa mengganti sikat giginya dengan sikat gigi sesungguhnya untuk membersihkan giginya. 

Ketika membersihkan gigi Si Kecil, banyak orangtua yang khawatir dengan sikat yang digunakan. Untuk hal ini, Bunda tak perlu bingung. Saat ini, banyak produsen sikat gigi yang telah mengeluarkan produk khusus yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak, sehingga aman untuk digunakan. 

Pilih sikat gigi berukuran kecil dan bila perlu, Bunda bisa merendam sikat gigi di air hangat selama beberapa menit sebelum digunakan. Penting juga untuk memilih pasta gigi yang memiliki rasa khusus untuk membuat anak menyukai kegiatan menyikat gigi. Setelah Si Kecil berusia 2 tahun, Bunda bisa memberikan pasta gigi berfluoride yang dapat mengembalikan mineral di gigi yang hilang karena asam dari bakteri, plak, dan gula. Tanpa penambahan mineral, gigi jadi mudah goyang.

Namun ingat, jangan terlalu banyak mengoleskan pasta gigi. Penggunaan pasta gigi yang disarankan hanya sebesar butir beras atau cukup dioleskan sedikit saja di atas sikat.

Adapun frekuensi menyikat gigi yang disarankan setidaknya 2 kali sehari selama sekitar 2 menit. Setelah proses menyikat selesai, pastikan Si Kecil  meludahkan sisa pasta gigi yang menempel. Jangan sampai pasta giginya tertelan, ya. 

Lantas bagaimana cara menyikat gigi pada Si Kecil? Bunda hanya perlu memberikan rangsangan agar anak mau meludah. Caranya yakni dengan memiringkan posisi kepala Si Kecil selama menyikat gigi dan tunggu sampai ia meludah. Pastikan seluruh pasta gigi yang digunakan telah keluar sepenuhnya dari rongga mulut Si Kecil. 

Cara Menyikat Gigi Anak Usia 3-6 Tahun

Pada usia ini, Bunda bisa mengoleskan pasta gigi lebih banyak dibanding sebelumnya. Penggunaan pasta gigi yang disarankan sebaiknya sebesar biji jagung atau sepanjang permukaan sikat gigi. 

Pada usia ini, Bunda masih harus mendampingi Si Kecil saat ia menyikat giginya. Kendati anak sudah terbiasa menyikat gigi, namun ada risiko ia menelan pasta gigi yang digunakan. 

Jika hal ini terjadi, Bunda tak perlu khawatir. Bunda bisa memberikan makanan dan minuman yang mengandung kalsium, seperti yogurt atau susu sebagai pertolongan pertama. Kalsium dapat mengikat fluoride yang ada pada pasta gigi. 

 

Agar Anak Mau Menyikat Gigi Sendiri

Menyikat gigi bisa menjadi aktivitas yang melelahkan dan membosankan bagi anak. Oleh karenanya, Bunda perlu membangun suasana yang menyenangkan dengan beberapa cara ini:

Beri Anak Kesempatan Menyikat Giginya Sendiri

Ketika anak sudah bisa memegang sikat dengan benar, Bunda bisa loh memberikan kesempatan untuk Si Kecil agar memegang sikatnya sendiri. Cara ini bisa membangun kepercayaan diri dan membiasakan dirinya. 

Sebagai awalan, Bunda dapat memberikan contoh cara menyikat gigi dengan bergantian. Peragakan cara tangan memegang sikat dan ketika berada di dalam mulut. Setelah itu, minta Si Kecil untuk menggosok giginya sendiri pada pagi hari. 

Membiarkan Si Kecil Memilih Pasta Gigi dan Sikat Gigi

Saat ini banyak produsen pasta gigi yang menyediakan produk khusus untuk anak dengan banyak rasa. Tak hanya itu, banyak pula produsen sikat gigi yang mengeluarkan produk khusus untuk anak-anak. Nah, Bunda bisa mengajak Si Kecil berbelanja dan memilih pasta gigi dan sikat giginya sendiri. Cara ini berguna agar anak semakin bersemangat untuk menyikat giginya. 

Memberi Pujian

Bunda dapat memberikan pujian kepada Si Kecil saat ia sudah selesai melakukan kewajibannya. Pujian dapat memicu semangat agar anak untuk berbuat lebih baik lagi ke depannya. 

 

Risiko Kerusakan Gigi

Banyak orangtua yang masih kurang memberikan perhatian pada kesehatan gigi anak. Hal ini pun menimbulkan risiko, terutama kerusakan pada gigi. Bahkan, gigi yang rusak dapat memengaruhi perkembangan rongga mulut Si Kecil, mulai dari terganggunya pertumbuhan rahang, sendi, dan susunan gigi.

Di Indonesia, menurut IDAI, kerusakan gigi pada anak didominasi oleh karies atau gigi berlubang dengan persentase 90,0 persen. Kondisi ini disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi makanan manis, kebiasaan tidak membersihkan rongga mulut, aktivitas bakteri rongga mulut, hingga kualitas struktur gigi seseorang. 

Namun ternyata, kerusakan gigi tak hanya berpengaruh pada kondisi fisiknya saja, tapi juga perkembangan psikis anak. Kerusakan gigi pada anak dapat memengaruhi kepercayaan dirinya. Si Kecil akan menganggap penampilannya terganggu dan menilai dirinya tidak menarik. Inilah mengapa, mengajarkan cara menyikat gigi dapat membantu kehidupan anak nantinya.

Menyikat gigi merupakan usaha pencegahan umum yang mudah dan murah dilakukan. Kebiasaan ini perlu ditanamkan sejak dini agar Si Kecil mulai sadar tentang kesehatan mulut. 

Bunda juga perlu membawanya ke dokter gigi agar usaha menjaga kesehatan rongga mulutnya bisa lebih optimal. Dengan menjaga kesehatan rongga mulutnya sejak kecil, anak akan terhindari dari masalah-masalah yang terjadi pada gigi. 

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan melengkapi kebutuhan nutrisi Si Kecil dengan susu pertumbuhan Morinaga Platinum MoriCare Triple Bifidus yang mengandung Kalsium, Vitamin D, dan Magnesium yang baik untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Tak hanya itu, Morinaga Platinum mendukung sinergi nutrisi antara faktor Kecerdasan Multitalenta, Pertahanan Tubuh Ganda dan faktor Tumbuh Kembang Optimal mendukung Si Kecil menjadi Generasi Platinum yang Multitalenta.

Lihat Artikel Lainnya