Kenali dan Atasi Rasa Takut serta Kecemasan pada Si Kecil

Morinaga Platinum ♦ 1 Mei 2017

Semua orang, anak-anak maupun orang dewasa, pasti pernah mengalami kecemasan atau rasa takut. Merasa cemas dalam sebuah situasi adalah kondisi yang sangat tidak menyenangkan. Namun, pada anak-anak, merasa cemas adalah sesuatu yang wajar. Rasa cemas dibutuhkan agar mereka dapat belajar mengatasi beragam situasi di dalam hidup. Cemas atau takut adalah hal alami yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Beberapa anak bisa mengatasinya dengan baik, namun ada sebagian pula yang tidak.

Kecemasan sering disebut sebagai “ketakutan tanpa sebab yang jelas”. Perasaan itu biasanya muncul walau ketika tidak ada ancaman langsung terhadap dirinya, namun yang bersangkutan merasa ancaman itu nyata. Kecemasan membuat seseorang ingin segera lari dari situasi yang sedang ia hadapi. Jantung berdegup kencang, muncul keringat dingin, dan perut terasa berkecamuk. Tapi, tak selamanya kecemasan berdampak negatif. Manfaat rasa cemas antara lain membantu kita tetap waspada dan fokus. Memiliki rasa takut atau cemas terhadap suatu hal dapat membantu Si Kecil untuk tetap pada jalurnya, misalnya Si Kecil yang takut dengan api tentu secara alami akan menghindari bermain dengan korek api.

Menurut situs childanxiety.net, 90% anak usia 2 hingga 14 tahun mempunyai setidaknya satu ketakutan terhadap hal tertentu. Bayi hingga balita usia 2 tahun umumnya memiliki ketakutan terhadap suara keras, orang asing, dan terpisah dari orangtua. Anak usia prasekolah (3 hingga 6 tahun) terutama takut kepada monster, hantu, kegelapan, dan halilintar. Sementara itu, anak usia sekolah (7 hingga 16 tahun) memiliki ketakutan terhadap hal yang lebih realistis, seperti kecelakaan, penyakit, performa di sekolah, kematian, dan bencana alam.

Rasa takut dapat disebabkan oleh berbagai hal, bahkan yang sepele sekalipun. Beberapa hal yang dapat membangkitkan rasa takut pada anak di antaranya pengalaman traumatik seperti dikejar anjing atau tenggelam di kolam renang.

Sebagian anak bisa merasa takut hanya dengan melihat ekspresi orang lain yang sedang ketakutan terhadap hal tertentu. Imajinasi anak yang berkembang “liar” pun dapat berkontribusi terhadap rasa takut ini.  Namun demikian, ada pula anak yang merasa takut tanpa penyebab yang jelas sekalipun.

Biasanya rasa takut pada anak akan hilang dengan sendirinya pada usia tertentu. Namun jika rasa takut tersebut terus menetap, bahkan mengganggu aktivitas kesehariannya termasuk tidur, hal tersebut sudah berubah menjadi fobia.

Fobia adalah rasa takut berlebihan terhadap objek atau situasi tertentu akibat suatu trauma atau peristiwa yang sangat membekas pada benak anak-anak. Ketakutan berlebihan ini tidak jarang dapat menyebabkan depresi, kecemasan, serta kepanikan yang parah. Fobia dapat muncul karena ketidaktahuan dan imajinasi berlebihan, terlalu banyak menyerap informasi yang tidak mampu dicerna dengan baik, ataupun melihat reaksi orang lain terhadap suatu hal.

Berdasarkan jenis ketakutannya, fobia dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Fobia spesifik, yang merupakan ketakutan berlebihan terhadap objek tertentu, seperti binatang, tempat tertutup, ketinggian, dan lain-lain.
  2. Fobia sosial, yang muncul bila anak berada di tempat ramai, atau takut menjadi pusat perhatian.
  3. Fobia kompleks, yang merupakan gabungan dari fobia spesifik dan sosial secara bersamaan.

Apabila fobia dibiarkan berlarut-larut maka Si Kecil berisiko mengalami gangguan perkembangan mental, oleh karena itu fobia harus segera ditangani. Ayah dan Bunda dapat membawanya ke psikolog atau psikiater anak untuk penanganan lebih lanjut.

Ayah dan Bunda dapat membantu Si Kecil mengatasi rasa takutnya sehingga rasa tersebut tidak berevolusi menjadi reaksi fobia. Lakukan kiat-kiat berikut ini:

Kenalkan pada hal yang membuatnya takut

Rasa takut bisa terjadi karena Si Kecil belum mengenal objek yang ia takuti. Oleh karena itu, kenalkanlah ia pada hal yang membuatnya takut. Misalnya, jika ia takut kucing, berikan informasi yang lengkap dan menarik seputar hewan tersebut, disertai dengan gambar-gambar lucu dari televisi atau buku cerita.

Hadapkan Si Kecil pada ketakutannya

Si Kecil tidak akan bisa mengatasi ketakutannya apabila ia tidak mencoba untuk menghadapinya. Pastikan ia tidak menghindari sumber ketakutannya. Misalnya, Si Kecil takut menjadi pusat perhatian. Ayah dan Bunda bisa melatihnya untuk lebih sering bersosialisasi (memasukkannya ke kursus atau lebih sering mengajaknya bermain dengan teman-teman (playdate) dan lainnya). Menghindari sumber ketakutan hanya akan menjadi solusi sementara, namun cara tersebut tidak akan membantu Si Kecil mengatasi ketakutannya dengan efektif.

Jangan menertawakan Si Kecil

Penyebab rasa takut muncul berbeda untuk tiap orang. Mungkin Ayah dan Bunda menganggap penyebab ketakutan Si Kecil adalah sesuatu yang lucu. Namun, rasa takutnya adalah hal yang serius bagi Si Kecil. Tunjukkan padanya bahwa Ayah dan Bunda bersimpati sekaligus siap membantunya. Ia perlu tahu bahwa Bunda dan Ayah selalu berada di sisinya untuk memberikan dukungan yang ia butuhkan.

Kunci untuk mengatasi rasa takut dan cemas adalah dengan menghadapinya, bukan menghindarinya. Pastikan Ayah dan Bunda menyampaikan pada Si Kecil bahwa tidak ada yang harus ia takuti, ia dalam keadaan aman, dan semuanya akan baik-baik saja. Rasa nyaman lama kelamaan akan meningkatkan pertahanan mentalnya dan ia pun akan bisa mengalahkan ketakutannya.

Lihat Artikel Lainnya