Kenali Gangguan Hidung pada Si Kecil

Oleh: Morinaga Platinum

Hidung adalah salah satu organ tubuh yang dibutuhkan untuk bernapas. Jadi, tentunya gangguan pada hidung akan menyulitkan Si Kecil untuk bernapas dan hal tersebut bisa memengaruhi metabolisme pertumbuhannya. Si Kecil mungkin belum dapat mengatakan apa yang sedang ia rasakan, apalagi biasanya saat ditanya oleh Bunda atau dokter jawabannya pasti “ya” semua. Ini membuat pemeriksaan fisik baik lebih baik digunakan sebagai pegangan utama konfirmasi diagnosis.

Beberapa kelainan hidung dapat terjadi sejak Si Kecil lahir, ia kadang terlihat sesak napas. Pembentukan lubang hidung yang tidak sempurna, atau tidak adanya lubang yang menghubungkan hidung dengan tenggorok (atresia coana), dapat terjadi sendiri atau bersamaan dengan kelainan bawaan lain. Pemeriksaan ante-natal Si Kecil melibatkan semua bagian tubuh, termasuk fungsi dan anatomi telinga, hidung, dan tenggorok. Si Kecil yang mengalami kesulitan napas hebat sejak lahir harus dievaluasi apakah memiliki kelainan bawaan atau tidak.

Pada Si Kecil yang baru lahir, hidung tersumbat bisa menyebabkan ia sulit bernapas yang berakibat pada kekurangan oksigen hingga terlihat biru. Jika terjadi, napas akan terhenti dan apabila durasinya lama dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan.

Untuk Si Kecil yang lebih besar, gangguan hidung sering disebabkan oleh infeksi yang menimbulkan pilek serta sumbatan. Hipertrofi (pembesaran) adenoid adalah penyebab sumbatan hidung yang sering ditemukan pada Si Kecil. Tetapi, kelainan tulang kepala dan tulang wajah (kraniofasial) juga tidak dapat diabaikan sebagai penyebab.

Infeksi, alergi, dan zat toksik lain, seperti rokok serta asap kendaraan, seringkali menyebabkan gangguan hidung pada Si Kecil. Infeksi virus dan bekteri berulang kali menyerang Si Kecil karena sistem kekebalan tubuhnya belum terbentuk baik. Untuk menunjang kesehatan tubuhnya, nutrisi baik harus dikonsumsi Si Kecil sesuai kebutuhan. Bunda juga dapat memberikan nutrisi tambahan yang mengandung nukleotida dan laktoferin yang berfungsi dalam meningkatkan daya tahan tubuh sehingga Si Kecil terjaga dari infeksi seperti pilek.   

Samuel H Wald dkk seperti dikutip dari buku Pediatric Otolaryngology meneliti dan mengemukakan bahwa setidaknya seorang anak mengalami periode batuk pilek 6-8 kali per tahun. Penyebab utamanya adalah terpapar infeksi menular di tempat penitipan anak dan terpapar asap rokok. Kesimpulan penelitian tersebut adalah bahwa Si Kecil yang dititipkan di penitipan anak serta Si Kecil yang terpapar rokok (baik dari Ayah atau Bunda maupun lingkungan) memiliki peluang tinggi menderita rinosinusitis dan otitis media berulang.

Gangguan lain yang sering terjadi pada Si Kecil adalah akibat dari keingintahuannya yang besar. Wah, apa, ya? Jawabannya adalah memasukkan benda asing ke dalam hidung. Hindari memberikan Si Kecil mainan yang berukuran kecil, karena akan berisiko dimasukkan ke dalam hidung, telinga bahkan mulutnya. Tak jarang kasus benda masuk dalam hidung terlambat diketahui sehingga sudah terjadi kerusakan pada hidung (hidung bolong, rusaknya silia hidung). Gejala yang sering timbul adalah Si Kecil alami pilek terus menerus, biasanya satu sisi hidung saja, bau busuk, Si Kecil bernapas melalui mulut, dapat disertai gejala infeksi seperti demam dan ia terlihat lesu.

Setelah mengetahui ragam gangguan hidung serta gejalanya, Bunda harus lebih waspada memerhatikan apakah Si Kecil sedang mengalami sesuatu atau tidak. Ikuti panduan usia yang terdapat pada kemasan mainan dan pastikan mainan yang akan diberikan pada Si Kecil tidak terdiri dari partikel kecil yang bisa ia masukkan ke dalam rongga tubuh. Dan tidak lupa, jaga kesehatan Si Kecil dengan memberikan asupan makanan yang bergizi sesuai kebutuhannya.

Milestone Lainnya