Kembangkan Empati Si Kecil Sedari Dini

Oleh: Morinaga Platinum

Sebagai orangtua tentunya Ayah dan Bunda ingin Si Kecil memiliki tak hanya kecerdasan inteletual saja tetapi juga kecerdasan emosional, dan spiritual. Mengajar dan mengasah kecerdasan emosional Si Kecil memang tidak mudah dilakukan tetapi dengan kesabaran dan contoh yang baik dari Ayah dan Bunda kepribadian Si Kecil yang baik akan terbentuk dari kecil termasuk rasa empati.

Mungkin Ayah dan Bunda sering mendengar kata empati. Sebenarnya apa, sih, empati itu? Empati adalah kemampuan untuk merasakan kondisi emosional orang lain, merasa simpatik, dan mencoba menyelesaikan permasalahan dari sudut pandang orang lain. Dengan kata lain, Si Kecil bisa berempati artinya ia mengerti bagaimana perasaan seseorang ketika menghadapi situasi tertentu baik itu sedih, marah, kecewa, maupun bahagia.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Memiliki empati penting sekali agar kita menjadi lebih dekat dengan orang lain dan menjadikan kita pribadi yang lebih peduli terhadap orang lain. Empati masih sering diremehkan, padahal empati sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.  Apabila seseorang memiliki empati tinggi, ia akan cenderung lebih berhati-hati dalam berkata dan berperilaku agar tidak merugikan orang lain.

Empati bukanlah kemampuan yang sudah otomatis dimiliki seseorang sejak lahir, melainkan ilmu yang harus diasah dan dibentuk. Jangankan Si Kecil, tidak semua orang dewasa dapat menerapkan ilmu empati ini dalam kesehariannya.

Bagaimana cara yang tepat untuk mengajarkan empati pada Si Kecil?

Empati sebagai fondasi dari rasa saling menghargai dan menghormati perlu diajarkan sejak dini. Simak poin berikut yang bisa Ayah dan Bunda terapkan pada Si Kecil:

Penuhi kebutuhan emosi Si Kecil di rumah

Penelitian yang dilakukan pada tahun 1987 oleh Mark A. Barnett memerlihatkan bahwa anak yang kebutuhan emosinya terpenuhi oleh orang terdekatnya memiliki rasa empati yang lebih besar. Jadi, pastikan Ayah dan Bunda memberikan pelukan hangat saat Si Kecil terlihat sedih. Secara tidak langsung, sikap ini merupakan bentuk pengajaran empati pada Si Kecil.

Jangan sepelekan keluhan Si Kecil

Seringkali Ayah dan Bunda tidak menganggap serius apa yang diceritakan Si Kecil, termasuk saat ia bercerita tentang masalahnya. Ayah dan Bunda sebaiknya mendengarkan apa yang disampaikan Si Kecil dengan sikap dewasa. Fokus pada apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikannya. Si Kecil akan merasa dan belajar bahwa ada perasaan nyaman saat keluhannya didengarkan dan diperhatikan. Dengan demikian, ia juga akan berlaku yang sama dengan teman atau orang sekitarnya.

Memberikan respons dengan ekspresi

Berdasarkan teori empati yang disampaikan oleh Martin L. Hoffman pada tahun 1979, sebenarnya Si Kecil yang berusia dua tahun pun sudah dapat memahami emosi yang dimiliki orang lain. Pemahaman ini kemudian akan berkembang menjadi rasa empati. Hanya saja, refleksi dari rasa empati itu yang belum sesuai. Misalnya, ketika temannya menangis, ia akan menawarkan boneka kesayangannya atau botol minumannya –dua hal yang sebenarnya mungkin menenangkan dirinya tapi belum tentu menenangkan orang lain.

Salah satu cara untuk mengubah bentuk respons tersebut adalah dengan mengajarkan Si Kecil berbagai ekspresi. Tertawa, sedih, dan kecewa adalah berbagai ekspresi yang dapat ditunjukkan orang dewasa sebagai respons sikap anak. Contohnya,  bila Si Kecil terlihat murung, Ayah dan Bunda dapat menghampiri dengan ekspresi sedih. Ini menunjukkan bahwa Ayah dan Bunda memahami apa yang sedang ia rasakan. Dengan demikian, ia akan belajar bagaimana cara menanggapi berbagai situasi yang dihadapi orang sekitarnya. Sikap inilah yang akan menjadi cikal bakal respons empati yang bentuknya telah sesuai.

Untuk menanamkan sikap yang baik pada Si Kecil, sebaiknya Ayah dan Bunda memberikan teladan. Tunjukkan sikap peduli terhadap orang lain atau ajak Si Kecil terlibat diskusi mengenai kepedulian tersebut agar ia bisa terlibat aktif.

Milestone Lainnya