Kenali Flek Saat Hamil dan Cara Mengatasinya

Oleh: Morinaga Platinum

7 Desember 2020

Bun, keluarnya flek saat hamil pasti menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Bunda. Namun, Bunda tidak perlu panik. Hal ini wajar kok, Bun. Namun, Bunda tetap harus mewaspadainya terlebih jika disertai gejala-gejala lain seperti nyeri dan kram perut.

Flek saat hamil adalah bercak perdarahan ringan yang keluar dari vagina, hal ini bisa terjadi selama masa kehamilan terutama di trimester pertama. Sekitar 20 persen wanita mengalami perdarahan di 12 minggu pertama kehamilannya. Warna flek yang keluar pun bervariasi, bisa merah muda, merah, atau coklat. Warna coklat pada flek biasanya menandakan darah sudah cukup lama berada di rahim, atau tidak dikeluarkan dari tubuh dengan cepat. Sehingga ketika keluar, darah akan berwarna lebih gelap.

Penyebab Flek pada Kehamilan

Keluarnya flek saat hamil bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

  • Pendarahan implantasi

    Biasanya pendarahan implantasi terjadi 6-12 hari setelah konsepsi atau pembuahan. Implantasi adalah proses menempelnya sel telur yang telah dibuahi pada rahim. Umumnya, flek atau darah yang keluar sangat sedikit dan hanya terjadi selama beberapa jam atau beberapa hari saja.
  • Iritasi serviks

    Saat hamil, terjadi lonjakan hormon dan peningkatan aliran darah ke leher rahim atau serviks. Hal ini membuat serviks menjadi sangat sensitif dan lebih mudah teriritasi, sehingga akhirnya mengeluarkan flek. Iritasi ini biasanya muncul setelah berhubungan seksual saat hamil, pemeriksaan serviks oleh dokter atau bidan, dan infeksi.

Baca Juga: Boleh Enggak Hamil Tua Melakukan Hubungan Intim?

  • Tanda-tanda persalinan

    Keluarnya flek coklat saat hamil tua dapat menjadi pertanda bahwa waktu persalinan sudah dekat. Ketika tubuh siap untuk melahirkan, leher rahim akan melunak dan melepaskan sumbatan lendir. Sumbatan ini membantu melindungi rahim dari bakteri atau kotoran dari luar tubuh. Umumnya, lendir yang keluar berwarna putih, kecoklatan, merah muda, atau bahkan sedikit kehijauan. Hal ini biasanya terjadi beberapa minggu atau beberapa hari sebelum persalinan yaitu pada usia kehamilan 36-40 minggu.
  • Kehamilan ektopik

    Dalam beberapa kasus, flek coklat saat hamil bisa disebabkan oleh kehamilan ektopik atau kehamilan di luar rahim. Kondisi ini berpotensi mengancam jiwa dan membutuhkan penanganan medis secepatnya jika terjadi robekan di tempat terjadinya kehamilan ektopik. Segera temui dokter jika pendarahan atau flek disertai dengan gejala pusing yang parah, pingsan, nyeri bahu, nyeri perut atau panggul yang datang dan pergi terutama di salah satu sisi, kulit terlihat pucat, kaki tangan terasa dingin, dan detak jantung berubah jadi cepat.
  • Keguguran

    Perdarahan apa pun pada masa kehamilan bisa merupakan tanda awal keguguran. Perdarahan akibat keguguran biasanya disertai dengan gejala lain, seperti kram dan nyeri perut, nyeri punggung bawah, keluarnya darah merah dalam jumlah banyak, keluarnya jaringan atau gumpalan dari vagina. Jika hal ini terjadi, segera hubungi dokter ya, Bun.

Baca juga: Ini Dia Mitos Seputar Keguguran yang Harus Bunda Ketahui

  • Gangguan pada plasenta dan serviks

    Dalam kasus yang jarang terjadi, flek coklat saat hamil bisa menjadi pertanda adanya masalah pada plasenta, seperti infeksi pada rahim atau plasenta previa. Plasenta previa adalah kondisi ketika ari-ari atau plasenta berada di bagian bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Selain menutupi jalan lahir, plasenta previa dapat menyebabkan perdarahan hebat, baik sebelum maupun saat persalinan.

Ciri-ciri Flek yang Berbahaya

Walaupun keluarnya flek saat kehamilan merupakan fenomena yang wajar, namun ada juga flek yang menandakan kondisi yang lebih serius, berbahaya atau bahkan mengancam nyawa, Bun. Berikut beberapa ciri flek yang berbahaya saat kehamilan:

  • Jumlah darah semakin banyak

    Jumlah darah yang banyak atau semakin bertambah dari hari ke hari, menandakan adanya luka dan pelepasan jaringan di sekitar rahim yang cukup luas. Seberapa luas jaringan yang lepas ini harus dievaluasi melalui pemeriksaan dokter dan USG. Kondisi ini menjadi berbahaya bila evaluasi menunjukkan jaringan di sekitar kantung janin ikut terlepas bersamaan dengan darah yang keluar.
  • Darah beraroma menyengat atau busuk

    Ibu hamil memang sangat rentan mengalami infeksi. Darah beraroma menyengat mencerminkan infeksi yang bisa jadi melibatkan daerah sekitar rahim dan membahayakan janin yang dikandungnya.
  • Keluar gumpalan bersamaan dengan darah

    Tidak jarang ibu hamil yang mengalami flek mengeluhkan adanya gumpalan menyerupai daging yang ikut keluar bersamaan dengan darah. Gumpalan ini patut dicurigai sebagai jaringan rahim atau bahkan kantung janin yang terlepas dan ikut keluar. Bila hal ini terjadi, segera hubungi dokter ya, Bun.
  • Flek disertai kram perut

    Kram atau nyeri perut yang terjadi harus diwaspadai bila intensitasnya berat dan bertambah hebat. Nyeri perut ini bisa jadi menandakan adanya kontraksi rahim yang berusaha mengeluarkan jaringan kandungan dan dapat menjadi tanda awal dari keguguran.
  • Pandangan kabur atau berkunang-kunang

    Flek atau perdarahan hebat dapat membuat sang ibu mengalami anemia atau kurang darah. Salah satu tanda terjadinya anemia adalah pandangan kabur atau berkunang-kunang. Tidak hanya berbahaya bagi ibu hamil, namun anemia juga berpotensi mengancam keselamatan janin yang dikandungnya.

Cara Menangani Flek saat Hamil

Flek coklat saat hamil adalah fenomena normal, namun Bunda tetap dianjurkan untuk lebih waspada dan berkonsultasi ke dokter kandungan, terutama jika keluhan tersebut muncul bersamaan dengan gejala lain yang tidak wajar.

Biasanya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik disertai pemeriksaan penunjang seperti USG, untuk memastikan ibu dan janin dalam keadaan baik-baik saja. Jika ditemukan masalah pada janin atau pada rahim, dokter akan menentukan langkah perawatan selanjutnya sesuai kondisi ibu dan janin.

Selain penanganan medis, sebaiknya Bunda makan makanan bernutrisi,  beristirahat di tempat tidur, membatasi aktivitas sehari-hari dan aktivitas fisik, tidak mengangkat benda berat, dan menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan mengonsumsi banyak air putih.

Milestone Lainnya