12 Cara Mendidik Anak agar Mandiri Sejak Kecil

Morinaga Platinum ♦ 1 Maret 2017

12 Cara Mendidik Anak agar Mandiri Sejak Kecil

Kemandirian bagi anak merupakan landasan penting yang membantu mereka mengembangkan keterampilan, rasa percaya diri, dan tanggung jawab dalam menghadapi dunia dengan lebih mandiri. Orang tua dapat mengajarkan kemandirian pada anak sejak masih kecil, loh.

Caranya dengan membangun komunikasi yang baik, menjadi contoh baik bagi anak, serta melatih keterampilan emosional anak. Yuk, ketahui informasi selengkapnya berikut ini. 

Cara Mendidik Anak agar Mandiri

Lalu, bagaimana cara mendidik anak agar tidak tumbuh manja? Berikut kiat-kiat yang bisa Bunda terapkan agar Si Kecil tumbuh mandiri dan berkarakter baik:

1. Pastikan Ayah dan Bunda Sepaham

Seringkali terjadi kasus di mana Ayah dan Bunda terbagi menjadi dua kubu yaitu good cop dan bad cop. Ayah berkata “ya”, sementara Bunda berkata “tidak”, atau sebaliknya. Hal ini harus dihindari agar Si Kecil tidak berkecenderungan manja pada satu pihak. Sepakati dulu pola asuh seperti apa yang ingin diterapkan dalam keluarga. 

2. Ciptakan Komunikasi yang Baik

Dalam membina hubungan yang baik dengan Si Kecil dibutuhkan komunikasi yang lancar. Pastikan Ayah dan Bunda meluangkan waktu untuk mengobrol dengan Si Kecil. Selain ia dapat membuka diri, hal ini juga bisa mencegahnya menjadi manja karena merasa kurang perhatian.

Ayah dan Bunda juga harus ajarkan anak untuk tanggung jawab demi membentuk sifat kemandirian sejak dini. Bagaimana caranya? Yuk, ikuti panduannya di artikel ini: 7 Cara Mengatasi Anak Manja dan Cengeng.

3. Jangan Selalu Turuti Si Kecil

Terlalu sering memberikan bantuan saat Si Kecil membutuhkannya akan membuatnya bergantung bahkan manja. Terapkan aturan-aturan sederhana yang harus dipatuhi oleh Si Kecil. Biarkan ia bertanggung jawab atas perilakunya. Menyayangi Si Kecil bukan berarti Bunda harus menuruti semua keinginannya.

4. Berikan Contoh yang Baik

Anak-anak sering meniru perilaku orang dewasa di sekitar mereka. Oleh karena itu, menjadi contoh yang baik dengan menunjukkan nilai-nilai seperti kejujuran, empati, kerja keras, dan penghormatan.

Ajarkan anak untuk melakukan hal-hal sehari-hari seperti berpakaian, membersihkan diri, atau merapikan mainan. Ini membantu mereka mengembangkan rasa kemandirian dan tanggung jawab.

5. Beri Dorongan Positif

Berikan pujian dan penguatan positif ketika anak berhasil atau melakukan hal yang baik. Ini membantu meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi mereka.

6. Bantu Kembangkan Keterampilan Sosial Anak

Ajarkan anak bagaimana berinteraksi dengan orang lain dengan hormat, memahami perasaan orang lain, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif.

7. Beri Kebebasan untuk Berpikir dan Bertanya

Ajarkan anak untuk berpikir kritis dan mendorong mereka untuk bertanya. Ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir yang baik dan rasa ingin tahu.

8. Libatkan Anak dalam Kegiatan Bersama

Luangkan waktu untuk bermain dan berinteraksi dengan anak. Aktivitas bersama memperkuat hubungan dan memberikan peluang untuk mengajarkan keterampilan dan nilai-nilai.

Faktor Penentu Pembentukan Karakter Anak

Sekarang, yuk kita bahas faktor apa saja yang berperan dalam pembentukan karakter Si Kecil, termasuk Si Bungsu :

Pola Didik dan Asuh Keluarga

Tentu saja kepribadian Si Kecil dibentuk pertama kalinya dalam keluarga. Jadi, apabila keluarga memiliki pola asuh permisif (memberi perhatian tetapi longgar dalam tuntutan), akan membuat Si Kecil tumbuh manja dan tidak bertanggung jawab karena keinginannya sering dituruti.

Sebaliknya, jika diasuh secara otoriter (sangat menuntut tapi kurang memberikan perhatian), Si Kecil dapat tumbuh menjadi pribadi yang penakut dan tidak memiliki inspirasi. Idealnya, pola asuh dijalani dengan demokratis, yakni ketika Ayah dan Bunda menuntut namun sekaligus memberi perhatian pada kebutuhan Si Kecil.

Peran Lembaga Pendidikan

Tempat Si Kecil mendapat bimbingan berikutnya adalah lembaga pendidikan. Di sini, karakter Si Kecil dibentuk dalam berbagai aspek. Pembentukan karakter ini semestinya dilakukan dengan cara seimbang, namun seringkali ada satu aspek yang ditekankan, sementara aspek lainnya terabaikan. Misalnya penekanan berlebihan pada aspek kognitif, tetapi mengabaikan pembentukan karakter.

Ini bisa membentuk Si Kecil menjadi pribadi yang mungkin berhasil secara kognitif tetapi kurang karakter positif. Jadi, pastikan Bunda memilih sekolah yang kurikulumnya sudah sesuai dengan pola didik dan asuh yang diyakini keluarga.

Tanpa melihat urutan lahirnya dalam keluarga, Si Kecil memiliki keunikan dan kemampuan sendiri. Bentuk karakternya dengan baik agar ia tumbuh menjadi individu yang mandiri dan bertanggung jawab.

Agar lebih terasah, Bunda dan Ayah dapat memberikan stimulasi yang optimal pada kecerdasan moral Si Kecil. Yuk, identifikasi kecerdasan majemuknya di situs Morinaga Multiple Intelligence Play Plan.

Lihat Artikel Lainnya