Artikel Terbaru Artikel Terbaru

Ciri-ciri Anak Autis yang Harus Bunda Ketahui

Morinaga Platinum ♦ 3 April 2022

Autism spectrum disorder (ASD) atau autisme adalah masalah kesehatan yang  mengganggu perkembangan saraf, sehingga kemampuan anak dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan berperilaku menjadi terpengaruh. Ciri-ciri anak autisme yaitu sulit berkomunikasi, sulit bersosialisasi, dan lain sebagainya. Lanjutkan membaca untuk mengetahui lebih dalam mengenai ciri-ciri anak autis dan cara menanganinya, yuk. 

Ciri-ciri Anak Autis

Pada dasarnya, anak autis menunjukkan ciri-ciri yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Berikut adalah beberapa ciri yang bisa Bunda perhatikan sejak dini.

  • Sulit Berkomunikasi

Mayoritas anak yang mengalami autisme akan sulit untuk berkomunikasi, menulis, membaca, dan sulit memahami bahasa isyarat, seperti menunjuk atau melambai. Hal ini tentu saja akan membuatnya sulit untuk memulai sebuah percakapan dan memahami maksud dari suatu perkataan ataupun petunjuk yang diberikan oleh orang lain.

Tak jarang, anak dengan diagnosa autis juga gemar mengucapkan kata tertentu berulang kali, baik dari kalimat yang ia dengar beberapa waktu sebelumnya atau dari nada tertentu yang terkesan seperti layaknya bernyanyi, bahkan sering tantrum.

  • Sulit Bersosialisasi

Kesulitan dalam bersosialisasi adalah salah satu ciri-ciri anak autism. Mereka sering kali terlihat asyik bermain sendiri, akibatnya menjadi lebih sulit untuk terhubung dan berinteraksi dengan apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Berikut ciri-ciri anak autis yang kesulitan dalam bersosialisasi:

  • Kurang sensitif serta responsif untuk mengenali perasaan orang lain maupun perasaannya sendiri.
  • Biasanya anak autis memiliki hubungan timbal balik yang kurang lancar dengan orang lain. 
  • Sulit untuk diajak berbicara, tidak memiliki emosi atau ekspresi yang sesuai untuk suatu keadaan.
  • Tidak merespons saat dipanggil atau diajak bicara.
  • Sulit menjalin hubungan pertemanan, dan bahkan tidak berminat untuk berteman.

Oleh sebab itu, anak dengan gangguan autisme biasanya tidak mudah meminjamkan mainan kepada orang lain, atau tidak bisa fokus pada sistem pembelajaran yang ada di sekolah.

  • Adanya Gangguan Pola Perilaku

Tingkah laku, ketertarikan, dan rutinitas anak yang menderita autisme cenderung berulang, monoton, dan kaku. Misalnya, ketika sedang berbicara atau berinteraksi dengan suatu benda, anak autis biasanya akan sibuk melakukan gerakan tidak perlu secara berulang pada bagian tubuh tertentu, membolak-balikkan suatu benda, menumpuk mainan, ataupun mengulangi kata-kata yang sebelumnya disampaikan oleh lawan bicara. 

  • Mudah marah
  • Sering tertawa tiba-tiba
  • Gemar melakukan gerakan secara berulang
  • Cenderung mengkonsumsi makanan tertentu
  • Menangis tanpa sebab yang jelas 
  • Cenderung memiliki kegemaran pada topik atau objek tertentu
  • Tidak mudah tertidur
  • Gerakan tubuh kaku
  • Kurang peka terhadap rangsangan luar, dan terkadang juga dapat memberikan reaksi berlebihan atau reaksi yang tidak wajar terhadap rangsangan nyeri, suhu, suara, atau tekstur benda
  • Bahkan, jika ada situasi yang menekan dirinya, ia bisa membenturkan kepala atau menggigit tangannya sendiri secara tiba-tiba yang bisa membahayakan dirinya sendiri.

Meski demikian, tidak semua anak dengan gangguan autisme mengalami gejala yang buruk. Beberapa anak penderita autisme juga banyak yang mempunyai bakat atau kelebihan alami dalam bidang tertentu, misalnya seperti dapat menerima pelajaran secara terperinci dan mengingatnya untuk jangka waktu yang lama.

  • Red Flags Autisme

Penting bagi Bunda untuk mewaspadai red flags (tanda bahaya) autisme. Red flags ini biasanya mulai muncul pada usia tertentu, dan sebaiknya segera dilakukan penanganan oleh dokter ahli. Berikut adalah beberapa red flags autisme yang perlu Bunda ketahui:

  • Tidak ada ocehan, menunjuk, serta adanya tanda-tanda ekspresi wajah tidak wajar ketika Si Kecil berusia 12 bulan.
  • Tidak ada kata-kata yang berarti saat usia 16 bulan.
  • Pada usia 24 bulan Si Kecil belum bisa mengucapkan kalimat lebih dari 2 kata.
  • Si Kecil kehilangan skill sosialisasi dan berbahasa dengan orang lain.
  • Anak tidak menoleh atau sulit menoleh ketika dipanggil namanya saat berusia 6 - 12 bulan.
  • Apabila Bunda melihat satu di antara sekian red flags tersebut, maka segeralah bawa Si. Kecil untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut atau skrining ke dokter spesialis anak. Sehingga diagnosis maupun intervensi dapat dilakukan secepat mungkin.

Cara Menangani Anak Autis

Sampai dengan saat ini, penyebab anak autis masih belum diketahui secara pasti. Selain itu, tidak ada tes khusus atau pengobatan yang dapat mendiagnosa atau menyembuhkan anak yang menderita autisme. 

Meski demikian, terdapat beberapa opsi penanganan yang bisa Bunda pilih agar anak penderita autisme tidak merasa kesulitan untuk mengasah potensi diri maupun melakukan penyesuaian dengan berbagai aktivitas yang terjadi di lingkungan sehari-hari.

Penanganan yang biasanya diberikan kepada penderita autisme biasanya adalah berupa terapi. Umumnya, sebelum dilakukan perawatan akan ada analisa kondisi kesehatan terlebih dahulu, sehingga jenis terapi yang dijalankan bisa lebih maksimal. Sebab, metodologi serta prosedur penanganan dokter kepada tiap anak penderita gangguan autisme bisa berbeda-beda.

Tujuan terapi tersebut yakni membantu penderita autisme agar ia dapat tumbuh secara optimal, sekaligus bisa menjalani kehidupan secara mandiri saat ia sudah menginjak usia dewasa nanti. 

Berikut adalah beberapa pilihan metode terapi untuk anak autis:

  • Terapi Autisme Lewat Perilaku serta Cara Komunikasi

Terapi autisme melalui penyesuaian perilaku serta cara berkomunikasi bisa dieksekusi dengan memberikan contoh respon secara langsung kepada anak. Contohnya seperti skill dasar verbal maupun nonverbal dalam aktivitas sehari-hari. Dengan melakukan terapi ini, Si Kecil dapat belajar berbahasa lewat contoh kalimat sesuai seperti apa yang mereka ingin sampaikan, serta mengubah perilaku anak untuk menghindari emosinya.

  • Terapi Keluarga

Tujuan utama dari prosedur ini yaitu supaya seluruh anggota keluarga dapat belajar menyesuaikan diri terkait caranya berinteraksi dengan anak autis dan mengajarkan anak tersebut untuk berbicara dan berperilaku normal. Misalnya, Bunda akan diberi edukasi untuk mengasuh Si Kecil yang menderita autisme, karena anak penderita gangguan autisme cenderung tidak dapat diasuh dengan pola asuh yang diterapkan pada anak yang normal.

  • Mengonsumsi Obat

Mengonsumsi obat sebenarnya tidak bisa untuk menyembuhkan autisme, tetapi dapat mengendalikan gejalanya. Contohnya, pemberian obat ini dilakukan untuk mengatasi kejang, masalah perilaku, depresi, dan gangguan tidur.

Terapi pemberian obat memang tidak diperlukan oleh semua penderita autisme. Namun, setiap anak dengan gangguan penyakit ini wajib memperoleh perawatan non-obat yang diikuti dengan sekolah atau pembinaan kemampuan mandiri dan kemampuan untuk berkarya.

Tingkat kedalaman intervensi sendiri secara umum akan dilakukan oleh terapis berpengalaman yang didampingi oleh dokter syaraf serta dokter rehabilitasi medis. Beberapa faktor yang bisa menentukan di antaranya seperti tingkat keparahan gejala, umur anak, dan juga kapabilitas otak Si Kecil.

Dengan semakin berkembangnya ilmu kedokteran, sehingga terdapat secercah harapan pada penyakit autisme. Pasalnya, saat ini sudah banyak instrumen skrining yang dapat digunakan untuk mendeteksi dini autisme dengan lebih spesifik. Semakin dini diagnosis autisme, maka semakin cepat pula intervensi yang dapat diberikan. 

Nah, demikianlah beberapa ciri-ciri anak autis yang perlu Bunda ketahui. Jangan terlambat mengenali autisme ya. Apabila Bunda menemukan ciri-ciri ataupun red flags pada Si Kecil, maka segeralah bawa ke rumah sakit atau dokter spesialis anak untuk mendapatkan diagnosis lebih lanjut. Selain itu, ketahui juga cara melatih fokus Si Kecil yang menderita autis, yuk

Lihat Artikel Lainnya