Artikel Terbaru Artikel Terbaru

Ciri-ciri Anak Autis yang Mudah Dikenali di Usia Dini

Morinaga Platinum ♦ 2 Februari 2024

Ciri-ciri Anak Autis yang Mudah Dikenali di Usia Dini

Autisme, yang juga dikenal sebagai gangguan spektrum autisme (GSA), merupakan sebuah gangguan neurologis yang mempengaruhi cara anak berinteraksi, berkomunikasi, dan bertindak. Meski penyebab pastinya masih menjadi misteri, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kombinasi faktor genetik dan lingkungan dapat menjadi penyebabnya.

Ciri-ciri anak autis yang paling mudah dikenali di usia dini terlihat dari adanya kesulitan dalam berinteraksi, pola perilaku yang berulang, dan keterbatasan komunikasi. Namun, selain dua hal tersebut masih ada beberapa tanda yang perlu Bunda kenali. 

Untuk membantu Bunda memahami lebih jauh terkait gangguan ini, yuk baca artikel di bawah ini hingga selesai.

Ciri-ciri Anak Autis

Pada sebagian anak, ciri-ciri gangguan autisme mulai muncul pada awal masa bayi, seperti berkurangnya kontak mata, tidak merespons terhadap nama, dan tidak peduli terhadap pengasuh. 

Sebagian lainnya mengalami perkembangan yang normal pada tahun pertama kehidupan anak, namun tiba-tiba kehilangan bahasa yang sebelumnya dimiliki saat memasuki usia 2 tahun.

Gejala autisme yang dialami anak umumnya bisa berbeda-beda, namun ada beberapa tanda-tanda umum yang bisa Bunda kenali seperti:

Sulit Berkomunikasi dan Bersosialisasi

Mayoritas anak yang mengalami autisme akan sulit untuk berkomunikasi, menulis, membaca, dan sulit memahami bahasa isyarat, seperti menunjuk atau melambai. Hal ini tentu saja akan membuatnya sulit untuk memulai sebuah percakapan dan memahami maksud dari suatu perkataan ataupun petunjuk yang diberikan oleh orang lain.

Tak jarang, anak dengan diagnosa autis juga gemar mengucapkan kata tertentu berulang kali, baik dari kalimat yang ia dengar beberapa waktu sebelumnya atau dari nada tertentu yang terkesan seperti layaknya bernyanyi, bahkan sering tantrum.

Meskipun tantrum merupakan hal yang normal dialami anak-anak, tetapi kondisi ini tidak boleh diabaikan atau ditangani asal-asalan ya, Bun. Untuk mengetahui penanganan yang tepat, baca artikel berikut yuk: Cara Efektif Mengatasi Anak Tantrum dan Ciri Umumnya

Selain masalah komunikasi, anak autis juga sering mengalami kesulitan bersosialisasi. Mereka sering kali terlihat asyik bermain sendiri dan lebih sulit untuk terhubung untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Beberapa contoh ciri autisme terkait dengan cara berkomunikasi dan bersosialisasi, antara lain:

  • Tidak ada kontak mata ketika diajak berinteraksi
  • Kurang sensitif serta responsif untuk mengenali perasaan orang lain maupun perasaannya sendiri.
  • Biasanya anak autis memiliki hubungan timbal balik yang kurang lancar dengan orang lain. 
  • Sulit untuk diajak berbicara, tidak memiliki emosi atau ekspresi yang sesuai untuk suatu keadaan.
  • Tidak merespons saat dipanggil atau diajak bicara.
  • Sulit menjalin hubungan pertemanan, dan bahkan tidak berminat untuk berteman.

Oleh sebab itu, anak dengan gangguan autisme biasanya tidak mudah meminjamkan mainan kepada orang lain, atau tidak bisa fokus pada sistem pembelajaran yang ada di sekolah.

Pola Perilaku yang Terbatas atau Berulang

Tingkah laku, ketertarikan, dan rutinitas anak yang menderita autisme cenderung berulang, monoton, dan terbatas. 

Misalnya, ketika sedang berbicara atau berinteraksi dengan suatu benda, anak autis biasanya akan sibuk melakukan suatu gerakan tidak perlu secara berulang pada bagian tubuh tertentu, membolak-balikkan suatu benda, menumpuk mainan, ataupun mengulangi kata-kata yang sebelumnya disampaikan oleh lawan bicara.

Beberapa contohnya antara lain:

  • Mudah marah
  • Sering mengulang-ulang kata tertentu, disebut juga dengan echolalia
  • Sering tertawa tiba-tiba
  • Gemar melakukan gerakan secara berulang
  • Cenderung mengkonsumsi makanan tertentu
  • Menangis tanpa sebab yang jelas 
  • Cenderung memiliki kegemaran pada topik atau objek tertentu
  • Kurang peka terhadap rangsangan luar, dan terkadang juga dapat memberikan reaksi berlebihan atau reaksi yang tidak wajar terhadap rangsangan nyeri, suhu, suara, atau tekstur benda
  • Bahkan, jika ada situasi yang menekan dirinya, ia bisa membenturkan kepala atau menggigit tangannya sendiri secara tiba-tiba yang bisa membahayakan dirinya sendiri.

Meski demikian, tidak semua anak dengan gangguan autisme mengalami gejala yang buruk. Beberapa anak penderita autisme juga banyak yang mempunyai bakat atau kelebihan alami dalam bidang tertentu, misalnya seperti dapat menerima pelajaran secara terperinci dan mengingatnya untuk jangka waktu yang lama.

Karakteristik Autisme Lainnya

Dilansir dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), selain terlihat dari pola perilaku dan cara berkomunikasi, ada beberapa ciri lain yang umumnya dialami oleh anak autis, yaitu:

  • Lambatnya perkembangan dalam berbicara
  • Tertundanya keterampilan motorik
  • Penundaan dalam kemampuan belajar atau kognitif
  • Sikap yang terlalu aktif, bertindak tanpa berpikir, dan/atau sulit berkonsentrasi
  • Kondisi epilepsi atau gangguan kejang
  • Pola makan dan tidur yang tidak umum
  • Keluhan pada sistem pencernaan, seperti susah buang air besar
  • Reaksi emosi atau suasana hati yang tidak terduga
  • Rasa cemas, tekanan psikologis, atau kecemasan yang berlebih
  • Kurangnya rasa takut atau tingkat ketakutan yang tidak sesuai dengan situasi

Pada anak yang mengalami autisme, ciri-ciri yang telah disebutkan belum tentu akan mereka alami semuanya ya Bun.

Gejala Autisme yang Perlu Diwaspadai

Anak autis umumnya mengalami kondisi keterlambatan dalam tumbuh kembangnya. Hal pertama yang paling terlihat adalah keterlambatan kemampuan bahasa dan interaksi sosialnya. Selain dau hal tersebut, Si Kecil juga berpotensi mengalami keterlambatan pada kemampuan kognitifnya.

Penting bagi Bunda untuk mewaspadai red flag atau tanda bahaya autisme tersebut. Gejala-gejala ini biasanya mulai muncul pada usia tertentu, dan sebaiknya segera dilakukan penanganan oleh dokter ahli.

Berikut adalah beberapa tanda bahaya autisme yang perlu Bunda ketahui:

  • Tidak merespons dengan senyuman atau ekspresi bahagia pada usia 6 bulan
  • Tidak mampu meniru suara atau ekspresi wajah pada usia 9 bulan
  • Tidak ada ocehan ketika Si Kecil berusia 12 bulan
  • Tidak mampu memberi isyarat, seperti menunjuk atau melambaikan tangan pada usia 14 bulan
  • Belum mampu mengucapkan satu kata pun pada usia 16 bulan
  • Pada usia 24 bulan Si Kecil belum bisa mengucapkan kalimat lebih dari 2 kata
  • Si Kecil kehilangan skill sosialisasi dan berbahasa dengan orang lain
  • Si Kecil tidak menoleh atau sulit menoleh ketika dipanggil namanya saat berusia 6-12 bulan

Apabila Bunda melihat satu di antara sekian tanda di atas, maka segeralah bawa Si Kecil untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut atau skrining ke dokter spesialis anak. Sehingga diagnosis maupun intervensi dapat dilakukan secepat mungkin.

Apakah Anak dengan Autisme Bisa Sembuh?

Hingga saat ini, autisme, atau gangguan spektrum autisme (GSA), tidak dapat disembuhkan secara total. Autisme adalah kondisi neurologis yang kompleks dan berkelanjutan yang berpengaruh pada pengembangan otak, memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi, dan memproses informasi.

Meskipun belum bisa disembuhkan, ada banyak terapi dan pendekatan intervensi yang dapat membantu anak dengan autisme untuk meningkatkan keterampilan sosial, komunikasi, dan perilaku adaptif. Terapi-terapi ini dirancang untuk mengurangi gejala dan meningkatkan fungsi serta kualitas hidup. Pendekatan ini termasuk terapi perilaku, terapi wicara, terapi okupasional, dan pendidikan khusus, serta dukungan bagi keluarga dan pengasuh.

Umumnya, sebelum dilakukan perawatan akan ada analisa kondisi kesehatan terlebih dahulu, sehingga jenis terapi yang dijalankan bisa lebih maksimal. Sebab, metodologi serta prosedur penanganan dokter kepada tiap anak penderita gangguan autisme bisa berbeda-beda.

Pengobatan Autisme

Saat ini, belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan gangguan spektrum autisme, dan masing-masing anak mungkin memerlukan pendekatan yang berbeda. Tujuan utama dari pengobatan autisme adalah untuk meningkatkan kemampuan fungsi anak dalam beraktivitas sehari-hari dengan mengurangi gejala gangguan spektrum autisme.

Beberapa pilihan terapi yang dapat dilakukan meliputi:

Terapi Perilaku dan Komunikasi

Terapi autisme melalui penyesuaian perilaku serta cara berkomunikasi bisa dieksekusi dengan memberikan contoh respon secara langsung kepada anak.

Contohnya seperti skill dasar verbal maupun nonverbal dalam aktivitas sehari-hari. Dengan melakukan terapi ini, Si Kecil dapat belajar berbahasa lewat contoh kalimat sesuai seperti apa yang mereka ingin sampaikan, serta mengubah perilaku anak untuk menghindari emosinya.

Terapi Pendidikan

Pendekatan melalui pendidikan yang dijalani anak juga dapat dilakukan melalui kolaborasi antara guru, tenaga kesehatan profesional, dan beragam aktivitas untuk meningkatkan keterampilan sosial, komunikasi, dan perilaku anak. Anak-anak usia prasekolah yang menerima intervensi perilaku yang intensif dan individual seringkali menunjukkan kemajuan yang baik.

Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan misalnya, menerapkan ide bahwa anak dengan autisme mampu memahami informasi dengan baik apabila terdapat unsur konsistensi dan pembelajaran visual. Ini memberikan guru cara untuk menyesuaikan struktur kelas untuk mendukung perkembangan anak secara akademik.

Terapi Keluarga

Tujuan utama dari prosedur ini yaitu supaya seluruh anggota keluarga dapat belajar menyesuaikan diri terkait caranya berinteraksi dengan anak autis dan mengajarkan anak tersebut untuk berbicara dan berperilaku normal.

Misalnya, Bunda akan diberi edukasi untuk mengasuh Si Kecil yang menderita autisme, karena anak penderita gangguan autisme cenderung tidak dapat diasuh dengan pola asuh yang diterapkan pada anak yang normal.

Mengonsumsi Obat

Mengonsumsi obat sebenarnya tidak bisa untuk menyembuhkan autisme, tetapi dapat mengendalikan gejalanya. Contohnya, pemberian obat ini dilakukan untuk mengatasi kejang, masalah perilaku, depresi, dan gangguan tidur.

Terapi pemberian obat memang tidak diperlukan oleh semua penderita autisme. Namun, setiap anak dengan gangguan penyakit ini wajib memperoleh perawatan non-obat yang diikuti dengan sekolah atau pembinaan kemampuan mandiri dan kemampuan untuk berkarya.

Tingkat kedalaman intervensi sendiri secara umum akan dilakukan oleh terapis berpengalaman yang didampingi oleh dokter syaraf serta dokter rehabilitasi medis. Beberapa faktor yang bisa menentukan di antaranya seperti tingkat keparahan gejala, umur anak, dan juga kapabilitas otak Si Kecil.

Dengan semakin berkembangnya ilmu kedokteran, sehingga terdapat secercah harapan pada penyakit autisme. Pasalnya, saat ini sudah banyak instrumen skrining yang dapat digunakan untuk mendeteksi dini autisme dengan lebih spesifik. Semakin dini diagnosis autisme, maka semakin cepat pula intervensi yang dapat diberikan.

Nah, demikianlah beberapa ciri-ciri anak autis yang perlu Bunda ketahui. Jangan terlambat mengenali autisme ya. Apabila Bunda menemukan ciri-ciri ataupun red flags pada Si Kecil, maka segeralah bawa ke rumah sakit atau dokter spesialis anak untuk mendapatkan diagnosis lebih lanjut. Selain itu, ketahui juga cara melatih fokus Si Kecil yang menderita autis, yuk.

Referensi:

  • Mayo Clinic. Autism spectrum disorder. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/autism-spectrum-disorder/symptoms-causes/syc-20352928 (Diakses pada 10 Januari 2024).
  • CDC. Autism Spectrum Disorder (ASD). https://www.cdc.gov/ncbddd/autism/index.html. (Diakses pada 10 Januari 2024).