Mengenal Penyebab Anak Pemarah dan Cara Mengatasinya

Morinaga Platinum ♦ 1 Sepember 2017

Bunda, tantrum atau mengamuk adalah hal yang umum dialami oleh anak. Namun hal ini perlu diperhatikan agar anak tidak tumbuh jadi sosok yang pemarah. Marah pada anak bisa dipicu berbagai alasan, dari mulai merasa frustrasi karena tidak bisa melakukan sesuatu atau marah tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Namun, jika mengamuk berulang kali terjadi atau Si Kecil betul-betul tidak bisa mengontrol emosinya, ini mungkin tanda bahwa ia memiliki masalah perilaku. Simak selengkapnya untuk mengetahui penyebab dan cara mengatasi anak yang pemarah.

Penyebab Anak Mudah Marah

Apabila Si Kecil rutin marah, ini biasanya gejala dari tekanan emosional. Langkah pertama penanganannya adalah mencari tahu pemicu perilaku marah tersebut. Ada beberapa kondisi yang mungkin melatarbelakangi mengamuknya Si Kecil, antara lain ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), anxiety (kecemasan), Si Kecil sering merasa diabaikan di rumah, mengalami gangguan belajar, atau autis. 

Selain itu, anak pemarah juga bisa disebabkan oleh faktor lingkungan. Seperti trauma, ketidakharmonisan keluarga, kesulitan dengan tugas sekolah, dibully teman-temannya, ataupun pola asuh yang terlalu keras bisa menyebabkan anak menjadi pemarah sehari-harinya. Untuk mengetahui pemicu pastinya, Si Kecil harus menjalani pemeriksaan fisik dan psikologis dari dokter spesialis anak dan ahli psikiatri.

Lantas bagaimana dengan Si Kecil yang tidak sering mengamuk tetapi menemui kesulitan mengontrol emosinya? Tingkat temperamen anak memang berbeda-beda. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh beragam hal, misalnya faktor genetik serta faktor lingkungan seperti keluarga atau komunitas sekitar. Sikap Si Kecil yang pemarah bisa saja dipengaruhi oleh pola asuh serta hubungan antara Ayah, Bunda, dan Si Kecil. Pelajari lebih lanjut tentang autis dengan membaca konten berikut, yuk: Ciri-ciri Anak Autis yang Harus Bunda Ketahui

Cara Mengatasi Anak dengan Sifat Pemarah

Ada beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh Ayah dan Bunda untuk menangani Si Kecil yang memiliki sifat pemarah, antara lain:

1. Mengenal Anak Lebih Baik Lagi

Ayah dan Bunda harus mengenal sifat dan karakter Si Kecil. Kenali juga kelebihan dan kekurangan anak. Dengan demikian Ayah dan Bunda akan lebih mudah memahami perasaan Si Kecil. Bantu Si Kecil memahami kekurangan dan kelebihan dirinya dan ajarkan bagaimana cara meningkatkan kelebihannya serta mengatasi kekurangannya.

2. Orang Tua Perlu Menerapkan Pola Asuh yang Sama

Di dalam keluarga, Ayah dan Bunda harus memiliki pola asuh sama dan tidak bertolak belakang. Pola asuh yang bertolak belakang membuat Si Kecil bingung. Diskusikan dulu permintaan Si Kecil sebelum memutuskan sesuatu. Jangan sampai Ayah melarang sesuatu, namun Bunda memperbolehkannya ataupun sebaliknya.

3. Respon dengan Bijak Kemarahan Anak

Marah merupakan ekspresi emosi Si Kecil. Jika anak sedang marah, tunjukkan sikap pengertian dan mendengarkan keluhannya. Tanya apa yang membuatnya merasa marah, kemudian tanya juga bagaimana menurutnya solusi terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. Jika memang menurut Ayah dan Bunda solusi tersebut sesuai, maka turutilah. Jika solusi yang diberikan tidak sesuai, berikanlah pengertian mengapa hal itu tidak boleh dilakukan. Jangan menghadapi kemarahan Si Kecil dengan kemarahan pula.

4. Introspeksi

Si Kecil akan mengikuti sikap juga perilaku Ayah dan Bunda. Jika Ayah atau Bunda pemarah, maka ubahlah sifat tersebut agar Si Kecil tidak mengikuti. Beri Si Kecil perhatian, kasih sayang, dan pengertian yang cukup namun tetap tegas, agar ia tetap menghormati Ayah dan Bunda.

Tanda Masalah Perilaku Pemarah pada Anak yang Harus Diwaspadai

Lalu, apa saja tanda masalah perilaku pemarah yang harus diwaspadai oleh Ayah dan Bunda? Simak berikut ini:

  • Mengamuk masih terjadi pada tahap usia di mana harusnya Si Kecil lebih bisa mengatur amarahnya, sekitar 7-8 tahun.
  • Perilakunya membahayakan dirinya dan orang lain
  • Ayah dan Bunda sering mendapat teguran dari sekolah karena perilaku Si Kecil
  • Perilaku Si Kecil menghalanginya bersosialisasi dengan temannya, misalnya ia diasingkan dari lingkaran mainnya
  • Perilaku mengamuknya menyebabkan banyak konflik di rumah
  • Apabila Si Kecil kesal pada dirinya sendiri karena ia tidak bisa mengontrol amarahnya dan ini membuatnya merasa dirinya tidak berguna

Kurangnya peran Ayah dan Bunda dalam pendidikan mental dan emosional pada usia dini akan berdampak pada kondisi mental Si Kecil di masa mendatang. Ini bisa menyebabkan Si Kecil menjadi minder, pemarah, krisis kepercayaan atau malu.

Melatih Si Kecil sejak dini akan mengubah sifat pemarahnya dengan perlahan sehingga ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan.

 

Lihat Artikel Lainnya