Cari Tahu Sebab dan Cara Mengatasi Si Kecil yang Pemarah

Oleh: Morinaga Platinum

Si Kecil mudah tersulut emosinya? Tantrum atau mengamuk adalah hal yang umum dialami oleh Si Kecil. Alasan pemicunya beragam, dari mulai merasa frustrasi karena tidak bisa melakukan sesuatu atau kesal karena harus melakukan satu hal yang diminta Ayah dan Bunda tetapi ia tidak mau. Namun, jika mengamuk berulang kali terjadi atau Si Kecil betul-betul tidak bisa mengontrol emosinya, ini mungkin tanda bahwa ia memiliki masalah perilaku. 

Lalu, apa saja tanda masalah perilaku yang harus diwaspadai oleh Ayah dan Bunda? Simak berikut ini:

  • Mengamuk masih terjadi pada tahap usia di mana harusnya Si Kecil lebih bisa mengatur amarahnya, sekitar 7-8 tahun.
  • Perilakunya membahayakan dirinya dan orang lain
  • Ayah dan Bunda sering mendapat teguran dari sekolah karena perilaku Si Kecil
  • Perilaku Si Kecil menghalanginya bersosialisasi dengan temannya, misalnya ia diasingkan dari lingkaran mainnya
  • Perilaku mengamuknya menyebabkan banyak konflik di rumah
  • Apabila Si Kecil kesal pada dirinya sendiri karena ia tidak bisa mengontrol amarahnya dan ini membuatnya merasa dirinya tidak berguna

Apabila Si Kecil rutin mengamuk, ini biasanya gejala dari tekanan emosional. Langkah pertama penanganannya adalah mencari tahu pemicu perilaku marah tersebut. Ada beberapa kondisi yang mungkin melatarbelakangi mengamuknya Si Kecil, antara lain ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), anxiety (kecemasan), Si Kecil sering merasa diabaikan di rumah, mengalami gangguan belajar, atau autis. Untuk mengetahui pemicu pastinya, Si Kecil harus menjalani pemeriksaan fisik dan psikologis dari dokter spesialis anak dan ahli psikiatri.

Lantas bagaimana dengan Si Kecil yang tidak sering mengamuk tetapi menemui kesulitan mengontrol emosinya? Tingkat temperamen anak memang berbeda-beda. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh beragam hal, misalnya faktor genetik serta faktor lingkungan seperti keluarga atau komunitas sekitar. Sikap Si Kecil yang pemarah bisa saja dipengaruhi oleh pola asuh serta hubungan antara Ayah, Bunda, dan Si Kecil.

Erik Erikson, psikolog Amerika Serikat yang dikenal karena teori perkembangan psikososial, membagi tahap perkembangan psikologi anak menjadi empat tahap. Pada usia 0-2 tahun, terjadi tahap perkembangan kepercayaan anak. Kemudian, pada anak usia 2-3 tahun, terjadi tahap perkembangan kemandirian. Setelah anak berusia 4-5 tahun, terjadi tahap perkembangan inisiatif. Selanjutnya, pada usia 6-11 tahun terjadi tahap perkembangan perasaan untuk memperoleh keinginannya.

Kurangnya peran Ayah dan Bunda dalam pendidikan mental dan emosional pada usia dini akan berdampak pada kondisi mental Si Kecil di masa mendatang. Ini bisa menyebabkan Si Kecil menjadi minder, pemarah, krisis kepercayaan atau malu.

Ada beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh Ayah dan Bunda untuk menangani Si Kecil yang memiliki sifat pemarah, antara lain:

Kenali Si Kecil

Ayah dan Bunda harus mengenal sifat dan karakter Si Kecil. Kenali juga kelebihan dan kekurangan anak. Dengan demikian Ayah dan Bunda akan lebih mudah memahami perasaan Si Kecil. Bantu Si Kecil memahami kekurangan dan kelebihan dirinya dan ajarkan bagaimana cara meningkatkan kelebihannya serta mengatasi kekurangannya.

Ayah dan Bunda harus terapkan pola asuh sama

Di dalam keluarga, Ayah dan Bunda harus memiliki pola asuh sama dan tidak bertolak belakang. Pola asuh yang bertolak belakang membuat Si Kecil bingung. Diskusikan dulu permintaan Si Kecil sebelum memutuskan sesuatu. Jangan sampai Ayah melarang sesuatu, namun Bunda memperbolehkannya ataupun sebaliknya.

Berikan reaksi yang pantas untuk sikap Si Kecil

Marah merupakan ekspresi emosi Si Kecil. Jika anak sedang marah, tunjukkan sikap pengertian dan mendengarkan keluhannya. Tanya apa yang membuatnya merasa marah, kemudian tanya juga bagaimana menurutnya solusi terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. Jika memang menurut Ayah dan Bunda solusi tersebut sesuai, maka turutilah. Jika solusi yang diberikan tidak sesuai, berikanlah pengertian mengapa hal itu tidak boleh dilakukan. Jangan menghadapi kemarahan Si Kecil dengan kemarahan pula.

Introspeksi

Si Kecil akan mengikuti sikap juga perilaku Ayah dan Bunda. Jika Ayah atau Bunda pemarah, maka ubahlah sifat tersebut agar Si Kecil tidak mengikuti. Beri Si Kecil perhatian, kasih sayang, dan pengertian yang cukup namun tetap tegas, agar ia tetap menghormati Ayah dan Bunda.

Melatih Si Kecil sejak dini akan mengubah sifat pemarahnya dengan perlahan sehingga ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan.

Milestone Lainnya