Cara Tepat Ajarkan Edukasi Seksual Sesuai Tahapan Usia Anak

Morinaga Platinum ♦ 21 Januari 2020

Bunda, mengajarkan edukasi seks penting diajarkan sejak anak masih usia dini, lho. Apalagi di zaman teknologi yang makin pesat seperti sekarang ini anak punya kesempatan dan kemungkinan yang lebih besar untuk mengakses soal seks dari sumber-sumber yang tak terpercaya. Belum lagi kejahatan seksual terhadap anak terus meningkat dan membuat Si Kecil aman adalah salah satu tugas Ayah dan Bunda. Mumpung Si Kecil masih berusia dini, saatnya Bunda mengajarkan kecerdasan interpersonal agar anak cerdas berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, berikan edukasi tentang bagian vital yang dimiliki anak, mana yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain.

Mengedukasi anak soal seks memang masih masalah yang tabu tapi masih harus tetap dilakukan. Ajarkan pelan-pelan saja sesuai tahapan usianya agar Si Kecil lebih mengerti ya, Bun. Begini cara yang bisa Bunda lakukan, simak ya!

1. Usia 1 sampai 2 tahun

Menurut Canadian Paediatric Society di usia satu sampai dua tahun, anak sudah mulai mengerti tentang bahasa dan kata-kata. Di tahap ini, edukasi seks bisa dimulai dengan mengajarkan tentang organ tubuh, termasuk organ seksual. Mengajarkan nama yang benar untuk bagian tubuh memungkinkan anak untuk bisa berkomunikasi dengan baik masalah kesehatan, cedera, bahkan pelecehan seksual. Selain itu, mengenal dengan baik nama organ tubuh membantu memahami bahwa bagian vital juga sama normalnya dengan bagian tubuh lainnya.

2. Usia 3 sampai 4 tahun

Di usia sekitar 3 tahun, Bunda sudah harus mengajarkan bagian-bagian tubuh yang sifatnya sangat personal. Ada bagian yang tidak boleh orang lain sentuh kecuali dirinya sendiri dan orang terdekatnya. Berikan juga edukasi tentang pemahaman umum identitas gender seseorang. Ada perbedaan antara pria dan wanita, dan anak di usia 3 sampai 4 tahun harus sudah bisa membedakannya.

3. Anak usia 5 tahun

Anak usia 5 tahun sudah cukup dewasa untuk mengenal kata ‘malu’. Bunda bisa memberikan edukasi bahwa membuka baju atau memperlihatkan kemaluannya hanya boleh ketika ia berada di ruang tertutup bersama orang yang bisa ia percaya. Bunda bisa katakan “nak, kamu boleh menyentuh alat kelamin tapi harus tahu kapan dan di mana tempatnya.” Dengan begitu ia akan paham bahwa bagian-bagian vital tersebut sangat bersifat pribadi.

Saat membicarakan seks, posisikan Bunda sebagai teman Si Kecil agar ia tidak merasa digurui. Jadi, ia bisa terbuka mengenai beragam hal tentang alat kelaminnya. Jadikan percakapan soal seks sebagai hal yang lumrah dibicarakan dalam keluarga. Dengan begitu nanti jika Si Kecil punya pertanyaan, ia pun akan langsung berdiskusi dengan Ayah atau Bunda. Jangan remehkan kemampuan anak dalam menyerap pengetahuan ya, Bunda. Mereka adalah pembelajar yang sangat baik sehingga suatu hari Bunda akan bersyukur telah membekalinya dengan pendidikan seks yang cukup.

Lihat Artikel Lainnya