Artikel Terbaru Artikel Terbaru

Ciri-ciri Keracunan Makanan dan Cara Mengatasinya

Morinaga Platinum ♦ 21 Juli 2023

Ciri-ciri Keracunan Makanan dan Cara Mengatasinya

Keracunan makanan adalah kondisi yang ditandai dengan dehidrasi, sakit perut, diare, mual sampai muntah-muntah setelah mengonsumsi makanan tertentu. Kondisi ini lebih rentan terjadi pada anak-anak karena sistem pencernaan mereka yang belum sempurna. Mengetahui cara mengatasi keracunan makanan pada anak sangat penting agar Bunda dapat segera menolong Si Kecil.Yuk, cari tahu selengkapnya.

Ciri-ciri Keracunan Makanan pada Anak

Gejala keracunan makanan pada tiap anak akan sangat beragam dan kondisi ini ditentukan pada jenis bakteri atau virus yang terdapat pada makanan tersebut. Akan tetapi, terdapat gejala umum yang sering terjadi pada Si Kecil, misalnya muntah, diare, dan demam. Untuk mengenal ciri-ciri lengkapnya, berikut gejala yang sering terlihat saat keracunan makanan.

Mual dan muntah 

Ciri-ciri keracunan makanan yang pertama adalah Si Kecil mual-mual dan muntah. Dilansir dari WebMD, Mual merupakan rasa tidak nyaman pada perut yang sering muncul sebelum muntah. Muntah merupakan pengosongan isi lambung melalui mulut.

Mual dan muntah sesaat setelah makan, atau 1 jam sampai 8 jam setelah makan dapat mengindikasikan Si Kecil keracunan makanan. 

Demam

Demam adalah ciri-ciri lainnya bahwa Si Kecil mengalami keracunan makanan. Biasanya demam akan disertai dengan berkeringat, sakit kepala, dan menggigil. Dilansir dari Healthline, suhu tubuh bayi (0-12 bulan) yang normal adalah 36.7–37.3 derajat celsius, sedangkan untuk anak-anak, suhu yang normal berkisar 36.4–37.4 derajat celsius.

Pastikan Bunda cek suhu tubuh Si Kecil secara berkala. Jika suhu tubuhnya diatas normal, segera berikan obat penurun demam untuk menghilangkan gejala keracunan makanan. 

Selain dengan obat, Bunda juga bisa menerapkan cara-cara ini untuk menangani panas Si Kecil. Untuk informasi selengkapnya, yuk pelajari: Cara menurunkan panas anak secara alami.

Diare

Diare adalah salah satu ciri-ciri keracunan makanan yang perlu Bunda perhatikan. Diare disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Saat Si Kecil mengalami diare, pastikan untuk memenuhi asupan airnya untuk mencegah dehidrasi pada Si Kecil.

Selain memenuhi asupan cairan, masih ada beberapa cara untuk menangani diare pada anak. Tips selengkapnya, yuk simak: Cara mengatasi diare anak secara alami.

Hilangnya nafsu makan

Ciri-ciri terakhir jika Si Kecil keracunan makanan adalah hilangnya keinginannya untuk makan. Hal ini disebabkan oleh rasa mual yang dirasakan Si Kecil, yang terkadang juga dapat memuntahkan apa yang dimakan.

Penyebab Keracunan Makanan pada Anak 

Penyebab keracunan pada anak seperti yang dikutip dari WebMD, adalah sebagai berikut:

  • Campylobacter: Merupakan bakteri yang terdapat pada makanan dan minuman yang diproses dengan buruk. 
  • Escherichia coli (E. coli): Bakteri ini terdapat pada sayuran yang mentah dan daging kurang matang.
  • Listeria: Terdapat pada daging deli dan keju lembut. Daging deli merupakan daging yang sudah dipotong menjadi lembaran, seperti daging untuk sandwich. 
  • Norovirus: Bakteri ini ada dalam kerang yang kurang matang. 
  • Salmonella: Biasanya dapat ditemukan dalam unggas setengah matang dan telur mentah. 
  • Staphylococcus aureus: Bakteri ini juga dapat mengakibatkan infeksi staph, yang dapat menyebabkan bisul.

Selain diakibatkan dari bakteri-bakteri di atas, keracunan makanan seringkali diakibatkan karena makanan yang tidak matang, tidak disimpan dengan baik, mengonsumsi makanan yang sudah kadaluarsa, dan makanan yang disentuh oleh orang yang sakit atau yang belum mencuci tangannya.

Selain penyebab di atas, minum susu formula yang lebih dari 2 jam juga bisa menyebabkan diare. Jangan sepelekan ya Bun, karena risiko ini cukup mengganggu kesehatan pencernaan anak. Untuk info selengkapnya, yuk baca di sini: susu formula lebih dari 2 jam kenapa tidak boleh diminum?

Berapa Lama Efek Keracunan Makanan?

Lama efek keracunan makanan dapat bervariasi tergantung pada jenis keracunan, tingkat keparahannya, dan kondisi kesehatan anak yang terkena. Biasanya, anak akan pulih dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu setelah mengalami keracunan.

Faktor tingkat keparahan keracunan dapat dipengaruhi oleh jenis patogen yang menyebabkan keracunan, jumlah patogen yang dikonsumsi, dan respon imun tubuh terhadap infeksi. 

Jika keracunan makanan ringan atau sedang, biasanya gejalanya akan berlangsung selama beberapa hari hingga satu minggu. Namun, jika kondisinya parah atau disertai dengan komplikasi, bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya dan perlu perawatan intensif. 

Cara Mengatasi Keracunan Makanan pada Anak

Jika Si Kecil mengalami keracunan makanan, jangan panik Bunda. Bunda bisa menyembuhkan Si Kecil dengan cara yang alami terlebih dulu. Berikut beberapa cara mengatasi keracunan pada anak.

Minum Air Putih

Keracunan makanan bisa membuat anak dehidrasi karena muntah dan diare. Cairan yang keluar harus segera diganti dengan cara banyak minum air putih. Jika Si Kecil merasa mual, siasati dengan cara minum air dalam jumlah sedikit, tapi lebih sering.

Memberi air kelapa

Mengonsumsi air kelapa adalah salah satu cara untuk mengatasi keracunan makanan pada anak. Saat Si Kecil mengalami diare karena keracunan, air kelapa yang mengandung potasium, sodium, magnesium dan kalsium berperan sebagai elektrolit, dapat membantu keseimbangan cairan dalam tubuh Si Kecil. Bunda dapat memberi Si Kecil air kelapa ketika ia sudah mencapai usia 6 bulan. 

Menghindari makanan yang susah dicerna

Ketika Si Kecil mengalami keracunan makanan, sebaiknya Bunda tidak memberikannya makanan yang susah dicerna. Karena hal ini dapat memperparah gejala keracunan yang sudah ada. Oleh karena itu, ketika kondisi ini terjadi segera hindari memberikan makanan berlemak atau gorengan saat Si Kecil. Karena pencernaan Si Kecil masih sensitif, pastikan makanan yang masuk dalam porsi yang kecil untuk menghindari anak kembali mual.

Hentikan makan dan minum untuk beberapa jam

Dilansir dari Mayo Clinic, sebaiknya hentikan makan dan minum untuk beberapa jam. Hal ini bertujuan untuk membuat perut Si Kecil lebih tenang dan beristirahat untuk sejenak dari mual dan diare.

Makan makanan yang lebih hambar

Ketika Si Kecil mengalami keracunan makanan, dikutip dari Healthline, sebaiknya makan makanan yang lebih lembut di perut dan saluran pencernaan Si Kecil. Makanan yang lembut dapat berupa pisang, sereal, putih telur, madu dan yang lain sebagainya. 

Memastikan Si Kecil istirahat

Dehidrasi karena gejala diare, tentunya Si Kecil akan kehilangan energi dan lemas badannya. Pastikan Si Kecil mendapatkan istirahat yang cukup agar semangat dan energinya dapat kembali. 

Membuatkan teh jahe

Jahe sebagai obat alami, dapat membantu Si Kecil menghilangkan gejala keracunan makanan. Dikutip dari Healthline, jahe memiliki kandungan gingerol, yang dapat membantu menurunkan infeksi. Selain itu, dapat menghambat pertumbuhan berbagai macam bakteri. Untuk pemberian jahe sendiri, Bunda dapat memberinya kepada Si Kecil saat ia berusia 2 tahun.

Caranya cukup mudah, yaitu dengan cara merebus satu sendok teh parutan jahe dengan air segelas selama beberapa saat. Untuk menambahkan rasa, Bunda dapat tambahkan gula atau madu.

Obat Keracunan Makanan Berbahan Alami

Saat Si Kecil mengalami keracunan makanan, tentu Bunda akan merasa panik dan tburu-buru bergegas ke toko obat terdekat. Akan tetapi, bagaimana jika jarak antara rumah dan toko obat begitu jauh? Ini adalah satu hambatan yang akan membuat Bunda tambah panik, bukan?

Padahal, Bunda bisa mengandalkan bahan-bahan makanan yang ada di rumah untuk mengatasinya lho. Apa saja? Simak penjelasan berikut ya.

Susu

Ya, Si Kecil yang keracunan makanan boleh minum susu. Sebenarnya, kemampuan susu dalam mengatasi kondisi tersebut sudah dikenal banyak orang. Pasalnya, susu memiliki senyawa protein yang bisa dihancurkan dan diubah ke dalam bentuk asam amino untuk diserap tubuh.

Setelah senyawa tersebut dicerna enzim, maka akan diubah menjadi peptida polimer. Senyawa ini berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh serta mengandung mikroba yang berfungsi sebagai penangkal racun.

Madu

Selain bisa meningkatkan kekebalan tubuh dan mengatasi kelainan pada pencernaan, madu juga bisa menjadi obat alami keracunan makanan Bun. Ditambah, rasanya yang manis tentu akan membuat Si Kecil doyan dan suka mengkonsumsinya. 

Jahe

Bahan alami selanjutnya yang bisa Bunda andalkan adalah Jahe. Meskipun jahe lebih dikenal khasiatnya dalam menghangatkan tubuh, Jahe juga bisa mengatasi rasa mual akibat keracunan makanan.

 

Cara mengolah jahe untuk obat keracunan makanan pun cukup mudah. Namun, Si Kecil mungkin akan merasa kurang tertarik mengingat rasanya yang pedas. Oleh karena itu, Bunda bisa mencampurkan jahe dengan gula atau madu saat menyajikannya.

Di samping tiga bahan alami yang sering Bunda temui di dapur di atas, masih ada beberapa obat keracunan makanan yang bisa dicoba. Seperti kombinasi yogurt dan pisang, air kelapa, serta air putih. Jadi, cukup disesuaikan saja dengan kebutuhan dan ketersediaannya di rumah, ya.

Kapan Anak yang Keracunan Makanan Harus ke Dokter?

Cara-cara yang telah disebutkan sebelumnya merupakan pertolongan pertama ketika Si Kecil mengalami keracunan makanan. Dikutip dari Mayo Clinic, berikut merupakan tanda-tanda Si Kecil harus dibawa ke dokter, yaitu sebagai berikut:

  • Jika muntah atau buang air besar yang berdarah
  • Suhu oral yang melebihi 38 derajat Celcius
  • Tanda dehidrasi yang berlebihan – mulut kering, haus yang berlebihan
  • Diare yang berlangsung lebih dari tiga hari
  • Kram perut yang parah
  • Penglihatan kabur dan kesemutan di lengan 

Cara Mencegah Keracunan Makanan pada Anak

Ada beberapa tips agar Si Kecil dapat terhindar dari keracunan makanan, yaitu sebagai berikut:

Memastikan tangan bersih

Ketika Bunda menyiapkan makanan, pastikan selalu mencuci tangan ya dengan sabun. Baik ketika mempersiapkan makanan, setelah menyentuh makanan yang mentah, atau memegang benda-benda yang lain. Hal ini bertujuan agar bakteri tidak berpindah ke dalam makanan yang Bunda siapkan.

Memasak makanan sampai matang

Pastikan ketika Bunda memasak daging-dagingan atau ayam, harus sampai matang agar bakterinya hilang. Selain itu, sebaiknya Bunda mencucinya terlebih dahulu, dan jangan sampai percikan airnya mengenai peralatan memasak.  Setelah itu, pastikan Bunda mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah memasak. 

Selalu bersihkan peralatan masak 

Tips selanjutnya adalah, pastikan Bunda selalu mencuci peralatan masak setelah menggunakannya. Khususnya, setelah Bunda memasak daging atau ayam, telur dan sayur-sayuran.

Pisahkan daging dalam kulkas

Dalam kulkas, pastikan Bunda memisahkan daging dengan makanan-makanan lainnya seperti buah dan juga roti. Hal ini bertujuan agar bakteri yang terdapat pada daging tidak menyebar ke makanan yang lain di dalam kulkas.

Nah, itulah ciri-ciri keracunan makanan pada anak, cara mengatasi, serta pencegahannya. Pastikan juga Bunda selalu membiasakan gaya hidup sehat pada anak dan memberikan makanan yang sehat ya. Menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh juga penting untuk dilakukan. Ketahui cara untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dengan membaca artikel ini yuk: Cegah Infeksi Virus dengan Tingkatkan Daya Tahan Si Kecil.