Bunda Wajib Tahu! 4 Pola Asuh Anak: Mana Yang Terbaik?

Morinaga Platinum ♦ 1 Maret 2017

Bunda tentunya setuju dengan pernyataan bahwa peran orangtua dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan Si Kecil sangatlah penting. Agar Si Kecil bisa melalui proses tumbuh kembang yang optimal, Ayah dan Bunda harus memberikannya pendampingan dan pola asuh yang sesuai untuk anak. 

Apa yang dimaksud dengan “sesuai”? Bunda harus tahu dan paham kapan harus berfungsi sebagai orangtua, teman bermain, dan sebagai sahabat yang siap menampung keluh kesahnya. Tak hanya itu saja, Bunda juga harus pandai melakukan pemantauan. Kapan waktunya memantau dari jauh, dekat, juga saatnya memberikan kepercayaan pada dirinya.

Kebutuhan dasar Si Kecil adalah perhatian dan kasih sayang Ayah dan Bunda. Selain sebagai tempat ia berlindung, lingkungan rumah merupakan tempat ia mendapatkan kebutuhan hidup, dan sebagai media membesarkan Si Kecil hingga dewasa. Ini sebabnya kedekatan emosional antara Ayah-Bunda dan Si Kecil menjadi sangat penting. Buat Si Kecil merasa dibutuhkan sekaligus berharga dalam keluarga. Ini akan memupuk rasa bahwa keluarga adalah bagian penting kehidupannya.

Laurence Steinberg, profesor psikologi di Philadelphia, mengatakan bahwa pengasuhan orangtua memiliki dua komponen yaitu gaya pengasuhan (parenting style) dan praktik pengasuhan (parenting practices). Pola pengasuhan yang efektif dapat mendukung perkembangan kepribadian Si Kecil. Selain itu, ada empat macam pola pengasuhan anak, yakni authoritative, authoritarian, neglectful, dan indulgent, seperti yang disampaikan John Santrock dalam buku yang berjudul Educational Psychology. Apa saja keempat gaya asuh tersebut? Simak di bawah ini:

1. Otoritatif (authoritative)

Otoritatif (authoritative) adalah pola asuh yang hangat namun tegas. Ayah dan Bunda mendukung Si Kecil menjadi mandiri dan memiliki kebebasan, namun tetap memberi batas dan kontrol kepadanya.

2. Otoriter (authoritarian)

Otoriter (authoritarian) adalah pola asuh ini menuntut kepatuhan yang tinggi dari Si Kecil. Ayah dan Bunda lebih banyak menggunakan hukuman, batasan, kediktatoran, dan cenderung kaku.

3. Tidak terlibat (neglectful)

Dalam pola asuh ini Ayah dan Bunda hanya menunjukkan sedikit komitmen dalam mengasuh Si Kecil, artinya mereka hanya memiliki sedikit waktu dan perhatian untuk Si Kecil.

4. Permisif (indulgent)

Ini merupakan pola asuh yang cenderung  menerima, lunak, dan lebih pasif dalam  kedisiplinan. Ayah dan Bunda terlalu mengumbar cinta kasih, tidak menuntut, dan memberi kebebasan pada Si Kecil untuk bertindak sesuai keinginannya.

Dari keempat pola asuh di atas, Bunda bisa menerapkannya secara bergantian tergantung pada kondisi dan situasi yang dihadapi. Misalnya, ketika Si Kecil akan melakukan sesuatu yang berpotensi mencelakakan dirinya, maka terapkan gaya asuh authoritarian, lain halnya saat Si Kecil sedang berkreasi, Bunda bisa terapkan gaya asuh indulgent agar ia bisa lebih kreatif.

Diskusikan dan sepakati gaya asuh yang ingin diterapkan di rumah bersama pasangan. Ayah dan Bunda haruslah sepaham mengenai pola asuh ini agar proses pembelajaran Si Kecil berjalan maksimal.

Lihat Artikel Lainnya