Mengapa Si Kecil Terlahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)?

Oleh: Morinaga Platinum

5 Desember 2020

BBLR atau berat badan lahir rendah adalah kondisi Si Kecil yang lahir dengan berat badan kurang dari berat badan bayi rata-rata. Seorang bayi dinyatakan terlahir dengan bblr jika berat badannya kurang dari 2,5 kg atau 2500 gram. Langkah penanganan sangat penting untuk dilakukan, karena berat badan yang rendah dapat membawa dampak buruk kepada kesehatan Si Kecil di masa depan.

Perlu Bunda ketahui, bayi yang memiliki berat badan lahir rendah tidak selalu terlahir dalam kondisi prematur. Pada proses kelahiran yang sesuai HPL (hari prediksi lahir) pun dapat mengalami berat badan kurang dari batas normal. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor yang berpengaruh. Berikut penjelasan lengkapnya.

 Baca juga: Lahir Prematur, Inilah Penyebab dan Risiko Janin Lahir 7 Bulan

Penyebab berat badan lahir rendah

Kelahiran prematur memang menjadi penyebab bblr dialami Si Kecil. Hal tersebut dikarenakan bayi yang terlahir prematur tidak mengalami pertumbuhan yang maksimal selama di dalam kandungan. Namun selain kelahiran prematur, berat badan bayi yang rendah dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti:

    • Intrauterine growth restriction atau IUGR. Kondisi ini dipicu oleh gangguan yang terjadi pada plasenta sehingga selama di kandungan Si Kecil kekurangan asupan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk proses pembentukan organ-organ.
    • Usia Bunda masih muda saat hamil. Kematangan usia seorang ibu sangat berpengaruh terhadap kesehatan janin yang dikandung. Jika usianya kurang dari 15 tahun, risiko Si Kecil memiliki berat badan lahir rendah akan lebih tinggi.
    • Komplikasi selama kehamilan. Komplikasi penyakit yang dialami Bunda selama kehamilan juga berhubungan dengan berat badan bayi dalam kandungan. Kondisi penyakit tekanan darah tinggi misalnya, dapat meningkatkan risiko tersebut.
    • Bayi kembar. Kondisi kehamilan bayi kembar memiliki risiko bblr yang dialami Si Kecil. Hal ini disebabkan oleh kurangnya ruang pada rahim untuk kedua janin berkembang.
    • Kondisi medis bawaan janin. Sejak dalam kandungan, janin bisa saja memiliki kondisi kesehatan tertentu sehingga pertumbuhannya tidak maksimal.
  • Malnutrisi ibu hamil. Kelalaian Bunda dalam memenuhi nutrisi saat hamil juga menjadi penentu Si Kecil terlahir dengan berat badan normal atau tidak.
  • Masalah emosi yang dialami ibu hamil. Beberapa bayi terlahir dengan berat badan lahir rendah akibat sang Bunda mengalami kondisi emosional tertentu seperti stres, depresi, dan sebagainya.

Baca juga: Dampak Depresi Pada Janin Saat Bunda Hamil

Bahaya yang mengancam jika Si Kecil mengalami berat badan lahir rendah

Seperti kita ketahui, berat badan adalah salah satu tolak ukur kesehatan Si Kecil yang baru lahir. Jika ia mengalami berat badan lebih rendah, tentu ada beberapa kondisi kesehatan yang perlu Bunda perhatikan. Hal ini meliputi antara lain:

  • Masalah sistem pernapasan

Salah satu masalah paling umum yang dialami bayi bblr adalah kondisi sistem pernapasan yang tidak stabil. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor seperti organ paru-paru yang belum sempurna, gangguan pada saluran pernapasan, hingga masalah yang dialami saat proses persalinan. Salah satu tanda Si Kecil memiliki masalah sistem pernapasan adalah ketika setelah lahir bayi tak langsung menangis. Menangis adalah reflek wajar yang menunjukkan sistem pernapasan Si Kecil berjalan dengan normal.

  • Kelainan saraf

Pembentukan saraf pada otak sangat penting selama janin berada di dalam kandungan. Jika ia terlahir dengan prematur atau memiliki berat badan yang kurang, kondisi saraf tersebut dikhawatirkan belum terbentuk dengan sempurna. Hasilnya Si Kecil bisa mengalami pendarahan pada otak yang sangat perlu diwaspadai.

  • Gangguan penglihatan dan pendengaran

Meski bblr adalah kondisi kurangnya berat badan, namun dampaknya bisa berpengaruh terhadap indera penglihatan dan pendengaran Si Kecil. Hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan nutrisi yang tidak tercukupi selama masa kehamilan. 

  • Sistem kekebalan tubuh lemah

Pada jangka panjang, kondisi bblr yang dialami Si Kecil dapat membuatnya lebih rentan terhadap penyakit. Berat badan saat lahir menunjukkan Si Kecil telah melalui proses pembentukan organ-organ yang baik selama di dalam kandungan. Komplikasi penyakit serius seperti diabetes, gangguan ginjal, bahkan penyakit jantung dapat menyerang Si Kecil ketika usianya remaja kelak.

 Baca juga: Kiat Agar Si Kecil Tidak Mudah Sakit

Penanganan bayi dengan berat badan lahir rendah

Bayi BBLR harus mendapatkan penanganan khusus, terutama pada masa awal setelah kelahiran. Umumnya, bayi yang mengalami bblr mendapat perawatan intensif di rumah sakit hingga kondisi tubuhnya cukup stabil untuk dibawa pulang ke rumah. 

Penanganan bblr akan dilakukan jika Si Kecil mengalami komplikasi tertentu seperti gangguan pernapasan, kelainan saraf, kurang darah, atau masalah lainnya. Perawatan dilakukan menggunakan ruang perawatan intensif neonatal atau disebut juga NICU. Lama waktu perawatan sangat bergantung pada perkembangan kondisi Si Kecil.

Selain itu, bayi yang lahir dengan berat badan lebih rendah sangat disarankan mendapatkan ASI yang cukup dari Bunda. Hal ini dikarenakan ASI mengandung nutrisi yang sangat dibutuhkan Si Kecil selama masa pertumbuhannya. Pemberian ASI yang intesif diharapkan dapat meningkatkan berat badan Si Kecil secara signifikan pada masa awal setelah kelahiran.

Namun, tidak menutup kemungkinan bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah akan mengalami kesulitan menghisap. Jika ini terjadi, bayi akan mendapatkan ASI melalui selang atau alat kesehatan lainnya.

Umumnya, pertumbuhan bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah akan tetap berjalan dengan semestinya. Hanya saja pada beberapa kasus, perlu perhatian lebih dari Bunda terhadap kondisi kesehatan Si Kecil selama masa pertumbuhannya.

Langkah pencegahan yang dapat Bunda lakukan untuk mengurangi risiko bayi terlahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah dengan selalu mencukupi nutrisi selama kehamilan. Selain itu, Bunda disarankan untuk terus menjaga kebugaran saat hamil dan melakukan cek kondisi kehamilan secara rutin ke dokter kandungan.

 Baca juga: Cara Meningkatkan Berat Badan Janin di dalam Kandungan

Milestone Lainnya