Apa Itu Preeklamsia dan Apa Dampaknya Bagi Bunda dan Bayi?

Morinaga Platinum ♦ 1 Januari 2020

Saat hamil banyak perubahan yang Bunda alami, mulai dari perubahan fisik sampai hormon di dalam tubuh. Terkadang ada penyakit atau komplikasi yang muncul karena gejala kehamilan tersebut. Salah satunya adalah preeklamsia. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi yang Bunda alami padahal sebelum hamil Bunda tidak memiliki riwayat penyakit ini. Preeklamsia juga ditandai dengan kadar protein tinggi dalam urin, terjadi pembengkakan pada kaki dan tangan, serta terjadi di akhir kehamilan. Oleh karena itu, sangat penting bagi Bunda untuk menjaga perkembangan janin mengingat preeklamsia bisa muncul saat usia kehamilan Bunda memasuki 7 bulan.

Preeklamsia dikatakan berbahaya karena lebih dari 500 juta ibu hamil di seluruh dunia meninggal akibat komplikasi yang terjadi pada kehamilan. Sekitar 15% dari angka tersebut diakibatkan oleh preeklamsia. Bukan hanya ibu hamil, preeklamsia mengakibatkan 1000 bayi meninggal setiap tahunnya. Sayangnya Bun, tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkannya, namun ibu hamil masih bisa mengurangi gejalanya dengan mengetahui faktor risiko dan penangannya.

Apa saja dampak preeklamsia bagi Bunda dan Janin? Berikut pembahasannya.

Dampak preeklamsia bagi Bunda

Preeklamsia dapat terjadi karena plasenta tidak berfungsi dengan baik yang disebabkan oleh kelainan plasenta. Bukan hanya itu, gizi buruk, kadar lemak tinggi, aliran darah terhambat ke rahim, dan genetik mungkin juga bisa menyebabkan preeklamsia yang bisa terjadi saat perkembangan janin 7 bulan.

Ibu hamil yang mengalami preeklamsia yang sudah parah biasanya disertai kejang. Dan jika dibiarkan akan mengakibatkan masalah kesehatan yang serius. Fungsi plasenta, ginjal, hati, otak, sistem darah dan organ Bunda lainnya akan terganggu dan berujung pada gangguan kehamilan dan gangguan kesehatan pada janin.

Dampak preeklamsia bagi janin

Selain Bunda, janin usia 7 bulan pun akan terganggu ketika preeklamsia menyerang. Dampak utamanya adalah janin kekurangan nutrisi karena tidak memadainya aliran darah rahim ke plasenta. Hal ini berakhir pada keterlambatan pertumbuhan bayi dalam kandungan, kelahiran prematur, hingga bayi lahir mati.

Lebih parah lagi, preeklamsia juga bisa meningkatkan risiko masalah jangka panjang yang berhubungan dengan kelahiran prematur, seperti gangguan belajar, epilepsy, tuli, celebral palsi, dan kebutaan. Jadi, akan lebih baik jika Bunda bisa mencegah datangnya preeklamsia.

Cara menegah preeklamsia

Melihat risiko preeklamsia yang terjadi saat perkembangan janin 7 bulan, alangkah lebih baik jika Bunda banyak mengonsumsi kalsium dan vitamin untuk mencegahnya. Yang perlu Bunda perhatikan adalah melakukan pemeriksaan rutin sesuai yang disarankan dokter. Dengan melakukan pemeriksaan rutin, tanda-tanda preeklamsia akan terdetesksi sehingga bisa diatasi lebih dini.

Dokter juga akan melakukan tes urin untuk mengetahui kandungan protein di dalamnya. Karena protein di dalam urin adalah gejala munculnya preeklamsia. Beberapa tanda lainnya adalah pusing, mual, muntah, perubahan pada kemampuan melihat, dan nyeri pada perut bagian atas.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebisa mungkin Bunda harus bisa mencegah datangnya preeklamsia agar perkembangan janin Bunda tetap optimal.

Lihat Artikel Lainnya