Bahayanya Anemia Saat Hamil! Yuk, Cegah Sebelum Terlambat

Oleh: Morinaga Platinum

17 Juli 2020

Anemia pada ibu hamil memang umum terjadi. Penyebabnya karena ibu hamil biasanya akan mengalami peningkatan volume darah yang berfungsi untuk mendukung tumbuh kembang janin. Jika tidak diimbangi dengan penambahan jumlah sel darah merah, maka Bunda bisa berisiko terkena anemia defisiensi besi (ADB). Karena sel darah merah ini berperan untuk membawa oksigen ke seluruh organ tubuh. Apabila oksigen yang diperlukan oleh organ tubuh tidak terpenuhi, maka akan mengganggu fungsi dari organ tersebut.

Bunda akan memiliki risiko lebih tinggi terkena anemia defisiensi besi (ADB) selama kehamilan, jika:

  1. Jarak kehamilan dengan kehamilan sebelumnya sangat berdekatan
  2. Mengandung bayi kembar atau lebih dari dua
  3. Sering mengalami morning sickness (muntah/mual di pagi hari)
  4. Tidak mengonsumsi cukup zat besi
  5. Memiliki riwayat anemia sebelum masa kehamilan
  6. Mengalami menstruasi dengan aliran darah yang banyak sebelum masa kehamilan

Sebagian Bunda menganggap anemia pada ibu hamil tergolong ringan karena hanya membuat Bunda merasa mudah lelah, namun jika dibiarkan dan tidak ditangani dengan baik, bisa menimbulkan masalah yang serius untuk Bunda dan janin.

Telah dilakukan beberapa penelitian dan faktanya, anemia pada ibu hamil bisa menaikkan beberapa risiko berikut:

  1. Bayi lahir prematur
  2. Janin lahir dengan berat badan kurang
  3. Bayi lahir dengan kekurangan zat besi atau anemia
  4. Mengancam keselamatan janin
  5. Mengancam keselamatan Bunda

 

 Baca Juga: Lahir Prematur, Inilah Penyebab dan Risiko Janin Lahir 7 Bulan

 

Agar terhindar dari risiko tersebut, Bunda bisa mengidentifikasi gejalanya sehingga Bunda bisa melakukan tindakan yang tepat sebelum kondisi semakin parah. Nah, inilah beberapa gejala anemia yang sering dialami oleh ibu hamil.

  1. Mudah lelah
  2. Lemas
  3. Kulit pucat
  4. Detak jantung tidak teratur
  5. Sesak napas
  6. Sesak bagian dada
  7. Pusing
  8. Tangan dan kaki terasa dingin
  9. Sulit konsentrasi

Tapi perlu diingat, bahwa gejala anemia tersebut mirip dengan kondisi ibu hamil pada umumnya. Jadi terlepas dari gejala anemia atau bukan, Bunda perlu tes darah ketika periksa ke dokter. Hal ini untuk memastikan apakah Bunda menderita anemia atau tidak.

Sebenarnya, Bunda bisa melakukan tindakan preventif untuk menghindari kondisi ini. Lalu, tindakan seperti apa yang bisa Bunda lakukan agar terhindari dari anemia selama kehamilan?

Konsumsi vitamin yang mengandung zat besi

Jika telah didiagnosa anemia defisiensi besi, biasanya dokter akan memberikan rekomendasi supaya Bunda mengonsumsi vitamin yang mengandung zat besi di luar vitamin prenatal harian agar Bunda tidak kurang zat besi. Ibu hamil biasanya disarankan untuk mengonsumsi zat besi kira-kira sekitar 27 miligram sehari. Dengan kata lain, Bunda butuh makanan yang mengandung zat besi 2 kali lipat lebih banyak dibandingkan wanita yang tidak hamil. Tubuh Bunda membutuhkan pasokan zat besi yang cukup agar darah dapat memasok oksigen yang cukup untuk Bunda dan janin. Tapi sebaiknya konsultasikan ke dokter dulu mengenai seberapa besar dosis zat besi yang Bunda butuhkan.

Saat mengonsumsi suplemen zat besi, Bunda seharusnya tidak mengonsumsi asupan yang mengandung kalsium tinggi. Makanan dan minuman seperti kopi, teh, produk susu, kuning telur dapat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh.

Apabila Bunda memiliki maag dan harus mengonsumsi antacid (antasida), pastikan untuk mengonsumsi suplemen zat besi 2 jam sebelum atau 4 jam sesudah mengonsumsi antasid. Hal ini karena antasid juga dapat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh.

Memerhatikan asupan nutrisi yang dikonsumsi

Bunda bisa melakukan tindakan preventif agar terhindar dari risiko anemia selama kehamilan. Jangan hanya menjaga gaya hidup sehat, memerhatikan makanan yang dikonsumsi selama kehamilan juga bisa menjadi langkah untuk mencegah terjadinya anemia pada ibu hamil.

  1. Makanan dengan kandungan zat besi tinggi

Asupan makanan yang mengandung zat besi bisa ditemukan dalam daging merah tanpa lemak, daging unggas, ikan, sayuran hijau (kale, brokoli, bayam), kacang-kacangan dan tofu.

  1. Makanan dengan kandungan vitamin C

Mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin C juga disarankan, Bun. Vitamin C yang tinggi sebenarnya dapat membantu tubuh menyerap zat besi dengan lebih baik. Makanan yang mengandung vitamin C tinggi, bisa ditemukan dalam jeruk, tomat, stroberi dan kiwi. Nah, Bunda bisa mencoba mengonsumsi beberapa makanan yang kaya vitamin C. Sebagai contoh, Bunda bisa membuat menu sarapan dengan segelas jus jeruk dan sereal karena kedua makanan ini cukup mengandung vitamin C, Bun.

  1. Makanan dengan kandungan asam folat

Asupan asam folat memang sudah umum dikonsumsi untuk ibu hamil karena bagus untuk membantu mencegah cacat tabung saraf selama kehamilan. Tapi ternyata, asam folat juga dapat membantu meningkatkan jumlah sel darah merah, lho, Bun. Makanan yang tinggi asam folat bisa Bunda temukan dalam pisang, melon, alpukat, asparagus, brokoli, kacang-kacangan, dan lain-lain.

 

 Baca Juga: Nutrisi Penting untuk Kehamilan Trimester Ketiga

 

Sekarang Bunda sudah tahu kan, seberapa bahayanya jika mengalami anemia terjadi pada ibu hamil? Bunda juga bisa melakukan tindakan preventifnya agar kondisi tersebut tidak Bunda alami selama masa kehamilan. Selalu konsumsi makanan sehat dan jaga kesehatan selama kehamilan ya, Bun. Jangan lupa segera konsultasikan ke dokter jika menunjukkan gejala-gejala di atas.

Sehat terus untuk Bunda dan calon bayi Bunda, ya.

 

 Baca Juga: Apa Itu Preeklamsia dan Apa Dampaknya Bagi Bunda dan Bayi?

 

Milestone Lainnya