Artikel Terbaru Artikel Terbaru

ADHD pada Anak: Ciri-Ciri, Penyebab dan Cara Mengobatinya

Morinaga Platinum ♦ 3 April 2022

Saat Si Kecil hiperaktif dan cenderung tidak memperhatikan lingkungannya mungkin akan membuat Bunda khawatir. Gejala-gejala tersebut memang mengarah pada kondisi ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder.

Apa itu ADHD pada Anak?

Lalu, apa sebenarnya ADHD pada anak? ADHD adalah sebuah gangguan mental yang biasa terjadi pada anak dan bisa berlangsung hingga usia dewasa. Dilansir dari kidshealth.org, anak yang mengidap ADHD mengalami perbedaan dalam perkembangan otak dan aktivitas otak mereka. Akibatnya, anak penderita ADHD akan berperilaku lebih hiperaktif, sulit berkonsentrasi dan mengendalikan diri, serta sering bertindak impulsif. 

Oleh karena itu, ADHD pada anak kerap membuat Si Kecil sulit berinteraksi dengan lingkungan atau berkonsentrasi saat belajar di sekolah.

Ciri-ciri ADHD pada anak

ADHD pada anak bisa dideteksi sejak usia bayi atau ketika Si Kecil beranjak ke usia lebih besar. Dilansir dari klikdokter.com, Si Kecil akan menunjukkan tanda atau ciri-ciri berikut ini jika menderita ADHD pada usia bayi:

  • Sensitif terhadap suara dan cahaya.
  • Sering menangis.
  • Suka menjerit.
  • Kesulitan tidur.
  • Sulit mengkonsumsi ASI.
  • Tidak senang bila digendong

Ciri-ciri ADHD pada anak juga bisa dikenali saat mereka beranjak lebih besar. Berikut ini tanda-tanda ADHD pada anak:

  • Selalu bergerak atau aktif.
  • Mudah merasa bosan.
  • Tampak canggung.
  • Sering mengalami kecelakaan, misalnya terjatuh atau terbentur.
  • Lebih ramai dibanding anak-anak lainnya.
  • Kurang konsentrasi.
  • Mudah marah.
  • Nafsu makan buruk.
  • Koordinasi antara mata dengan tangan tidak baik.
  • Suka menyakiti diri sendiri.
  • Mengalami gangguan tidur

Apabila Si Kecil dirasa terlalu aktif, Bunda bisa melakukan beberapa kiat untuk menanganinya. Cek di artikel berikut yaa Bunda untuk kiat kiatnya: Kiat Tangani Si Kecil yang Terlalu Aktif

Gejala ADHD Pada Anak

Menurut American Psychiatric Association, ADHD pada anak dibagi menjadi tiga tipe, yaitu tipe lalai, tipe hiperaktif/impulsif, dan tipe gabungan.

Berikut ini gejala ADHD pada anak berdasarkan tipenya:

  • Tipe lalai

  • Anak tidak memperhatikan detail-detail tertentu serta melakukan tindakan ceroboh saat menjalankan tugas dari sekolah atau pekerjaan dari orang tua. 
  • Anak kesulitan fokus pada tugas atau kegiatannya. 
  • Anak tidak mendengar atau memperhatikan saat diajak bicara. 
  • Anak tidak menjalankan instruksi serta tidak menyelesaikan tugas sekolah.
  • Anak kesulitan mengatur tugas dan pekerjaan.
  • Anak menghindar serta cenderung tidak suka dengan tugas yang membutuhkan upaya mental berkelanjutan, seperti menyiapkan laporan dan mengisi formulir. 
  • Anak sering kehilangan barang.
  • Anak tidak fokus dan perhatiannya mudah terganggu. 
  • Anak sering melupakan tugas sehari-hari.
  • Tipe hiperaktif/impulsive

  • Anak sering gelisah, gejalanya ditandai dengan sering mengetukkan tangan, mengetukkan kaki, atau menggeliat di kursi. 
  • Anak sering berlari atau memanjat. 
  • Anak tidak dapat bermain atau melakukan aktivitas dengan tenang.
  • Anak terlalu banyak bicara. 
  • Anak sering memotong pembicaraan orang lain atau tidak sabar untuk berbicara.
  • Anak kesulitan menunggu gilirannya. 
  • Anak sering memotong aktivitas atau mengganggu orang lain.
  • Anak lebih sering mengalami cedera atau kecelakaan.

Bunda bisa mengenali lebih lanjut penyebab anak hiperaktif dan cara mengatasinya melalui artikel berikut ini ya: Kenali Penyebab & Cara Mengatasi Anak Hiperaktif dengan Baik

  • Tipe gabungan

Anak yang mengidap ADHD tipe ini mengalami gejala gabungan antara tipe lalai dan hiperaktif. Pada tipe gabungan ini, anak akan cenderung impulsif, hiperaktif, serta tidak memiliki fokus yang baik. Dibutuhkan penanganan medis yang berbeda-beda atas ketiga tipe ADHD tersebut. 

Diagnosis

Anak yang menunjukkan gejala-gejala seperti yang sudah disebutkan di atas, tidak bisa langsung disimpulkan menderita ADHD. Terdapat beberapa ketentuan untuk bisa mendiagnosis bahwa anak mengidap ADHD, yakni:

  • Gejala harus sudah dideteksi sebelum anak berusia 12 tahun. 
  • Gejala harus berlangsung lebih dari enam bulan.
  • Gejala muncul dalam dua atau lebih situasi, misalnya saat anak di sekolah sekaligus di rumah.
  • Gejala-gejala tersebut terbukti mempengaruhi fungsi hidup sehari-hari pada anak.

Dilansir dari situs cdc.gov, adapun dokter biasanya akan melakukan diagnosa ADHD dengan panduan dari  American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual, Fifth edition (DSM-5).  Dalam proses melakukan diagnosis terhadap anak yang menunjukkan gejala ADHD, dokter juga melakukan prosedur pemeriksaan pendengaran serta penglihatan. Pemeriksaan lainnya adalah  pemeriksaan tambahan electroencephalograph yang  berfungsi untuk merekam aktivitas listrik yang ada di otak Si Kecil.

Penyebab ADHD pada anak

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab ADHD pada anak. Namun, pada peneliti telah mempelajari faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang menderita ADHD. ADHD pada anak diduga bisa hadir karena adanya kondisi ketidakseimbangan senyawa kimia (neurotransmitter) dalam otak. Selain itu, ada sejumlah faktor risiko yang dinilai menjadi penyebab ADHD pada anak, yaitu:

Faktor genetik

Peneliti meyakini bahwa genetik menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi ADHD pada anak. Seorang anak dinilai lebih berisiko menderita ADHD jika ada salah satu dari anggota keluarga juga mengalami problem gangguan mental.

Faktor lingkungan

Paparan polusi lingkungan, seperti timah yang ditemukan dalam cat, dikabarkan juga bisa menjadi faktor risiko seorang anak menderita ADHD.

Kelahiran prematur

Bayi yang terlahir prematur juga dinilai lebih berisiko terkena ADHD. Adapun kelahiran prematur adalah yang terjadi sebelum usia 37 minggu. Bayi yang terlahir prematur juga biasanya memiliki berat badan lebih rendah.

Apabila bunda memerlukan penjelasan lanjutan seputar penyebab bayi lahir prematur beserta resiko yang mungkin akan dihadapinya, Bunda bisa cek artikel berikut ini ya: Bayi Prematur 7 bulan: Penyebab, Risiko, dan Cara Mencegahnya

Ibu yang merokok selama kehamilan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menyebutkan, ibu yang masih merokok selama masa kehamilan cenderung memiliki risiko 60% lebih kuat melahirkan anak dengan kondisi ADHD. Selain itu, ibu hamil yang memakai obat-obatan terlarang dan mengonsumsi alkohol juga meningkatkan risiko ADHD pada bayi yang mereka lahirkan.

Kerusakan atau cedera otak

Anak juga berisiko terkena ADHD jika mengalami kerusakan atau cedera otak saat masih berada dalam kandungan atau saat bayi masih berusia dini. Si Kecil dengan cedera kepala bagian depan lebih berpotensi menderita ADHD. Sebabnya, bagian depan kepala adalah bagian untuk mengendalikan impuls dan emosi Si Kecil.

Ketidakseimbangan senyawa otak (neurotransmitter)

Kondisi neurotransmitter di dalam otak yang tidak seimbang atau gangguan dalam kinerja otak juga bisa meningkatkan risiko anak menderita ADHD. Neurotransmitter adalah zat kimia di otak manusia yang perlu terus aktif bekerja secara seimbang. Apabila zat kimia ini tidak maksimal, maka tugas utamanya membawa sinyal dari sistem saraf ke otak, dan sebaliknya, jadi tidak bekerja baik. Contoh aktivitas manusia yang terkait langsung dengan fungsi neurotransmitter adalah fokus, tidur, belajar, dan lain sebagainya.

Cara mengobati

Meskipun ADHD pada anak tidak bisa disembuhkan secara total, Bunda dapat melakukan pengobatan untuk menangani gejalanya. Dengan menjalani pengobatan yang tepat, kondisi anak penderita ADHD diketahui menjadi lebih baik. 

Melansir dari laman CDC,  terapi yang bisa dilakukan untuk mengobati ADHD meliputi:

Perubahan pola makan

Bunda bisa mengubah pola makan dan memberikan gizi seimbang untuk memperbaiki kesehatan anak. Nutrisi yang terpenuhi juga diyakini mampu menolong mengurangi gejala ADHD pada anak.

Beberapa jenis makanan juga dipercaya bisa meningkatkan konsentrasi anak penderita ADHD, misalnya makanan yang tinggi protein, seperti telur, daging, dan kacang-kacangan.

Mendidik anak dan keluarga mengenai perubahan perilaku Si Kecil

Selain anak penderita ADHD, seluruh anggota keluarga pun harus memahami perubahan perilaku yang Si Kecil. Dengan pemahaman dan pengertian keluarga, anak yang menderita ADHD dapat ditangani lebih baik. 

Memberi obat-obatan

Obat-obatan sesuai resep dokter dapat diberikan untuk mengendalikan ketidakseimbangan zat kimia dalam otak anak. Obat juga dapat menargetkan area otak yang berfungsi untuk memfokuskan dan mengendalikan diri.

Konseling psikologis

Pendampingan ahli, khususnya psikiater, dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri anak penderita ADHD. Pendidikan dan terapi psikologis harus dilakukan secara bersamaan untuk memastikan keberhasilan pengobatan ADHD pada anak.

Dengan mengenali gejala dan memberikan pengobatan yang tepat, Bunda dapat membuat kondisi ADHD pada anak menjadi lebih baik. Mari peluk erat dan beri kasih sayang berlimpah untuk buah hati yang menderita ADHD. Yakinlah bahwa mereka dapat tumbuh dengan lebih baik.

 

Lihat Artikel Lainnya