17 Penyakit pada Balita yang Paling Umum Dialami

Oleh: iMpulse Writer

22 Juli 2021

Siapa sih yang tidak ingin Si Kecil selalu sehat? Namun, tidak bisa dipungkiri juga bahwa risiko penyakit dapat terjadi kapan saja pada anak, terlebih di usia rentan, yakni saat masih berumur di bawah lima tahun. Pasalnya, sistem kekebalan tubuh mereka belum terbentuk secara sempurna sehingga kemungkinan mudahnya terserang berbagai macam penyakit penyakit pada bayi usia 0-6 bulan hingga di bawah lima tahun pun masih tinggi. Sebagai orangtua, Anda tidak perlu terlalu khawatir karena sebagian besar penyakit pada balita maupun anak kecil tidaklah tergolong penyakit yang serius. Hal yang menimbulkan rasa tidak nyaman ini juga bersifat sementara.

Agar Bunda bisa mencegah dan menanggulanginya dengan tepat, ketahui dulu 17  penyakit yang sering terjadi pada anak berikut ini.

1. Diare

Kondisi penyakit yang dapat dikatakan diare adalah ketika Si Kecil mengalami buang air besar (BAB) lebih dari tiga kali sehari, terutama apabila feses yang dikeluarkan cenderung encer. 

Terdapat beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab diare, seperti adanya masalah infeksi pada saluran pencernaan, keracunan maupun alergi makanan, infeksi akibat parasit, atau penyakit iritasi pada usus.

Nah, saat Si Kecil mengalami diare, hal yang bisa orangtua lakukan adalah dengan memastikan konsumsi makanan dan minuman yang diberikan tetap cukup. Pastikan juga asupan nutrisi, termasuk vitamin dan mineral yang diberikan kepada Si Kecil seimbang.

Ketika Si Kecil mengalami diare, Bunda dapat segera melakukan tindakan cepat atau melakukan konsultasi ke dokter agar penyakit diare yang diderita oleh Si Kecil dapat segera tertangani.

Sebagai pendukung, Bunda  juga perlu memastikan Si Kecil cukup minum untuk membantu fase pemulihan, khususnya konsumsi cairan yang mengandung garam dan elektrolit, agar Si Kecil tidak mengalami dehidrasi.

2. Demam

Salah satu gejala penyakit yang sering dialami oleh anak adalah demam. Demam menjadi respon alami tubuh terhadap perubahan yang terjadi seiring pertumbuhan Si Kecil. Biasanya, munculnya demam pada balita ini adalah saat terjadi pertumbuhan gigi. Namun, demam juga dapat terjadi akibat infeksi virus maupun bakteri.

Menurut pusat riset dan kesehatan asal Amerika Serikat, Cleveland Clinic menyatakan bahwa kondisi tubuh Si Kecil dapat dikatakan demam ketika berada di atas 38 derajat celsius.

Nah, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi demam pada anak adalah dengan mengompresnya menggunakan handuk lembut dan air hangat.

Cara lainnya untuk menurunkan demam pada anak dan bayi di bawah lima tahun adalah dengan memberikan asupan makanan dan minuman yang banyak dan mudah dicerna, menutupi seluruh tubuhnya (seperti dengan selimut), dan memandikannya dengan air hangat.

Apabila Bunda memiliki kendala untuk membawa Si Kecil ke rumah sakit, Bunda juga dapat merawat Si Kecil yang sedang demam di rumah dengan membuat ruangan jadi sejuk, memilih pakaian yang tepat dan nyaman, mengukur suhu secara teratur, serta memberikan cairan anti dehidrasi.

Hal penting yang perlu Anda ketahui, sesuai anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia, orangtua baru bisa memberikan obat penurun panas apabila suhu tubuh anak telah mencapai 38 derajat Celcius. Sebab, penyakit demam yang terlalu tinggi pada balita bisa menyebabkan kejang. Namun, Bunda juga patut mewaspadai apabila demam berulang terjadi pada anak.

3. Eksim

Eksim adalah penyakit kelainan kulit yang ditandai dengan adanya peradangan atau pembengkakan pada kulit, kemerahan, serta rasa gatal. Tak hanya pada orang dewasa, balita dan anak kecil juga bisa mengalaminya.

Meski tidak menular, salah satu jenis penyakit kulit pada balita ini bisa menyebabkan rasa kurang nyaman di bagian kulit yang terpapar.

Salah satu cara mengobati eksim di tubuh maupun kaki pada anak adalah dengan mengoleskan obat oles dan pelembab sesuai anjuran dokter.

4. Radang Tenggorokan

Radang tenggorokan menjadi salah satu penyakit terbanyak dan paling umum menyerang pada anak. Gejala dan ciri-ciri radang tenggorokan yang kerap terjadi adalah Si Kecil akan cenderung mengalami kesulitan saat menelan. Hal ini membuat anak menjadi rewel saat hendak makan.

Ciri lain dari penyakit pada anak ini ada pada tenggorokan yang terasa kering dan gatal, badan terasa mudah lelah, sakit kepala, bahkan mengalami nyeri otot.

Penyebab radang tenggorokan umumnya adalah akibat infeksi virus dan bakteri. Untuk itu, penting bagi Bunda untuk memberikan obat penghilang rasa sakit dan minum banyak air (utamakan air hangat).

Bunda juga bisa memastikan Si Kecil berkumur air garam sebagai cara mengobati radang tenggorokan agar dapat mengurangi gejala-gejala penyakit ringan yang ada.

5. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

ISPA merupakan singkatan dari nama penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Sesuai kepanjangannya, ISPA adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang menyerang bagian atas tubuh, seperti hidung, tenggorokan, faring, laring, dan bronkus.

Penyebab ISPA yang umum terjadi adalah akibat infeksi virus dan bakteri. Cara penularan ISPA terjadi melalui kontak dengan percikan air liur orang yang terinfeksi. Virus atau bakteri dalam percikan liur tersebut akan menyebar melalui udara, masuk ke hidung atau mulut Si Kecil.

Sementara untuk gejala penyakit ISPA pada anak, Si Kecil bisa saja mengalami hidung tersumbat, sering mengeluarkan ingus, bersin, batuk, sakit kepala, demam, sakit saat menelan, serta merasa kelelahan.

Penanganan pertama yang dapat dilakukan oleh Bunda ketika Si Kecil mengalami ISPA maka segera lakukan langkah taktis berupa: pastikan Si Kecil memiliki waktu tidur yang cukup, banyak minum air, menjaga kelembaban ruangan dalam rumah, mengoleskan petroleum jelly di bagian luar hidung, serta menjauhkannya dari asap rokok maupun hal-hal lain yang bisa memicu bahkan memperburuk ISPA.

Tak kalah penting, dilansir dari dr. Muliaman Head of Medical Marketing KALBE Nutritionals menuturkan bahwa peran Bifidobakterium dapat membantu mengoptimalkan daya tahan tubuh anak, terutama dalam mencegah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) karena bakteri dan virus.

Morinaga Chil Kid dan Chil School Platinum MoriCare Triple Bifidus memiliki kandungan Bifidobacterium Longum BB536 untuk mendukung sistem imun atau daya tahan tubuh, serta dapat mencegah infeksi saluran pernapasan (influenza & ISPA). Susu formula satu ini tentu bisa menjadi alternatif bagi Bunda agar Si Kecil terhindar dari ISPA.

6. Batuk

Batuk juga menjadi salah satu penyakit pada balita yang paling umum dialami. Salah satu penyebab batuk yang kerap terjadi adalah adanya kemungkinan selesma, atau infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Batuk pada anak juga bisa disebabkan oleh lendir dari hidung yang mengalir ke tenggorokan, asma, bronkitis, batuk rejan, atau pneumonia. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk segera memeriksakan ke dokter apabila batuk yang dialami Si Kecil tidak kunjung reda.

Sebagai langkah awal meredakan batuk pada anak, Bunda dapat memberikan air hangat agar tenggorokan Si Kecil terasa lebih nyaman, khususnya saat menelan.

Bunda pun juga dapat memberikan obat batuk alami untuk anak dengan membuat ramuan tradisional, baik dari air garam, belimbing wuluh, daun sage atau saga, jahe, kencur, kunyit, maupun madu untuk meredakan penyakit pada balita ini.

7. Pilek

Pilek merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada balita, bahkan anak yang sudah sekolah atau lebih dewasa sekalipun. Virus pilek kerap menyerang pada musim hujan atau pergantian dari musim panas ke musim hujan.

Ada banyak penyebab pilek terjadi pada bayi dan anak kecil di bawah lima tahun. Salah satunya adalah jenis virus rhinovirus. Virus pilek ini umumnya masuk ke mulut, hidung, maupun mata balita melalui udara, kontak langsung dengan penderitanya, atau menyentuh permukaan yang sudah terkontaminasi virus.

Cara mengatasi bayi dan balita yang mengalami pilek adalah dengan menempatkannya di ruangan tanpa AC untuk mengurangi hidung tersumbat. Bunda juga dapat membersihkan cairan hidung atau lendir yang mengeras pada hidung, serta menepuk punggung dengan perlahan untuk membantu meringankan pernapasannya yang tersumbat.

Jenis penyakit pada balita ini memang tergolong ringan dan cara pencegahannya pun tidak terlalu sulit. Pastikan pula bahwa Si Kecil mengonsumsi makanan bernutrisi, lengkap dengan asupan cairan yang cukup. Si Kecil pun juga harus tidur dengan cukup.

Tindakan pencegahan lainnya adalah dengan memandikannya dengan air hangat, serta memberikan vitamin C sebagai tambahan.

8. Sakit Telinga

Kondisi sakit telinga umumnya disebabkan oleh adanya infeksi pada telinga bagian dalam, tengah, maupun luar. Infeksi tersebut bisa terjadi akibat bakteri atau jamur, kemasukan benda asing, penumpukan kotoran telinga, dan lainnya.

Penyakit pada balita ini kerap tidak disadari orangtua karena anak-anak, khususnya bayi dan balita yang belum mampu menjelaskan keluhan yang dirasakannya dengan baik. Akan tetapi, Bunda dapat mengetahui salah satu ciri anak balita yang mengalami sakit telinga apabila mereka sering kali memegang dan menarik-narik telinganya.

Pada kasus penyakit telinga dalam (otitis interna) Si Kecil bisa mengalami vertigo, telinga berdengung (tinnitus), muntah-muntah, hingga gangguan pendengaran.

Sementara untuk sakit telinga tengah (otitis media), hal ini juga bisa terjadi karena adanya masalah pada gendang telinga. Jika tidak segera diobati, sakit telinga tengah dapat menyebar ke area lain. Dampaknya,  Si Kecil bisa mengalami mastoiditis, yaitu infeksi pada tulang mastoid yang terletak di belakang telinga. Lebih parahnya lagi, risiko penyakit fatal dan mematikan pada anak seperti infeksi selaput otak (meningitis) juga bisa terjadi.

Oleh karena itu, segera periksakan ke dokter anak ataupun spesialis THT untuk menindaklanjutinya.

9. Kesulitan Bernapas

Ada macam-macam penyakit pada balita yang bisa menyerang anak usia dini. Tak melulu karena ISPA, kesulitan bernapas juga dapat menyerang Si Kecil. Pasalnya, saluran udara pada organ pernapasan yang dimiliki balita tergolong masih kecil.

Namun, orangtua juga perlu memastikan penyebab sesungguhnya dari kesulitan bernapas ini. Sebab, bisa saja Si Kecil memiliki penyakit asma bawaan maupun jenis penyakit kronis pada anak lainnya.

Apabila balita mengalami kesulitan bernapas, cobalah cara untuk mengatasinya dengan pertolongan pertama, seperti pursed-lip breathing, mengubah posisi duduk dengan ke depan dan sedikit membungkuk, berdiri menyandar dinding, maupun berbaring santai.

Pastikan Bunda telah memeriksakan Si Kecil ke dokter apabila sakit tidak kunjung sembuh. Hal tersebut  untuk mengantisipasi jenis penyakit kronis pada anak yang menjadi penyebab kesulitan bernapas lainnya.

10. Kejang (Konvulsi)

Salah satu penyakit berbahaya pada anak yang paling dikhawatirkan adalah kejang. Kejang atau konvulsi adalah kondisi medis saat otot tubuh mengalami fluktuasi kontraksi dan peregangan dengan sangat cepat sehingga menyebabkan gerakan yang tidak terkendali.

Kejang dapat diklasifikasikan menurut gejala yang timbul dan bagian otak yang terpengaruh. Penyebab kejang pada anak juga bisa diakibatkan oleh demam. Kondisi ini biasanya terjadi pada balita maupun anak berusia di bawah 4 tahun yang mengalami demam tinggi secara tiba-tiba.

Dikutip dari Klikdokter, dr. Bobtriyan Tanamas menyatakan bahwa ketika Si Kecil mengalami kejang berulang dalam 24 jam maka kemungkinan besar yang dialaminya adalah kejang demam kompleks. Kejang demam kompleks merupakan salah satu faktor risiko terjadinya epilepsi. 

Namun, Bunda tetap harus pastikan untuk melakukan diagnosis dengan pemeriksaan EEG untuk menilai apakah terdapat fokus epilepsi pada Si Kecil atau tidak. Dalam pemeriksaan EEG tersebut perlu dilakukan ketika Si Kecil justru ketika sedang tidak mengalami demam.

Cara mengatasi kejang pada anak yang sangat disarankan adalah dengan membawa Si Kecil mendapatkan perawatan insentif dari dokter ahli. Langkah tersebut merupakan yang paling aman untuk mengantisipasi diagnosa yang salah

Jangan menghentikan kejang secara paksa, memasukkan apapun ke mulut anak, atau memaksa anak untuk makan atau minum saat masih kejang. Dalam hal ini Bunda perlu mencatat durasi kejang yang dialami oleh Si Kecil, serta memastikannya tetap berenergi setelah kejang selesai.

11. Masalah Kulit Ruam

Ruam merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering terjadi pada anak. Penyakit pada balita ini dapat timbul akibat alergi, eksim dan juga infeksi kulit.

Namun, jenis penyebab ruam kulit yang mungkin terjadi lainnya pada anak adalah akibat cacar air, erythema multiforme, impetigo, keratosis pilaris atau kulit ayam, campak, moluskum kontagiosum, pityriasis rosea, biang keringat, psoriasis, kurap, kudis, demam berdarah, dan gatal-gatal.

Gejala ruam pada anak dapat berupa sakit atau rasa gatal pada kulit badan atau sekitar kelamin pada balita yang mengalami ruam popok. Ruam sendiri umumnya berupa bercak berwarna kemerahan.

Orangtua perlu mengetahui gejala atau riwayat terkait ruam agar dapat membantu menentukan penyebab ruam tersebut. Misalnya, riwayat gigitan kutu, penggunaan antibiotik tertentu, paparan lingkungan, ataupun imunisasi yang menjadi pemicu ruam. Dengan begitu, Bunda bisa mengetahui pula cara terbaik untuk mengatasi ruam pada bayi hingga anak balita.

12. Sakit Perut

Penyakit pada balita lainnya yang sering menyerang anak kecil adalah sakit perut. Sakit perut pada anak dapat disebabkan oleh sembelit (konstipasi) atau susah buang air besar.

Pada kasus lainnya, sakit perut juga dapat disebabkan oleh gastroenteritis dan juga rasa cemas berlebihan yang dialami Si Kecil.

Sebagai pertolongan pertama anak sakit perut, ibu bisa memberi Si Kecil minum banyak cairan, mengompres perutnya dengan air hangat, memberi makanan lembut, dan memberinya waktu yang lebih banyak untuk beristirahat.

Ibu juga bisa memberikan obat sakit perut untuk mengatasi penyakit pada balita ini. Namun, jika sakit perut pada anak tergolong parah atau bahkan disertai muntah, segera konsultasikan ke dokter.

13. Muntah

Muntah merupakan salah satu penyakit pada anak balita yang bisa disebabkan oleh infeksi seperti gastroenteritis, masuk angin, infeksi saluran kemih, maupun keracunan makanan.

Namun, penyebab penyakit pada balita muntah juga dapat tercetus akibat masalah struktural, seperti refluks atau stenosis pyloric.

Anda dapat memberikan pertolongan pertama apabila anak muntah terus-menerus dengan menjaga asupan cairan yang dikonsumsi. Utamakan pemberian air hangat agar Si Kecil dapat merasa lebih nyaman.

Cobalah juga untuk menghentikan makanan padat untuk sementara waktu. Bunda dapat menggantinya dengan memberikan jus buah agar nutrisi dan vitamin yang masuk ke tubuh tetap terjaga.

14. Sakit Gigi

Sakit gigi pada anak memang cukup merepotkan. Sebab, yang diatasi dari penyakit pada balita satu ini bukan hanya rasa sakit gigi saja, tapi juga situasi anak yang menjadi rewel akibat nyeri yang dirasakan. Rasa sakit ini dapat terasa ngilu apabila terkena makanan atau minuman dingin dan manis.

Pada kondisi yang lebih parah, nyeri akibat sakit gigi dapat berubah menjadi sakit berdenyut yang menimbulkan pusing bahkan sampai mengakibatkan pipi menjadi bengkak. 

Namun, Bunda tak perlu khawatir saat menghadapi penyakit pada balita ini. Untuk mengatasi sakit gigi pada Si Kecil, Bunda bisa membantunya untuk membersihkan sisa makanan di gigi, berkumur dengan larutan garam, dan menempelkan kompres dingin ke pipi luar anak di dekat daerah yang sakit atau bengkak untuk meredakan nyeri.

Pada kasus lainnya, cara mengobati sakit gigi berlubang pada anak dapat dilakukan dengan sesegera mungkin untuk dibawa ke dokter. Konsultasikan beragam gejala yang tengah dialami oleh Si Kecil agar dapat ditangani secara intensif.

15. Infeksi Kuku

Penyakit kuku pada anak balita dapat terjadi akibat bakteri atau jamur masuk ke dalam kulit di sekitar kuku yang sedang dalam keadaan luka, rusak, atau iritasi. Penyebab infeksi kuku yang paling sering terjadi dipicu oleh kebiasaan menghisap jari atau menggigit kuku.

Gejala dan ciri-ciri infeksi kuku ini ditandai dengan kulit yang memerah dan adanya pembengkakan yang terasa sakit di sekitar kuku.

Orangtua perlu mewaspadai infeksi kuku kronis yang tidak kunjung membaik atau terus berulang. Pasalnya, infeksi kuku kronis yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan kutikula kuku menjadi rusak. Jika memburuk, kuku bisa menjadi tebal, keras, berubah bentuk, dan bahkan terpisah dari kulit dalam jangka panjang.

16. Cacar Air

Gejala atau ciri cacar air terbilang khas, yaitu berupa bintik-bintik merah pada tubuh yang beberapa hari kemudian berubah menjadi benjolan-benjolan berisi air yang menyebar ke seluruh tubuh dan menimbulkan rasa gatal.

Sebagai cara mengobati dan mengatasi cacar air ibu bisa mengoleskan krim untuk membantu mengurangi rasa gatal. Sementara jika Si Kecil mengalami demam, cobalah untuk memberikan obat penurun panas.

Selama masa pemulihan, oleskan salep khusus yang menjadi salah satu cara terbaik untuk mengeringkan serta menghilangkan bekas cacar.

Pemberian vaksin cacar air akan mampu menangkal serangan penyakit pada balita ini secara efektif. Namun, perlu diperhatikan juga bahwa virus cacar air sangat mudah untuk menular. Maka dari itu, sebaiknya ibu tidak membawa balita keluar rumah sampai ia benar-benar sembuh.

17. Campak

Penyakit campak atau morbili yang disebabkan oleh virus dapat menimbulkan bercak-bercak merah yang menyebar ke seluruh tubuh Si Kecil.

Sebelum bercak kemerahan tersebut muncul, Si Kecil umumnya akan mengalami demam tinggi yang naik turun dan terkadang juga disertai diare. Setelah bercak merah sudah keluar, demam akan turun dengan sendirinya. Nantinya, bercak merah akan berubah warna menjadi kehitaman hingga akhirnya menghilang.

Bunda dapat melakukan pengobatan untuk menangani gejala yang timbul dengan memberikan obat penurun demam dan obat diare. Jika setelah satu hingga dua hari masa pengobatan, gejala-gejala yang membaik, Si Kecil cukup dirawat di rumah saja.

Namun, jika gejala-gejala campak tersebut tidak kunjung membaik setelah diberikan pengobatan, segera bawa Si Kecil ke rumah sakit.

Karena campak tergolong ke dalam penyakit menular, pastikan Si Kecil ditempatkan di tempat tersendiri agar mengurangi risiko penularan penyakit pada balita ini ke orang lain. Akan lebih baik lagi jika ibu melakukan pencegahan dengan memberikan imunisasi campak kepada Si Kecil.

Itulah 17 penyakit pada balita yang paling umum dialami. Dengan mengetahui beragam jenis, ciri-ciri, dan cara mengatasinya tentu akan memudahkan Bunda ketika Si Kecil mengalaminya. Selain itu, Bunda juga dapat mencari tahu berbagai informasi seputar penyakit pada balita melalui berbagai jurnal, buku kesehatan anak, hingga yang paling disarankan adalah tetap berkonsultasi pada dokter.

Milestone Lainnya