10 Dongeng Sebelum Tidur yang Mendidik untuk Si Kecil

Oleh: iMpulse Writer

22 Juli 2021

Apakah Bunda sedang mengupayakan agar Si Kecil dapat tidur sendiri? Atau mungkin tengah mencari kegiatan yang dapat membantu Si Kecil agar lebih mudah tidur? Ya, membacakan atau menceritakan dongeng sebelum tidur untuk Si Kecil bisa menjadi salah satu pilihan tepat.

Membacakan dongeng bagi Si Kecil tak hanya dapat memupuk kebiasaannya untuk rajin membaca, namun juga dapat menjadi alternatif jika anak memiliki kebiasaan mengedot atau mengempeng sebelum tidur. Hal ini bisa menjadi salah satu cara yang dapat orang tua coba sebagai bentuk pengalihan.

Tak hanya itu, menurut Sarah McGeown, dosen Psikologi Perkembangan di Universitas Edinburgh mengungkapkan bahwa membaca buku cerita dan bercerita dengan anak merupakan aktivitas bonding yang menyenangkan sekaligus dapat membangun kedekatan orang tua dan anak.

Namun, Bunda juga perlu mengetahui sekaligus mampu memilih dongeng yang tepat serta sesuai dengan usia Si Kecil. Hindari memilih cerita yang rumit karena pada anak umur 1 hingga 3 tahun, mereka belum mampu menangkap cerita yang kompleks karena keterbatasan bahasa.

Carilah dongeng sebelum tidur yang sederhana dan interaktif agar Si Kecil tertarik dengan isi sebuah cerita. Tak hanya itu, dengan pilihan dongeng sebelum tidur yang menarik juga mampu menambah wawasan sekaligus menanamkan nilai-nilai moral pada diri mereka. Seorang pendongeng tanah air bernama Agus DS dalam bukunya berjudul Tips Jitu Mendongeng mendefinisikan bahwa kegiatan mendongeng merupakan salah satu cara terbaik untuk menanamkan nilai luhur pada anak, media untuk belajar berbahasa, bernalar, serta berekspresi.

Bunda, berikut adalah beberapa contoh pilihan dongeng sebelum tidur yang cocok untuk Si Kecil. Coba bacakan dongeng-dongeng tersebut dengan lebih ekspresif. Misalnya dengan menirukan suara karakter yang cocok dengan cerita agar Si Kecil lebih tertarik dan mudah memahaminya.

1. Kisah Burung Bangau yang Angkuh

Alkisah, seekor burung bangau tengah berdiri di sebuah sungai. Di sungai tersebut ia sedang mencari makanannya, yaitu ikan. Namun, berbeda dari bangau lainnya, ternyata ia memang dikenal memiliki sifat yang tinggi hati.

Melihat ikan-ikan yang melimpah di sungai tersebut, membuatnya merasa bahwa ikan besarlah yang pantas ia makan. Sementara, ikan-ikan kecil tak dihiraukannya.

"Ah, hari ini aku tidak mau makan ikan-ikan yang kecil," katanya si Bangau dengan angkuh. 

"Lagipula, ikan dengan ukuran kecil seperti itu tidak pantas dimakan oleh burung bangau yang anggun sepertiku."

Tak lama kemudian datanglah seekor ikan yang berukuran sedikit lebih besar dari ikan lainnya. Namun dengan sifat angkuhnya, ia pun tetap tak menghiraukannya dan berharapa bahwa ia akan mendapatkan ikan yang lebih besar.

"Ah, tidak, aku tidak akan merepotkan diri sendiri hanya untuk membuka paruh dan memakan ikan tersebut, meski lebih besar dari ikan lainnya," ujar Si Bangau.

Tak lama kemudian, sore hari pun tiba. Matahari mulai meninggi, dan ikan-ikan yang berenang di sungai dangkal pun berenang ke tengah sungai yang lebih dalam dan dingin. Karena kesombongannya, Si Bangau pun tak mendapatkan ikan yang diharapkannya hingga sore harinya.

Si Bangau pun terpaksa harus puas dengan memakan siput kecil di pinggiran sungai untuk menuntaskan rasa laparnya.

Cerita dongeng sebelum tidur tentang burung bangau yang angkuh ini mengajarkan anak untuk tidak bersikap tinggi hati. Sebab, sifat tersebut hanya akan merugikan diri sendiri maupun orang lain di kemudian hari.

2. Si Kelinci yang Sombong dan Kura-kura

Dongeng sebelum tidur ini mengisahkan tentang seekor kelinci yang sombong. Ia merasa bahwa dirinya adalah binatang dengan kemampuan berlari paling cepat. Karena kesombongannya tersebut, suatu hari ia pun menantang kura-kura untuk lomba lari.

Kura-kura yang rendah hati itu pun menerima ajakan Si Kelinci tanpa tahu maksud buruk di belakangnya.

Si Kelinci sudah sangat yakin akan menang. Dengan semangat tinggi, ia mengabarkan ke seluruh penduduk hutan bahwa ia akan mengikuti lomba lari dengan kura-kura. Ia juga menyuruh seisi hutan untuk melihat kemenangannya dengan penuh kesombongan.

Di hari perlombaan, Si Kelinci melesat dengan cepat di awal. Sedangkan, kura-kura yang berjalan lambat terus berlari sebisa mungkin mengejar kelinci, namun dengan lebih santai.

Mendekati garis finish, Si Kelinci yang sombong memilih untuk tertidur sejenak di bawah pohon. Ia begitu yakin bahwa kura-kura tidak mungkin menyusulnya.

Namun, Si Kelinci tertidur pulas lebih lama dari yang ia rencanakan. Akhirnya, kura-kura pun menyusul dan memenangkan perlombaan tersebut.

Pesan moral dari cerita ini adalah seseorang tidak boleh meremehkan kemampuan siapapun. Jadi, Si Kecil bisa ditanamkan nilai untuk tetap tekun jika ingin memperoleh kemenangan.

3. Si Singa dan Si Tikus

Di sebuah hutan, hiduplah seekor tikus yang sangat jahil. Suatu hari, Si Tikus jahil tersebut tengah mengerjai Si Singa yang sedang tidur pulas. Si Tikus pun membangunkan Si Singa.

Tanpa disangka, Si Singa yang tengah tidur nyenyak pun sangat marah. Si Singa pun menangkap Si Tikus dan hendak memakannya. Namun, Si Tikus langsung menangis sambil memohon-mohon agar Si Singa memaafkannya.

Si Singa pun berbesar hati untuk memaafkan dan melepaskan Si Tikus. Sambil sedikit ketakutan, Si Tikus kemudian berterima kasih dan berjanji akan membalas kebaikan Si Singa suatu hari nanti.

Beberapa hari kemudian, Si Singa tertangkap jerat yang dipasang oleh para pemburu. Si Singa pun merasa sangat ketakutan akan dibunuh sambil menangis semalaman.

Mendengar tangis Si Singa, Si Tikus pun menghampiri. Ia melihat Si Singa yang pasrah sudah diam di dalam jerat tak berdaya.

Teringat akan kebaikan Si Singa, Si Tikus pun menggerogoti jaring tersebut hingga putus untuk membantu melepaskannya. Singa pun terbebas. Sejak saat itu, Si Singa dan Si Tikus pun bersahabat.

Pesan moral dari cerita ini adalah agar Si Kecil mengerti untuk tidak melupakan kebaikan orang lain. Bahkan, sebagai manusia, kita tidak perlu sungkan untuk membalas kebaikan tersebut.

4. Si Kancil dan Kawanan Buaya

Dongeng sebelum tidur ini menceritakan tentang seekor Kancil yang dikenal sebagai binatang cerdik di sebuah hutan.

Suatu hari, Si Kancil ingin menyebrangi sungai untuk mencari makanan di daratan sebelah. Namun, jembatan yang biasa dipakai untuk menyebrang pun rusak terkena badai yang terjadi semalam. Kancil yang kebingungan pun tiba-tiba memiliki ide.

Ia mencari Pak Buaya yang terkenal galak dan kejam. Dengan rasa takut, Si Kancil mendekati Pak Buaya. Tak disangka, Pak Buaya yang melihat Kancil malah menerkam kakinya

Kancil berteriak kaget dan memohon untuk tidak memakannya sekarang.

Si Buaya berhenti menggigit Si Kancil dan berkata, "Kenapa memangnya? Aku sangat lapar dan kamu terlihat sangat enak."

Kancil kemudian memohon untuk memberinya waktu beberapa jam untuk menggendutkan tubuh terlebih dahulu agar daging yang bisa dimakan menjadi lebih banyak dan Pak Buaya bisa lebih puas memakannya.

"Tidak, kamu pasti mau menipuku dan melarikan diri," tolak Pak Buaya.

"Aku berjanji, Pak Buaya. Bapak bisa memanggil teman-teman yang lain untuk menyantapku nanti. Dengan tubuh yang semakin besar, aku bisa dibagi-bagikan pada kawanan buaya lainnya. Namun, aku harus mencari makanan di seberang karena makanan di sini sudah sangat sedikit. Aku tidak bisa menggendut disini. Ada berapa banyak teman yang bapak punya?" tanya Si Kancil.

"Banyak sekali" ujar Pak Buaya. "Kalau begitu, coba panggil semuanya dan minta mereka berjajar supaya saya bisa menghitungnya. Jadi, aku bisa tahu akan dibagi berapa badan ini setelah gemuk nanti," kata Si Kancil pada Pak Buaya.

Buaya pun menuruti Si Kancil dan memanggil semua temannya. Setelah semua berkumpul dan berjajar, Si Kancil pun menaiki punggung kawanan buaya-buaya itu satu persatu sambil menghitungnya.

Kancil terus menaiki buaya hingga ke seberang sungai, dan berlari secepat mungkin untuk menghindari kawanan buaya tersebut sebelum ia menjadi santapan. Kawanan buaya itu pun merasa sangat bodoh dan menyadari bahwa mereka hanya ditipu oleh Si Kancil. Akhirnya Si Kancil pun berhasil menyeberang dan tidak menjadi santapan buaya-buaya itu.

5. Putri Berambut Merah dan Burung Berwarna Emas

Dongeng sebelum tidur ini menceritakan seorang princess atau putri cantik yang tinggal di sebuah kerajaan. Putri tersebut memiliki rambut merah panjang dan sangat menyukai mawar. Semua orang pun memanggilnya dengan nama Putri Bunga Mawar.

Setiap malam, Putri Bunga Mawar pergi ke balkon. Ia bertepuk tangan dan tak lama seekor burung emas tiba-tiba datang dan hinggap di bahunya. Seketika, rambut Si Putri pun mulai bersinar dengan cahaya merah cemerlang.

Ketika burung tersebut mulai melantunkan sebuah lagu, Putri Bunga Mawar pun ikut bernyanyi. Suara indahnya membuat semua orang di kerajaan tertidur dan bermimpi indah.

Hingga suatu hari, sesuatu yang mengerikan terjadi. Seorang penyihir datang dan mengutuknya. "Abrakadabra, simsalabim, semoga warna mawar redup!" kata penyihir itu. Rambut Putri Bunga Mawar pun langsung berubah menjadi hitam.

Malam itu, Putri Bunga Mawar kembali keluar di balkon dan bertepuk tangan. Tetapi ketika burung emas itu muncul, rambutnya bersinar hitam bukannya merah. Putri Bunga Mawar pun kembali menyanyikan lagu pengantar tidur. Saat semua orang di kerajaan tertidur, mereka malah bermimpi buruk.

Pada hari berikutnya, Putri Bunga Mawar pun merasa sedih dan bertanya kepada burung emas, "Bagaimana aku bisa membuat mimpi rakyat begitu manis lagi hingga fajar menyingsing?"

 

"Rambut hitam di air mawar," jawab Si Burung Emas.

Meski bertanya-tanya pada nasihat ini, Si Putri Bunga Mawar tetap mematuhinya. Ia mengisi baskom dengan air dan menaburkan kelopak mawar di permukaannya. Kemudian, ia mencelupkan rambutnya ke dalam air mawar, dan warna merah pada rambutnya pun telah kembali.

Penyihir jahat itu sangat marah karena kutukannya patah. Ia memutuskan untuk mengutuknya lagi. Kali ini, sang penyihir mengambil semua bunga mawar di seluruh kerajaan.

"Mari kita lihat bagaimana kamu akan mematahkan kutukanku sekarang!" dia mencibir, dipenuhi amarah.

Sekali lagi, Sang putri pun kembali merasa sedih dan bertanya kepada burung itu, "Katakan, burung emas, bagaimana aku bisa membuat mimpi rakyat begitu manis kembali?" "Rambut hitam di air mawar," jawab burung itu.

"Tapi di mana aku harus menemukan bunga mawar?" "Rambut hitam di air mawar," burung itu berkicau dan terbang menjauh.

Sang putri tidak tahu harus berbuat apa. Ia menangis hebat hingga salah satu air matanya jatuh ke tanah. Pada saat itu, seorang pangeran muda dan tampan datang dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beserta sehelai rambut merah dari dalamnya.

Pangeran membungkuk dan meletakkan rambut di atas air mata sang putri. Keajaiban pun terjadi. Tiba-tiba, rambut merah berubah menjadi mawar merah. Sang pangeran mengambil mawar dan membawanya ke sang putri.

Putri Bunga Mawar segera memetik kelopaknya untuk menambah air di baskom. Kemudian, dia mencelupkan rambutnya ke dalam, dan kutukan itu kembali patah.

Kemudian, Raja bertanya kepada pangeran, "Wahai Pangeran, di mana kamu menemukan rambut merah itu?"

"Ketika Putri Bunga Mawar dan hamba sama-sama masih menjadi anak-anak. Hamba mengambil sehelai rambut dari kepalanya sebagai tanda hamba padanya. Sebaliknya, Putri Bunga Mawar juga melakukan hal yang sama kepada hamba, sembari menarik sehelai rambut hamba sendiri."

Mengetahui bahwa kutukannya telah dipatahkan lagi, penyihir tiba-tiba meledak. Sejak saat itu, bunga mawar bermunculan di setiap taman di kerajaan. Setiap malam Putri bunga mawar menyanyikan lagu pengantar tidur yang semua orang tertidur dan bermimpi indah hingga fajar menyingsing.

6. Kawanan Semut dan Belalang

Di suatu hari yang panas, tinggalah seekor belalang duduk di atas pohon sambil menyanyi dan meminum air dingin. Di hadapannya, terlihat kawanan semut yang sibuk mengangkat bahan-bahan makanan dari tempat satu ke tempat yang lain.

Sembari bersantai, Belalang pun menyindir kawanan semut-semut tersebut. “Sungguh semut-semut yang aneh, di hari sepanas ini, masih saja bekerja. Lebih baik seperti aku, bersantai-santai sambil minum air dingin, berteduh di bawah rindangnya pohon,” ujar belalang sambil mengajak semut-semut untuk bergabung.

Kemudian, salah satu semut menjawab, "Kami harus mengumpulkan makanan. Jika tidak, kami akan kelaparan di musim dingin nanti. Lebih baik kamu juga mengumpulkan makananmu."

"Buat apa kumpulkan makanan dari sekarang? Musim dingin masih sangat lama, masih ada banyak waktu untuk mengumpulkannya. Aku mau bersantai saja," ujar Belalang tanpa mengindahkan ucapan semut.

Saat musim dingin tiba, salju tebal yang melapisi seluruh daerah membuat Belalang tidak bisa mendapatkan makanan. Belalang pun menangis meratapi nasibnya.

Akibatnya, sepanjang musim dingin, Belalang pun hidup dengan kelaparan. Sementara di akhir dongeng sebelum tidur ini, kawanan semut berpesta pora dengan makanan yang telah dikumpulkan selama musim panas.

7. Kisah Pohon Apel

Alkisah, ada sebuah pohon apel yang sangat besar dan rimbun. Buahnya banyak, manis, dan berwarna merah. Seorang anak kecil pun senang bermain di sekitar pohon itu.

Namun, semakin besar, anak kecil itu sudah tidak lagi bermain di sekitar pohon. Si Pohon Apel pun bersedih.

Suatu hari, anak kecil yang sudah tumbuh remaja itu datang ke tempat Pohon Apel. “Hai, kemarilah dan bermain-main di sekelilingku,” kata si Pohon Apel.

“Aku tidak sempat bermain. Aku kelaparan dan tidak memiliki uang. Aku tidak tahu harus berbuat apa,” ucap Si Anak.

“Kalau begitu, ambil saja semua buahku untuk kamu jual di pasar,” tawar si Pohon Apel. Si Anak senang sekali, mengambil semua pohon apel, dan menjualnya hingga ia bisa mendapatkan uang.

Setelah sekian lama, Si Anak tidak datang lagi dan membuat si Pohon Apel kesepian. Namun, beberapa tahun setelah itu, Si Anak kembali, dan pohon apel senang sekali dan mengajaknya kembali bermain di sekitarnya.

“Aku tidak punya waktu bermain, rumahku habis kebakaran, dan aku serta anak istriku tidak memiliki rumah lagi sekarang,” ujar Si Anak sedih.

“Kalau begitu, potong saja dahanku untuk dijadikan rumahmu,” ucap Si Pohon Apel. Si Anak gembira luar biasa dan langsung memotong habis batang pohon dengan hanya menyisakan sedikit batang serta akarnya.

Bertahun-tahun lamanya Si Anak tak kembali lagi. Si Pohon Apel benar-benar merasa kesepian. Namun, saat Si Anak datang, wajahnya sudah tua dan tubuhnya sudah bungkuk.

“Apa lagi yang kau butuhkan? Aku sudah tidak memiliki apa-apa. Buahku sudah habis, batangku pun sudah kau tebang. Aku hanya memiliki akar saat ini,” ucap Si Pohon Apel.

“Aku hanya membutuhkan sebagai tempat beristirahat untuk tempat tinggal abadiku. Aku memilih tempat ini di dekatmu karena kamu adalah teman terbaikku,” ungkap Si Anak.

Di akhir kisah dongeng sebelum tidur ini, Si Anak yang sudah menjadi kakek-kakek meninggal dunia dan dikuburkan di dekat pohon apel itu.

8. Kisah Pangeran Katak

Pada suatu malam yang indah, seorang putri tengah mengenakan topi dan bakiaknya. Ia pergi berjalan-jalan sendirian di hutan. Saat ia sampai di mata air dingin, ia kemudian duduk untuk beristirahat sebentar.

Ia memiliki mainan favorit berupa bola emas di tangannya. Ia melemparkannya begitu tinggi sehingga dia tidak bisa menangkapnya. Bola itu terbang pergi, berguling di atas tanah, hingga jatuh ke mata air.

Sang putri pun melihat bola yang masuk ke dalam aliran sungai tersebut, namun ia tidak bisa berbuat apapun karena air pada sungai tersebut sangatlah dalam. Ia pun merasa kehilangan, dan berkata, "Jika ada yang bisa mengambil bola milikku, aku akan memberikan semua pakaian dan perhiasan yang bagus, serta semua yang saya miliki di dunia," kata sang Putri.

Tiba-tiba, seekor katak mengeluarkan kepalanya dari air, dan berkata, "Putri, mengapa kamu menangis begitu sedih?" kata si Katak. "Katak, sayang! Apa yang bisa kamu lakukan untukku? Bola emasku jatuh ke sungai," kata Putri.

Katak itu pun berkata, "Aku tidak mau mutiara atau pakaian bagusmu. Namun, jika kamu akan mencintaiku, membiarkan aku hidup bersamamu, makan dari piring emasmu, dan tidur di tempat tidurmu, aku akan membawakan bolamu lagi."

“Aku yakin ia tidak akan pernah bisa keluar dari musim semi untuk mengunjungiku, meskipun dia mungkin bisa mendapatkan bola tersebut. Baiklah, aku akan memberitahunya bahwa dia akan mendapatkan apa yang dia minta," ungkap putri dalam hati. 

 

"Baiklah, jika kamu mau membawakan bolaku, aku akan melakukan semua yang kamu minta," kata Putri.

Kemudian katak itu pergi menyelam jauh di bawah air. Katak pun muncul lagi dengan bola di mulutnya dan melemparkannya ke tepi sungai.

Segera setelah putri melihat bolanya, ia berlari untuk mengambilnya. Namun, ia tidak pernah memikirkan katak, tetapi berlari pulang dengan secepat mungkin. Katak itu memanggilnya, "Tinggallah, dan bawa aku bersamamu seperti katamu," kata katak. Tapi putri tidak berhenti.

Keesokan harinya, putri mendengar suara aneh seperti ada yang naik di tangga. Ia mendengar ketukan di pintu dan sebuah suara kecil berteriak dan berkata, “Buka pintu, putriku sayang. Buka pintu untuk cinta sejatimu di sini! Ingat kata-kata yang kamu dan aku katakan di dekat air mancur, di bawah naungan greenwood.”

Sang putri pun berlari ke pintu dan membukanya. Setelah membukanya tampak seekor katak tengah berdiri di balik pintu tersebut. Ia sangat ketakutan. Kemudian, ia menutup pintu secepatnya dan kembali ke tempat duduknya.

Raja, ayahnya, melihat bahwa ada sesuatu yang membuatnya takut, bertanya apa masalahnya. "Ada katak jahat di pintu," katanya, “Aku mengatakan kepadanya bahwa dia harus tinggal bersamaku di sini, berpikir bahwa dia tidak akan pernah bisa keluar dari musim semi, tetapi ia ada di sana dan ingin masuk," kata Putri sangat panik.

Kemudian raja berkata kepada putri muda itu, "Seperti yang telah kamu katakan, kamu harus menepatinya. Jadi, pergilah dan biarkan ia masuk," kata sang Raja.

Putripun melakukannya. Katak itu melompat ke dalam ruangan, langsung meloncat naik hingga datang dekat ke meja di mana sang putri duduk.

Meskipun sangat tidak rela, putri kemudian mengangkatnya dan meletakkannya di atas bantal di tempat tidurnya sendiri. Begitu cahaya muncul, katak melompat dan keluar dari rumah. "Akhirnya dia pergi dan aku tidak akan bermasalah dengannya lagi," pikir sang Putri.

Tapi ia salah. Saat malam datang lagi, ia mendengar ketukan yang sama di pintu. Dan ketika sang Putri membuka pintu, katak masuk, dan tidur di atas bantal seperti sebelumnya, sampai pagi tiba.

Di malam ketiga, ia melakukan hal yang sama. Namun, ketika sang putri terbangun pada keesokan paginya, ia terkejut. Bukannya katak, justru ada seorang pangeran tampan yang menatapnya dengan sangat tulus.

Sang pangeran mengatakan bahwa ia diubah oleh seorang peri menjadi katak. Untuk kembali menjadi pangeran, ia harus bertemu dengan putri yang mau menikah dengannya. "Kamu telah menghancurkan kutukan ini. Sekarang aku tidak memiliki apa-apa untuk diharapkan, kecuali pergi bersamamu ke kerajaan ayahku. Aku akan menikahimu dan mencintaimu selamanya," katanya.

Mereka pun kemudian pergi ke kerajaan sang Pangeran dengan delapan kuda yang indah dengan penuh sukacita dan kegembiraan. Di akhir dongeng sebelum tidur yang romantis ini, mereka pun hidup bahagia.

9. Beruang dan Lebah

Suatu hari, ada seekor beruang yang sedang menjelajahi hutan untuk mencari buah-buahan. Ia menemukan pohon tumbang dengan sarang tempat lebah menyimpan madu.

Beruang itu pun mulai mengendus dengan hati-hati untuk mengetahui apakah kawanan lebah sedang berada dalam sarang tersebut.

Tiba-tiba, sekumpulan lebah pulang dengan membawa banyak madu. Lebah-lebah itu menyengatnya dengan tajam lalu lari bersembunyi ke dalam lubang batang pohon.

Beruang tersebut pun marah, loncat ke atas batang yang tumbang tersebut, dan dengan cakarnya menghancurkan sarang lebah. Namun, hal ini membuat seluruh kawanan lebah keluar dan menyerang sang Beruang.

Beruang yang malang itu pun lari terbirit-birit. Ia menyelamatkan dirinya dengan menyelam ke dalam air sungai.

Pesan moral yang dapat dipelajari dari kisah dongeng sebelum tidur tentang beruang dan lebah ini adalah seseorang harus lebih bijaksana untuk menahan diri. Si Kecil bisa belajar bahwa melampiaskan emosi yang tidak dikelola dengan baik justru bisa menambah masalah setelahnya.

10. Angsa dan Telur Emas

Pada suatu hari, hidupla seorang petani membawa seekor angsa pulang ke rumahnya. Esoknya, angsa tersebut mengeluarkan telur emas. Ia berpikir bahwa angsa tersebut adalah angsa ajaib. Petani pun segera membawa telur emas itu ke pedagang emas di pasar untuk mengetahui apakah telur tersebut benar-benar emas.

"Ini emas murni," kata pedagang emas. Pedagang tersebut membelinya dengan uang yang banyak.

Sejak saat itu, angsa mengeluarkan telur emas setiap hari. Kini, petani telah memiliki selusin telur emas. Namun, petani itu masih belum puas. "Aku akan kaya raya. Tapi, aku ingin angsa mengeluarkan lebih banyak telur emas setiap hari agar aku cepat kaya," kata petani.

"Aku tidak akan menunggu besok. Aku ingin cepat kaya. Aku akan menyembelih angsa itu dan mengambil seluruh emas dalam tubuhnya," pikir petani.

Petani itu pun akhirnya menyembelih angsa. Ia sangat kaget karena ia tidak menemukan satupun telur emas di dalam tubuh angsa.

Kini, petani hanya bisa menyesal karena sudah serakah. Andai saja ia tidak menyembelihnya, pasti ia masih bisa mendapatkan telur emas.

Dongeng sebelum tidur ini mengajarkan anak untuk tidak menjadi orang yang serakah. Sebab, demi meraih kesuksesan, diperlukan kerja keras dan kesabaran.

Ada banyak dongeng sebelum tidur yang dapat Bunda temukan lewat buku bacaan novel dongeng anak-anak. Bahkan, dongeng sebelum tidur di internet pun juga ada yang dilengkapi dengan suara, lirik, dan chord musik yang lucu hingga romantis. Selain kisah fabel, ada pula cerita menarik lainnya seperti kisah 1001 malam yang bisa dibacakan sebagai dongeng sebelum tidur.

Dengan membacakan Si Kecil tentang dongeng sebelum tidur, tentu akan bermanfaat dan diharapkan mampu meningkatkan kecerdasan anak di usia terbaiknya. Disamping itu, dongeng juga berperan penting dalam membentuk kecerdasan majemuk atau multiple intelligence anak. Melalui dongeng sebelum tidur, Si Kecil pun juga akan mendapatkan pelajaran penting yang dipetik dari cerita-cerita tersebut. Yuk, bacain dongeng sebelum tidur untuk Si Kecil, Bun!

 

Milestone Lainnya