Kembangkan Kecerdasan Emosional Anak Dengan Optimal

Oleh: Morinaga Platinum

Anak yang berkepribadian baik akan memiliki etika yang baik pula. Dan hal ini akan melandasi semua tindak tanduknya di masa mendatang. Tentunya Bunda sepakat, dong, dengan hal tersebut. Karena itulah, mengembangkan kecerdasan emosional anak dengan optimal penting dilakukan sejak usia dini.

Ternyata, kecerdasan anak tak hanya terdiri dari kecerdasan intelektual dan spiritual saja, Bunda. Ada aspek lainnya yaitu kreativitas dan juga emosional. Biasanya para orangtua menomorsatukan kecerdasan intelektual dan sedikit mengesampingkan kecerdasan emosional. Padahal, mengembangkan kecerdasan emosional adalah hal yang sangat penting dalam membentuk kepribadian seseorang. Dengan memiliki kepribadian baik, maka seseorang akan memiliki etika yang baik pula.

Karena harus dilakukan sejak dini, maka pengembangan kecerdasan emosional anak berawal dari rumah, yakni dari pola asuh orangtua. Ada empat jenis pola asuh orangtua, yaitu:

  • Authoritative yaitu pola asuh yang hangat namun tegas. Orangtua mendorong anaknya menjadi mandiri dan memiliki kebebasan, namun tetap memberi batas dan kontrol pada anaknya.
  • Authoritarian yaitu pola asuh yang menuntut kepatuhan yang tinggi. Orangtua lebih banyak menggunakan hukuman, batasan, kediktatoran, dan kaku.
  • Neglectful yaitu pola asuh di mana orangtua hanya menunjukkan sedikit komitmen dalam mengasuh anak, yang berarti mereka hanya memiliki sedikit waktu dan perhatian untuk anaknya.
  • Indulgent yaitu pola asuh yang cenderung  menerima dan lebih pasif dalam  kedisiplinan. Orangtua mengumbar cinta kasih, tidak menuntut, dan memberi kebebasan tinggi pada anak untuk bertindak sesuai keinginannya.

Dari keempat pola asuh di atas, pola asuh yang terbaik untuk membentuk kecerdasan emosional anak tentu pola asuh yang pertama yaitu authoritative. Pola asuh ini memberikan keseimbangan antara perhatian, pengertian, cinta kasih, dan kehangatan dengan ketegasan serta kedisplinan. Jika anak melakukan suatu hal yang positif, berikan pujian atau reward. Sebaliknya jika anak melakukan kesalahan, berikan konsekuensi yang sewajarnya. Jangan lupa, Bunda harus memberikan pemahaman kenapa hal tersebut penting diterapkan dalam keluarga.

Dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak, ada beberapa hal yang Bunda harus perhatikan, di antaranya:

  • Memahami sudut pandang. Anak bukanlah orang dewasa. Orangtua perlu memahami bahwa pola pikir dan sudut pandang anak akan berbeda dengan orangtua. Dengan memahami sudut pandang anak, Bunda akan lebih mudah untuk memberikan pengertian kepada anak, mengapa dia perlu atau tidak boleh melakukan suatu hal.
  • Walk the talk. Tidak diragukan lagi bahwa contoh perilaku akan lebih dahsyat imbasnya ketimbang orangtua hanya berbicara teorinya saja. Untuk mengembangkan kecerdasan emosional anak, tentunya Bunda juga harus memiliki kecerdasan emosional yang baik pula. Tunjukkan perilaku yang positif dan penuh tanggung jawab di mana pun Bunda berada.
  • Biarkan anak berekspresi dan dengarkan pendapatnya. Banyak orangtua yang meremehkan pendapat anak. Ini merupakan suatu kesalahan besar. Untuk membentuk anak dengan kecerdasan emosional yang baik, orangtua harus menjadi ‘telinga’ untuk mendengarkan pendapat anak ataupun curahan hatinya. Pertimbangkan keinginan anak, jika menurut Bunda memang sesuai maka ikuti; namun jika tidak sesuai, berikan pengertian yang baik kepada anak.
  • Ajarkan cara pemecahan masalah. Hal ini penting agar anak terbiasa memecahkan masalahnya sendiri dan menjadi mandiri. Ajarkan pada anak, alih-alih hanya komplain mengenai suatu hal, ia harus memikirkan solusinya dan menjadi bagian dari solusi tersebut.

Bagaimana Bunda? Tidak sulit kan? Penting sekali membentuk seorang anak dengan kecerdasan emosional yang baik sehingga ia memiliki kepribadian dan etika yang baik pula. Sudah terbukti bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi lebih disenangi dan lebih mudah mendapatkan posisi strategis, baik dalam masyarakat maupun dalam dunia profesional.

Artikel Lainnya