Tumbuh Kembang

Cara Menyapih Anak dengan Cinta

Morinaga Platinum - 2 Desember 2019

Ketika Si Kecil mulai beranjak menuju fase kanak-kanak, Bunda pastinya mulai berpikir untuk menyapihnya. Berdasar rekomendasi dari WHO serta Kementerian Kesehatan RI, proses pemberian ASI sebaiknya dilakukan saat Si Kecil berusia 0 hingga 6 bulan dengan ASI ekslusif dan dianjurkan untuk dilanjutkan hingga 24 bulan dengan didampingi makanan pendamping ASI (MPASI). Meski sebenarnya proses menyusui bisa tetap dilanjutkan selama Bunda serta bayinya sama-sama menginginkan, tentu tetap ada masa untuk menyapih Si Kecil. Ada banyak cara menyapih anak yang bisa Bunda lakukan.

 

Fase menyapih Si Kecil seringkali menjadi momok tersendiri di kalangan para Bunda. Hal ini tentu bukan tanpa alasan karena selama proses berlangsung sangat dibutuhkan kesabaran. Ini bisa menjadi salah satu momen perpisahan berat di antara Bunda dan Si Kecil. Bunda harus cermat dengan melihat kemampuan Si Kecil apakah ia sudah siap untuk disapih atau belum.

 

Tak jarang Bunda menyusui mengambil langkah pendek untuk melakukan proses cara menyapih anak seperti dengan mengolesi puting susu dengan brotowali, mencoreti payudara dengan spidol, menempelkan plaster luka, dan lainnya sehingga Si Kecil tidak mau menyusu. Namun, apakah cara demikian tepat untuk dilakukan?

Cara Menyapih Anak dengan Kasih

Seharusnya, masa menyapih Si Kecil tidaklah menjadi masa menyakitkan, baik bagi Bunda ataupun Si Kecil. Inilah mengapa Bunda bisa mempertimbangkan untuk melakukan proses menyapih Si Kecil dengan cara yang lembut dan penuh kasih tanpa ada tangisan, teriakan, amarah, bahkan diselimuti aksi tipu-tipu. Berikut ini beberapa cara menyapih anak dengan kasih yang bisa Bunda coba terapkan bersama Si Kecil.

 

1. Jalin Komunikasi

Tak jarang Bunda menganggap bahwa Si Kecil tidak akan paham bila diberikan pengertian tentang suatu hal. Jangan salah, walau usianya masih terbilang kecil, namun memberi pengertian tentang suatu hal menjadi hal penting untuk dilakukan. Tentu saja, pemberian pengertian kepada Si Kecil juga butuh kesabaran dan menggunakan bahasa yang sekiranya dipahaminya sehingga komunikasi pun bisa berjalan baik.

Bunda merupakan sosok yang paling dekat dan paham tentang kebiasaan menyusu Si Kecil. Berikanlah pengertian kepadanya bahwa saat ia sudah semakin besar, maka tak lagi baik bila terus menyusu. Dalam hal ini, Bunda bisa memberikan contoh bahwa Si Kecil yang sudah besar tidak menyusu lagi kepada Bundanya dan mereka minum dengan menggunakan gelas ataupun contoh lainnya. Selain itu, tunjukkan kepada Si Kecil bahwa meski tak lagi menyusu kepada Bundanya, kasih sayang serta perhatian Bunda kepada Si Kecil tak akan berkurang.

 

2. Kurangi Frekuensi Menyusu Si Kecil Perlahan

Setelah memberikan pengertian tentang masa menyapih pada Si Kecil, Bunda secara perlahan mengurangi bahkan menghindari untuk menawarkan menyusu kepada Si Kecil, namun ketika Si Kecil minta menyusu sebaiknya juga tidak menolak. Ini merupakan salah satu cara untuk bisa tetap menjaga kebutuhan dan emosi Si Kecil selama proses menyapih.

Secara bertahap, Bunda bisa mengurangi frekuensi menyusui setiap harinya. Bunda bisa memulainya dengan menghilangkan sesi menyusui yang paling tidak penting bagi Si Kecil dan menggantikannya dengan makan camilan. Bila satu sesi menyusui berhasil untuk dihilangkan, maka bisa melanjutkan dengan menghilangkan sesi berikutnya. Perlu diingat bahwa Si Kecil pastinya akan enggan untuk meninggalkan sesi menyusu yang paling disukainya seperti saat pagi ataupun malam hari.

Proses pengurangan frekuensi menyusu yang bertahap ini tak hanya berguna untuk kenyamanan Si Kecil, tetapi juga Bunda. Si Kecil tidak akan merasa tercabut secara paksa kebutuhan dan kedekatannya dengan Bunda saat proses menyapih berlangsung. Di sisi lain, Bunda bisa terhindar dari masalah pembengkakan payudara yang tentu membuat tak nyaman.

 

3. Alihkan Perhatian Si Kecil

Waktu menyusu merupakan momen yang paling menyenangkan bagi Si Kecil. Ini pula yang membuat proses menyapih pastinya membutuhkan proses dan kesabaran. Selama masa menyapih, Bunda sebaiknya mengantisipasi dengan mengalihkan perhatian Si Kecil. Misalnya, dengan menawarkan sesuatu yang lain dan disukai Si Kecil seperti camilan, permainan, ataupun lainnya. Bunda bisa menawarkan apapun sebelum Si Kecil mulai meminta menyusu kepada Bunda.

Lama masa menyusu merupakan keputusan Bunda dan Si Kecil. Bunda mungkin akan dihadapkan dengan kebiasaan ataupun pendapat dari orang-orang sekitar terkait masa menyusu serta proses menyapih. Namun, Bunda bisa mengingatkan kepada mereka bahwa keputusan untuk menyapih adalah sepenuhnya hak Bunda dan Si Kecil. Karena itu, cara menyapih anak juga jangan dilakukan dengan menggunakan paksaan atau cara yang terbilang cukup kasar.