Perawatan Anak

Bunda, Inilah 3 Kebiasaan Si Kecil Yang Bisa Merusak Gigi

Morinaga Platinum - 24 Januari 2019

Seiring bertambahnya usia, Si Kecil pasti memiliki kebiasaan tertentu dalam berperilaku, misalnya mengisap jari saat mau tidur atau ketika ia merasa tidak nyaman. Tentunya hal tersebut harus diperhatikan seksama agar tidak mengganggu pertumbuhan gigi dan kesehatan rongga mulutnya. Berikut 3 kebiasaan Si Kecil yang bisa memicu kerusakan gigi serta cara mengatasinya:

Minum Susu Dari Botol

Masalah gigi berlubang atau karies yang terjadi pada Si Kecil bisa disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah kebiasaan minum susu botol. Mengapa minum susu dari botol bisa menyebabkan gigi berlubang? Karies tersebut dipicu oleh pemberian larutan yang manis, seperti air susu yang cara pemberian, frekuensi serta intensitasnya kurang tepat.

Apabila Si Kecil tertidur dengan ASI atau cairan manis menggenang dalam mulutnya dan  belum tertelan sepenuhnya, ia berisiko terkena karies. Jika hal tersebut dibiarkan, gigi akan terasa nyeri sehingga Si Kecil sulit makan dan mengunyah.

Cara Mengatasi:

  • Untuk membuat Si Kecil tenang atau tidak menangis, hindarilah untuk memberikan botol, apalagi jika berisi minuman manis. Cukup berikan air dalam gelas.
  • Bersihkan sisa ASI atau susu pada mulut Si Kecil sebelum tidur.
  • Gunakan kasa basah untuk menyeka gigi dan gusi Si Kecil setelah makan. Hal ini dapat membantu menghilangkan plak dan bakteri.
  • Berkonsultasi kepada dokter mengenai kebutuhan fluoride Si Kecil. Fluoride sangat berguna untuk memperkuat email gigi.

Mengisap Jari

Pada dasarnya, mengisap jari merupakan hal normal untuk Si Kecil. Baginya, jempol atau jari adalah benda penghibur yang dapat memberikan rasa nyaman. Namun, jika kebiasaan ini tetap dilakukan hingga usianya di atas 5 tahun dapat menyebabkan beberapa kondisi tidak normal pada rongga mulut, terutama jika gigi permanen sudah mulai tumbuh.

Ada tiga hal yang paling menentukan tingkat keparahan masalah gigi dan mulut yang ditimbulkan oleh kebiasaan mengisap jari, yaitu intensitas, frekuensi dan durasi pengisapan. Tekanan dan posisi jari saat mengisap juga turut mempengaruhi. Risiko yang bisa terjadi adalah membuat langit-langit mulut berubah bentuk dan memengaruhi posisi gigi.

Cara Mengatasi:

Apabila Si Kecil masih mengisap jari lebih dari usia 4 tahun, maka Bunda dan Ayah disarankan untuk mulai melakukan pendekatan dengan cara:

  • Cari sebabnya. Perhatikan cara ia beradaptasi terhadap lingkungan sekitar. Faktor psikologis dapat menjadi faktor pencetus kebiasaan mengisap jari.
  • Hindari pemberian hukuman, karena ia akan makin menolak untuk menghentikan kebiasaan ini. Usahakan juga Si Kecil sadar dan tahu betul mengapa ia harus menghentikan kebiasaannya.
  • Buat catatan berisi keberhasilan Si Kecil tidak mengisap ibu jari.
  • Berikan penghargaan, bisa berupa pujian dan hadiah bila ia sudah berhasil menghilangkan kebiasaannya.

Apabila Si Kecil masih kesulitan untuk menghentikan kebiasaan tersebut, Bunda dapat melakukan trik berikut ini:

  • Jari diolesi bahan yang tidak enak (pahit) dan tidak berbahaya, misalnya temulawak. Ini diberikan pada waktu-waktu Si Kecil melakukan kebiasaannya mengisap jari.
  • Jari diberi satu atau dua plester antiair.

Jika kebiasaan ini bertahan hingga usia Si Kecil lebih dari 7 tahun, sebaiknya konsultasi dengan dokter gigi untuk menghentikan kebiasaan buruk tersebut. Dokter gigi akan membuat alat ortodonti untuk mencegah berkontaknya jari dengan langit-langit mulut sehingga kenikmatan mengisap jari akan terhalangi oleh alat tersebut. Perawatan ini baru dilakukan apabila metode pendekatan psikologis tidak berhasil.

Tongue Thrusting

Ini adalah kebiasaan menjulurkan lidah ke depan dan menekan gigi-gigi seri pada waktu istirahat, selama berbicara, atau menelan. Gerakan menelan dengan posisi lidah menjulur akan menyebabkan gigi seri terus-menerus terdorong ke arah depan—ke arah bibir—sehingga gigi seri akan terdorong maju. Kebiasaan ini bisa muncul karena adanya pembesaran amandel, bernapas melalui mulut, lengkung gigi atas yang menyempit, atau karena aspek psikologis.

Cara Mengatasi:

Segera berkonsultasi dengan dokter. Nantinya dokter akan melakukan serangkaian terapi dan perawatan, mulai dari mengontrol kebiasaan buruknya, ortodonsi hingga kemungkinan operasi apabila tingkat keparahannya tinggi.